Ali Sastroamidjojo; Mahasiswa 1923-1927

Membaca otobiografi Ali Sastroamidjojo seolah turut serta masuk dalam alam tahun 1920-an. Masa dimana negara Indonesia masih belum berwujud. Negara ini masih berstatus Hindia Belanda.

Tonggak-tonggak di Perjalananku, begitu tajuk buku terbitan PT. Kinta ini. Bercerita panjang lebar mulai dari lahirnya Ali Sastroamidjojo, hingga masa ia menjadi menteri dan duta besar. Dan pada bagian ini saya ingin menulis “semacam” resensi pada bagian Mahasiswa (1923 – 1927), masa dimana Ali menempuh masa kuliah hukum di Universitas Leiden, Belanda.

Berangkat dari Batavia (Jakarta) diakhir 1922, Ali Sastroamidjojo semula bertujuan mendaftar di Jurusan Sastra dan Kebudayaan Timur di Leiden. Namun dengan alasan waktu studi yang lama, Ali memutuskan untuk masuk jurusan hukum. Maka Ali mulai dengan kehidupannya sebagai mahasiswa.

Ali menceritakan ketertarikannya pada Perhimpunan Indonesia, dimana ia bertemu dengan beberapa “bakal tokoh” kelas Hatta, Iwa Kusumasumatri dan beberapa “bakal tokoh” lain.

Dalam tahun 1923 hingga 1927, merupakan bagian cerita menarik, dimana Ali dan kawan-kawan dengan jiwa mudanya memperjuangkan idealisme kemerdekaan Indonesia. Berjuang di tengah-tengah para londho di negeri belanda sana.  Menghadiri konferensi-konferensi demi kobarnya berita mengenai kekejaman pemerintahan kolonialis.

Bagian yang tak kalah menariknya adalah saat menjelang kelulusannya dari Leiden. Sehubungan penahanan Ali di tahun 1927 oleh pemerintah Belanda,  bersamaan dengan itu pula Ali harus menghadapi masa ujian kelulusan dari fakultas hukum. Jadi membayangkan bagaimana mahasiswa “pribumi” yang dalam masa tahanan, harus pula berjuang dengan kelulusannya. Barangkali kalo bukan mahasiswa yang tahan banting, pasti bakal mangkrak. :D Kegigihan Ali tersebut digelayuti oleh tanggung jawabnya karena sudah beranak istri.

Saya sendiri masih butuh menyadarkan diri dari rasa amazed karena membayangkan bagaimana mereka-mereka (Hatta, Ali dan kawan-kawan) tampil di pentas internasional dalam status mereka sebagai MAHASISWA. Sedangkan bejibun mahasiswa di tanah air yang melenakan status mahasiswa itu sendiri untuk “sesuatu” yang lain. hemm, another problem maybe.

Bagi siapa saja saat ini, tampaknya buku yang satu ini musti jadi “a must to read“. Kudu dibaca! Buku yang cetakan kesatunya terbit tahun 1974 dan setebal 595 halaman ini bener-bener asyik buat diikuti. Saya ngga mau bercerita panjang lebar, gak pakek lama, langsung cari dan baca! :) Walaupun buku lama, namun sebagai sebuah otobiografi dari tokoh nasional Ali Sastroamidjojo, rasanya ngga rugi dan perlu buat kita baca. [Afif E.]

Mencintai Lagu Kebangsaan Negeri

Baru saja pulang dari acara pelantikan pengurus OSIS, IPNU dan IPPNU MA Mambaul Ulum di Bedanten Kecamatan Bungah, Gresik. Satu hal yang menjadi titik perhatian saya. Saat sesi acara koor menyanyikan lagu Indonesia Raya, TIDAK ADA SATU MURID PUN YANG BERIDRI!!!!!

Barangkali dirijen lupa memberi isyarat agar hadirin berdiri, tapi kan minimal kita harus menghormati.

Ini adalah kali kedua saya menghadiri acara dimana lagu Indonesia Raya dinyanyikan, tapi hadirin banyak yang tidak berdiri. Dengan sedih saya harus mengatakan peristiwa pertama adalah saat saya mengikuti acara OSPEK di kampus saya sendiri. Hemm, :(

What!!!!!

Analogi pikiran saya langsung menuju ke ajang Piala Dunia yang baru saja dihajat oleh Afrika Selatan.

Suporter Italia dengan bangga menyanyikan lagu kebangsaan mereka. Lah barusan?!!!! bull shit.

Tidakkah kita melihat puluhan ribu suporter berdiri demi menghormati lagu kebangsaan mereka masing-masing!!!! Sementara murid-murid itu duduk (bahkan ketawa-ketiwi ngakak!) hemmm,,,

Barangkali jaman Orde Baru dengan Suharto sudah berakhir, tapi bukan berarti rasa memiliki kita luntur seluntur kultur orde lama.

Sikap hormat Kim Jung-Woo saat lagu kebangsaan Korea Selatan

Apa pelajaran Kewarganegaraan kita sudah sedemikian luntur? Apa memang masih dapat dipertimbangkan kewaganegaraan dihapus dari anak-anak? Hemm, big question.

See, bahkan suporter yang di belakang sono berdiri (kecuali yang reumatik! hahaha :D )

Dalam hati kecil dengan agak miris saya berdoa (entah terkabul apa tidak, hehehe) SEMOGA TIMNAS INDONESIA TIDAK AKAN PERNAH MASUK PIALA DUNIA, SEBELUM ANAK-ANAKNYA MENGHARGAI DAN MERASA MEMILIKI NEGERI MEREKA SENDIRI.

Kejem bener bikin doa. Hahahaha :D

saking keselnya, Bos! :)

Merawat Aset Masjid

Tanggal 28 September 2011 yang lalu sempat ikut rapat Ta’mir Masjid “KG”, sebagai observer (waduh, kayak yes banget… hahahaha :D ). Materi dalam rapat tersebut antara lain adalah mendengarkan hasil kerja dari bidang-bidang di bawah pengurusan ta’mir, selama dua tahun terakhir.

Yang paling mencengangkan bagi saya adalah pada bagian ASET MASJID. Masjid KG merupakan masjid yang berada di tengah-tengah masyarakat di sebuah ibukota kecamatan. Aset yang dimiliki banyak dan beragam, mulai dari sebidang tanah di daerah perbukitan hingga persawahan dan ladang, serta akses jalan.

Aset-aset tersebut didapatkan oleh Ta’mir Masjid dari wakaf para jamaah yang digunakan untuk kemakmuran masjid. Bagaimana pemanfaatan aset tersebut? Selama beberapa dekade terakhir, aset tersebut dimanfaatkan dengan cara disewakan. Seperti ladang, dan sawah, akan disewakan pada penduduk yang memerlukan, dengan angka sewa yang disepakati bersama.

Bahkan, ada tanah wakaf yang oleh pengurus masjid disewakan kepada penduduk untuk didirikan bangunan permanen macam rumah tinggal. Untuk jenis sewa dengan mendirikan bangunan seperti ini memiliki jangka waktu yang cukup lama, sekitar 20 tahun.

Permasalahnnya dimana? Permasalahan muncul dari kurangnya kesadaran pemahaman masyarakat akan pentingnya HITAM DI ATAS PUTIH! ternyata dari banyak aset yang ada, bukti berupa surat ataupun perjanjian masih banyak yang perlu untuk dibenahi. Hal ini menjadi catatan pengurus Ta’mir Masjid “KG” untuk membenahi pencatatan aset wakaf, agar tidak menjadi masalah dikemudian hari.

Sebagai pamungkas rapat malam itu, sekretaris Ta’mir mengatakan bahwa merawat aset masjid begitu pentingnya. Bisa dilihat bagaimana Pemkot Surabaya kesulitan merawat aset-asetnya. Bahkan orang NU sampai kehilangan aset berupa masjid dan tanah.

Semoga hal ini dapat dibenahi sejak dini! [Afif E.]

Konferensi Anak Cabang 2011

Di tanggal 25 September 2011 yang lalu sebuah hajatan di gelar di MA Manbaul Ulum Mojopuro Gede Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik. Hajatan tersebut adalah kepunyaan kami, segenap pengurus dan anggota Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PAC IPNU) dan PAC IPPNU Kecamatan Bungah. Dikatakan hajatan, karena memang hajatan. Hehehe… :)

Konferensi Anak Cabang, begitu tajuk acara tersebut. Menurut peraturan dasar dan peraturan rumah tangga organisasi yang berpusat di Jakarta ini, Konferensi Anak Cabang merupakan salah satu hajatan untuk mereformasi pengurus di tingkatan kecamatan. Hal ini tak berbeda jauh dengan teman kami yang berkecimpung di Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (baca; IPPNU).

Akhirnya… rasanya bisa terlepas dari tugas, amanat, dan “beban berat” (jika boleh dikata demikian) yang tak terasa kami kerjakan selama dua tahun terakhir. Benar-benar tidak terasa. Terbentuk dari hasil hajatan serupa di tahun 2009, akhirnya kami dapat menuntaskan tugas dan kewajiban yang lumayan (lagi-lagi) melelahkan. Jujur banget… hehehe:)

Barangkali itu di satu sisi. Apa itu? rasa lelah, rasa capek, beban dan rasa sumpek yang kami alami selama dua tahun terakhir. Tapi, justru dari dua tahun itulah kesempatan, pengalaman, serta cerita-cerita berharga dan tak ternilai dengan apapun juga kami dapatkan. Bagaimana dan harta macam apa yang dapat mengganti pengalaman itu? tentu tidak ada!(lebay:D )

Dua tahun yang telah kami jalani adalah masa dimana Gusti Allah telah menganugerahkan waktu untuk kami. Dan dengan segala kurang dan lebihnya, akhirnya kami dapat menuntaskan tugas dan amanah yang diberikan pada kami.

Terima kasih pada semua yang telah turut berperan dan aktif dalam langkah kami untuk berkarya dan menyumbangkan kontribusi bagi organisasi ini. Dan segala kesalahan dan ucapan-ucapan, umpatan-umpatan yang tak sengaja maupun disengaja keluar, kami mohon maaf untuk itu semua. Kita masih berteman!

Selamat Belajar, Berjuang dan Bertaqwa. [Afif E]

Berani Berbahasa Asing

Menarik perhatian saat membaca tulisan Rhenald Kasali di salah satu kolom Jawa Pos (Senin, 19 September 2011) di halaman 5. Sebagai seorang ekonom, wajar dia menyertakan judul “ekonomi” dalam tulisannya. Judul tulisan Kasali adalah “Ekonomi Bahasa Inggris.”

Artikel Rhenald Kasali Jawa Pos 19 September 2011

Inti dari tulisan Rhenald kurang lebih bahwa kita harus melatih terus kemampuan berbahasa asing kita. Tanpa mengurangi segala macam aturan dan Grammar, yang tak kalah penting adalah mempraktikkannya. Bicara langsung!

Membaca artikel Kasali tersebut, mengurangi rasa malu saya saat pergi ke Bali pada April 2010 lalu, rasa malu tapi lucu. Kenapa kok begitu? Here the story.

Di atas kapal penyeberangan, saya dan teman-teman naik ke dek kapal paling atas. Saya memilih menyandar pada pagar pembatas dek dan memandang ke luasan selat Bali. Tak berselang lama sepasang bule backpaker turut menyandar ke pembatas dek di dekat saya.

Pasangan laki perempuan—yang ketika saya tanya bukan suami istri itu—berbicara dengan bahasa ibu mereka. Terka saya mereka berbicara bahasa Perancis. Mengingat gaya bicara mereka yang menurut saya sengau dan bunyinya berada di bibir.

Dengan agak gerogi, kemudian saya menyapa si gadis yang memang berada di sebelah saya.

France, Miss?” waktu itu saya ragu apakah spelling saya sudah betul.

Yeah, and you?” si gadis Perancis bertanya balik.

I’m Indonesian. Javanese.

Banyak saya bertanya pada mereka berdua termasuk apakah mereka suami-istri(yang kemudian mereka mengelak dengan gaya ales. Hahahaha), termasuk keterangan bahwa mereka baru saja dari bromo.

Have you ever go to Bromo.” Si gadis Perancis bertanya.

Ups… hehehe, beberapa waktu terakhir saya pikir grammar saya gak karuan! :D

Barangkali mendapati jawaban yang kurang memuaskan serta dengan grammar yang ngga karuan, mereka berdua kembali bicara dalam bahasa Perancis. Barangkali menertawakan saya, wakakakakakak… :D

Tapi setelah membaca tulisan Kasali, semacam mendapat pencerahan, bahwa betapapun kita sudah menguasai grammar, yang penting adalah speak up alias berani ngomong. Grammar sudah tidak berguna jika kita tak berani bicara.

Lalu mana bagian lucunya?

Bagian lucunya adalah saat teman-teman saya bertanya, “Kok kamu pinter ngomong bahasa Inggris?”

Dalam hati saya menjawab sambil tertawa ngakak, “Grammar-nya salah semua!!!! :D

Hingga hari ini saya baru membuka lewat tulisan ini. Entah apa mereka membaca bagian ini. Hehehehe… [Afif E.]

Memasak Harisah

Pernah mendengar masakan yang bernama Harisah? atau malah paling doyan? Hehehe… :) Saya berkesempatan menuliskan kesempatan langka ini. Gak bakalan sering dimasak di tempat kami, di Bungah Gresik Jawa Timur. Paling banyak dimasak pada saat Haul KH. Sholih Tsani, sesepuh di Bungah Gresik.

Pertama-tama, siapkan bahan baku utama. Antara lain daging kambing, gandum, beras, dan beras ketan. Kemudian ada bumbu-bumbu. Daging kambing direbus dalam tungku, hingga HANCUR LEBUR menjadi BUBUR. Kisaran waktu daging hingga menjadi bubur adalah 3-4 jam, itu pun kadang-kadang daging belum lepas sepenuhnya dari tulang.

Gandum dan beras telah direndam dalam air semalam sebelumnya, sedangkan si beras ketan, sudah kita jadikan tepung.

Kambing. Jangan sampai anda mengatakan itu gambar Sapi, apalagi buaya. :D

Siapkan tenaga ekstra kuat! Kenapa? seperti halnya memasak jenang yang harus diaduk terus menerus, Harisah juga harus diaduk terus menerus agar tidak lengket di bagian bawah bejana. Dan adukannya terasa berat!

Daging Kambing. eits! jangan salah sangka, daging itu bukan daging kambing di atas. Hehehehe

Kencheng. Bejana dari besi, tempat untuk memasak Harisah.

Daging kambing tadi direbus selama berjam-jam.

Daging kambing direbus dalam kencheng, ditambahkan serai dan beberapa bumbu. Selang 3-4 jam kemudian, atau ketika daging sudah cukup lembut, gandum dan beras yang sudah direndam semalam sebelumnya, dimasukkan ke dalam kencheng.

Gandum yang sudah direndam semalam sebelumnya

Beras yang sudah direndam semalam sebelumnya

maka tibalah saat untuk mengaduk. Adik saya berpose di dekan kencheng berisi adonan harisah yang harus diaduk terus.

 

So much of sweat. Hahaha… asal keringatnya jangan sampek jatuh ke bejana. wkkkk :D

Adonan Harisah yang mulai jadi.

Jika Harisah sudah mulai jadi, maka… saatnya untuk memasukkan bumbu-bumbu! Hemm, nyummy

Dan bumbu-bumbu inilah yang menjadi penguat aroma harisah.

Dan saat harisah sudah jadi, maka kencheng diturunkan dari tungku, dan ditutup dengan daun pisang.

Dan harisah pun jadi… hemmm, yummy….

Harisah siap untuk disajikan dan dimakan. Hehehe

Maka jadilah harisah dengan aroma khas yang kuat berasal dari bumbu-bumbunya. Macam kapulaga dan bumbu beraroma kuat lainnya. A very rare experience of cooking Harisah. Hemm, lekker… [Afif E.]

Fethullah Gulen Bicara Takdir

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum tersebut mengubah dirinya.” QS. A-Rad (13): 11.

Sampul Buku

Berbicara mengenai buku hasil karya seorang cendekiawan Turki ini adalah sesuatu yang menarik. Bagaimanapun seringnya permasalahan takdir begitu sering diulas dan dibahas dalam berbagai majelis, namun penjelasan Fethullah Gulen yang begitu sederhana dalam menjelaskan kerumitan masalah takdir—atau barangkali terlalu menyederhanakan? Biar semua pembaca yang menilai—membuat kita tak sabar untuk sampai pada tiap-tiap penjelasan.

Buku setebal 211 halaman ini dimulai dengan ulasan menggugah bahwa betapa dalam kehidupan kita, sering kita temui pembahasan begitu banyak hal yang rumit dan bahkan tak jarang masalah keimanan kita sendiri secara berlebih-lebihan. Namun masalah takdir yang paling mendasar tidak pernah kita sentuh. Masih dalam bagian awal dari buku tersebut, terdapat ungkapan bahwa memahami diri kita sendiri, dalam hal ini takdir, membuat kita memahami siapa kita, tuhan kita dan sikap kita akan ketuhanan.

Dalam pembahasan yang lain, Gulen juga turut menyelipkan beberapa fenomena alam sederhana yang kadang kita tak sempat untuk memikirkannya. Apa itu? Macam siapakah yang mengajari lebah hingga mampu dan mahir dalam membuat ramuan yang bernama MADU? atau, siapakah yang mengajari semut-semut yang hidup berkoloni itu untuk mengumpulkan makanan dengan cara bergotong-royong? Penjelasan Gulen mengatakan bahwa semua itu tidak terlepas dari kehendak Allah SWT. Meskipun Gulen juga tidak menampik bahwa hanya orang-orang yang diberi petunjuk saja yang akan memahami bahwa rahasia alam tersebut adalah kuasa Allah SWT. Sedangkan yang terlalu mengandalkan akal akan berkata bahwa hal itu adalah ALAMI.

Ngga pengen berpanjang lebar, hanya satu kata bagi anda semua, It’s a must to read! :) [Afif E.]

Data Buku:

* Judul : Qadar; Di Tangan Siapakah Takdir atas Diri Kita?

*Penulis: Fethullah Gulen

*Penerjemah: Ibnu Ibrahim Baadillah

*Penerbit: Republika Penerbit

*Tahun Terbit: 2011

Hakikat Kitabevi (paket jilid 2)

Halaman Hakikat Kitabevi berbahasa Inggris

Ahey! dapat paketan lagi!!! Setidaknya begitu jika menggambarkan senangnya dapat paketan, untuk yang kedua kalinya. Untuk yang kali ini bukan sebagai hadiah ulang tahun, masa kan ulang tahun berulang kali! Hehehe … :)

Paketan kali ini dari Hakikat Kitabevi, sebuah lembaga apa penerbit ya? kok lupa. hehehe…:) dan ketika saya membuka situs lembaga tersebut, saya dapati bahwa buku-buku yang dikirimkan pada saya termasuk buku terbitan terbaru mereka! Ahey! hehehe… :)

Salah satu buku yang saya dapatkan berjudul Bahasa Inggris Endless Bliss; FIRST FASCICLE“. Dan saya diberi buku edisi kesebelas mereka.

Hakikat Kitabevi merupakan sebuah lembaga “nahdliyin” di Republik Turki. Dan buku-buku yang diterbitkan juga merupakan buku-buku yang beraliran Ahlussunnah wal jamaah(mohon dikoreksi kalo salah, :) ). Hemm, menambah hazanah dan ilmu dari belahan dunia lain.

Thanks to Hakikat Kitabevi for send me some books. And this article is I dedicate to Hakikat Kitabevi and all its crew and staff. Once again, thanks. Terima Kasih.

Berikut adalah alamat dan kontak dari Hakikat Kitabevi.

Hakikat Kitabevi 
Address: Darussefeka Caddesi No: 53 P.K.: 35   34083
Fatih / Istanbul / TURKIYE
Phone: +90 (212) 523 45 56 – 532 58 43   Fax: +90 (212) 523 36 93
E-Mail: 
bilgi@hakikatkitabevi.com

Ngelangkahi, Bilas, dan Pernikahan

Baru semalam mengantar Ibu ke rumah seseorang, biasa, masih dalam rangka hari raya Idul Fitri plus hari raya kupatan. Layaknya sebagai seorang pengantar, I was a good listener to every single topics of conversation. hahaha… :D

Sebenarnya ngalor ngidul topik yang dibahas antara Ibu dan orang yang dikunjungi. Sampailah pada topik tentang pernikahan. Aku juga heran, kok bisa nyantol ke bahasan soal nikah ya? Whatever, tapi berikut adalah sedikit ringkasan ceritanya.

Dalam beberapa kepercayaan bagi sebagian masyarakat Jawa, seorang adik yang mendahului kakaknya dalam menikah, ada unggah ungguh di dalamnya. Satu; bagi beberapa pihak, pernikahan si adik yang mendahului kakaknya akan menjadi semacam “pancingan”, maksudnya, tidak berapa lama kemudian si kakak akan segera menyusul.

Dua; kalo memang si adik laki-laki mendahului kakak laki-laki, maka setelah si kakak menikah, si adik harus melakukan bilas. Apa itu bilas? adalah si adik melakukan pernikahan ulang, dengan mas kawin dan mendatangkan Modin, sebagaimana pernikahan yang masih baru. Jika tidak melakukannya? Bagi yang percaya, si adik akan mengalami kesusahan. Kok bisa? ya, entahlah. Kalau anda percaya yang bagaimana? [Afif E.]

Menggambarkan Finlandia

Portraying Finland

Membaca salah satu buku dari paket kedutaan Finlandia, berjudul Portraying Finland, menarik untuk mengetahui lebih jauh. Buku yang berisi kumpulan artikel dari beberapa penulis itu mengulas banyak hal tentang Finlandia. Mulai dari sejarah, kultur dan budaya, ekonomi dan masih banyak lagi.

Salah satu bagian yang cukup menarik bagi saya antara lain mengenai larangan minum-minum, atau kurang lebih begitu. Silakan dikoreksi terjemahan saya, di halaman 63 ada bagian yang menjelaskan bahwa di tahun 1932 terdapat aturan mengenai larangan minum-minum. Minum-minum dipandang sebagai masalah sosial! eh, beneran toh? nih kutipannya, monggo dikoreksi terjemahan kasar saya. :)

The new law on alcoholic beverages introduced in 1932 did little to alter this mind-set as it was still close to prohibition. Drinking was viewed as a social problem and a matter of law and order …

Potongan artikel di atas adalah tulisan Laura Kolbe, Ph.D., seorang profesor di Departemen Sejarah Universitas Helsinki.

Membaca lebih jauh, ada yang lebih menarik lagi. Kali ini soal ekonomi. Dalam ulasan soal ekonomi, yang banyak “berbicara” adalah Jyrki Vesikansa, Lic.Pol.Sc., seorang jurnalis.

Biasa… kalo soal duit-duit gini bacanya jadi agak nyantol… :D

Dalam tahapan sekarang, saya baru bisa menyimpulkan bahwa insentif-insentif yang diberikan oleh Pemerintah Finlandia pada warganya begitu menggiurkan. Dari segala sisi kayaknya kok warga Finland banyak mendapat kemudahan dari sisi finansial. Or just my own imagination? :)

Hal ini dapat dipahami karena latar belakang ekonomi Finlandia yang telah sekian tahun bergulat dan akhirnya mencapai sukses di tahun-tahun ini. Pergulatan itu antara lain saat masa perang dunia I dan II. Hingga masa munculnya Nokia sebagai merek dagang yang paling depan, hingga buku ini ditulis.

Entah bagaimana kabar terbaru di sana setelah Eropa pada tahun-tahun belakangan diguncang krisis.

Saking OK-nya insentif yang diberikan, Vesikansa bahkan menuliskan sebuah ungkapan begini, “To be born a Finn is like winning a lotery“. Weleh-weleh, lahir sebagai seorang Finlandia bak memenangkan lotre! tenan ta kuwi??

Membaca berkali-kali ungkapan yang ditulis Vesikansa, jadi ingat pelajaran saat di bangku sekolah. Masih ingat dengan ungkapan, kita harus bersyukur lahir sebagai manusia Indonesia yang kaya akan alam dan sumber daya yang berlimpah. Kayaknya para pemimpin Indonesia harus berpikir ulang agar tidak sekedar menjual slogan. :)

Bagaimanapun juga, Finlandia dengan capaian dan kemajuan negaranya saat ini, tidaklah dicapai dengan waktu singkat. Finlandia telah bergulat dengan banyak hal dan tantangan alamnya. Bukankah Indonesia juga harus punya semangat itu? [Afif E.]

 

Informasi tentang buku:

Judul: Portraying Finland (Second, revised edition)

Editorial Board: Laura Kolbe (Editor-in_chief), Juha Parikka, Liisa Suvikumpu(Picture Editor), Eva Reenpaa, Marita Jaakkola

Penerbit: Otava Publishing Company Ltd

Kota Terbit: Helsinki