Konferensi Anak Cabang 2011

Di tanggal 25 September 2011 yang lalu sebuah hajatan di gelar di MA Manbaul Ulum Mojopuro Gede Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik. Hajatan tersebut adalah kepunyaan kami, segenap pengurus dan anggota Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PAC IPNU) dan PAC IPPNU Kecamatan Bungah. Dikatakan hajatan, karena memang hajatan. Hehehe… :)

Konferensi Anak Cabang, begitu tajuk acara tersebut. Menurut peraturan dasar dan peraturan rumah tangga organisasi yang berpusat di Jakarta ini, Konferensi Anak Cabang merupakan salah satu hajatan untuk mereformasi pengurus di tingkatan kecamatan. Hal ini tak berbeda jauh dengan teman kami yang berkecimpung di Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (baca; IPPNU).

Akhirnya… rasanya bisa terlepas dari tugas, amanat, dan “beban berat” (jika boleh dikata demikian) yang tak terasa kami kerjakan selama dua tahun terakhir. Benar-benar tidak terasa. Terbentuk dari hasil hajatan serupa di tahun 2009, akhirnya kami dapat menuntaskan tugas dan kewajiban yang lumayan (lagi-lagi) melelahkan. Jujur banget… hehehe:)

Barangkali itu di satu sisi. Apa itu? rasa lelah, rasa capek, beban dan rasa sumpek yang kami alami selama dua tahun terakhir. Tapi, justru dari dua tahun itulah kesempatan, pengalaman, serta cerita-cerita berharga dan tak ternilai dengan apapun juga kami dapatkan. Bagaimana dan harta macam apa yang dapat mengganti pengalaman itu? tentu tidak ada!(lebay:D )

Dua tahun yang telah kami jalani adalah masa dimana Gusti Allah telah menganugerahkan waktu untuk kami. Dan dengan segala kurang dan lebihnya, akhirnya kami dapat menuntaskan tugas dan amanah yang diberikan pada kami.

Terima kasih pada semua yang telah turut berperan dan aktif dalam langkah kami untuk berkarya dan menyumbangkan kontribusi bagi organisasi ini. Dan segala kesalahan dan ucapan-ucapan, umpatan-umpatan yang tak sengaja maupun disengaja keluar, kami mohon maaf untuk itu semua. Kita masih berteman!

Selamat Belajar, Berjuang dan Bertaqwa. [Afif E]

Berani Berbahasa Asing

Menarik perhatian saat membaca tulisan Rhenald Kasali di salah satu kolom Jawa Pos (Senin, 19 September 2011) di halaman 5. Sebagai seorang ekonom, wajar dia menyertakan judul “ekonomi” dalam tulisannya. Judul tulisan Kasali adalah “Ekonomi Bahasa Inggris.”

Artikel Rhenald Kasali Jawa Pos 19 September 2011

Inti dari tulisan Rhenald kurang lebih bahwa kita harus melatih terus kemampuan berbahasa asing kita. Tanpa mengurangi segala macam aturan dan Grammar, yang tak kalah penting adalah mempraktikkannya. Bicara langsung!

Membaca artikel Kasali tersebut, mengurangi rasa malu saya saat pergi ke Bali pada April 2010 lalu, rasa malu tapi lucu. Kenapa kok begitu? Here the story.

Di atas kapal penyeberangan, saya dan teman-teman naik ke dek kapal paling atas. Saya memilih menyandar pada pagar pembatas dek dan memandang ke luasan selat Bali. Tak berselang lama sepasang bule backpaker turut menyandar ke pembatas dek di dekat saya.

Pasangan laki perempuan—yang ketika saya tanya bukan suami istri itu—berbicara dengan bahasa ibu mereka. Terka saya mereka berbicara bahasa Perancis. Mengingat gaya bicara mereka yang menurut saya sengau dan bunyinya berada di bibir.

Dengan agak gerogi, kemudian saya menyapa si gadis yang memang berada di sebelah saya.

France, Miss?” waktu itu saya ragu apakah spelling saya sudah betul.

Yeah, and you?” si gadis Perancis bertanya balik.

I’m Indonesian. Javanese.

Banyak saya bertanya pada mereka berdua termasuk apakah mereka suami-istri(yang kemudian mereka mengelak dengan gaya ales. Hahahaha), termasuk keterangan bahwa mereka baru saja dari bromo.

Have you ever go to Bromo.” Si gadis Perancis bertanya.

Ups… hehehe, beberapa waktu terakhir saya pikir grammar saya gak karuan! :D

Barangkali mendapati jawaban yang kurang memuaskan serta dengan grammar yang ngga karuan, mereka berdua kembali bicara dalam bahasa Perancis. Barangkali menertawakan saya, wakakakakakak… :D

Tapi setelah membaca tulisan Kasali, semacam mendapat pencerahan, bahwa betapapun kita sudah menguasai grammar, yang penting adalah speak up alias berani ngomong. Grammar sudah tidak berguna jika kita tak berani bicara.

Lalu mana bagian lucunya?

Bagian lucunya adalah saat teman-teman saya bertanya, “Kok kamu pinter ngomong bahasa Inggris?”

Dalam hati saya menjawab sambil tertawa ngakak, “Grammar-nya salah semua!!!! :D

Hingga hari ini saya baru membuka lewat tulisan ini. Entah apa mereka membaca bagian ini. Hehehehe… [Afif E.]

Memasak Harisah

Pernah mendengar masakan yang bernama Harisah? atau malah paling doyan? Hehehe… :) Saya berkesempatan menuliskan kesempatan langka ini. Gak bakalan sering dimasak di tempat kami, di Bungah Gresik Jawa Timur. Paling banyak dimasak pada saat Haul KH. Sholih Tsani, sesepuh di Bungah Gresik.

Pertama-tama, siapkan bahan baku utama. Antara lain daging kambing, gandum, beras, dan beras ketan. Kemudian ada bumbu-bumbu. Daging kambing direbus dalam tungku, hingga HANCUR LEBUR menjadi BUBUR. Kisaran waktu daging hingga menjadi bubur adalah 3-4 jam, itu pun kadang-kadang daging belum lepas sepenuhnya dari tulang.

Gandum dan beras telah direndam dalam air semalam sebelumnya, sedangkan si beras ketan, sudah kita jadikan tepung.

Kambing. Jangan sampai anda mengatakan itu gambar Sapi, apalagi buaya. :D

Siapkan tenaga ekstra kuat! Kenapa? seperti halnya memasak jenang yang harus diaduk terus menerus, Harisah juga harus diaduk terus menerus agar tidak lengket di bagian bawah bejana. Dan adukannya terasa berat!

Daging Kambing. eits! jangan salah sangka, daging itu bukan daging kambing di atas. Hehehehe

Kencheng. Bejana dari besi, tempat untuk memasak Harisah.

Daging kambing tadi direbus selama berjam-jam.

Daging kambing direbus dalam kencheng, ditambahkan serai dan beberapa bumbu. Selang 3-4 jam kemudian, atau ketika daging sudah cukup lembut, gandum dan beras yang sudah direndam semalam sebelumnya, dimasukkan ke dalam kencheng.

Gandum yang sudah direndam semalam sebelumnya

Beras yang sudah direndam semalam sebelumnya

maka tibalah saat untuk mengaduk. Adik saya berpose di dekan kencheng berisi adonan harisah yang harus diaduk terus.

 

So much of sweat. Hahaha… asal keringatnya jangan sampek jatuh ke bejana. wkkkk :D

Adonan Harisah yang mulai jadi.

Jika Harisah sudah mulai jadi, maka… saatnya untuk memasukkan bumbu-bumbu! Hemm, nyummy

Dan bumbu-bumbu inilah yang menjadi penguat aroma harisah.

Dan saat harisah sudah jadi, maka kencheng diturunkan dari tungku, dan ditutup dengan daun pisang.

Dan harisah pun jadi… hemmm, yummy….

Harisah siap untuk disajikan dan dimakan. Hehehe

Maka jadilah harisah dengan aroma khas yang kuat berasal dari bumbu-bumbunya. Macam kapulaga dan bumbu beraroma kuat lainnya. A very rare experience of cooking Harisah. Hemm, lekker… [Afif E.]

Fethullah Gulen Bicara Takdir

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum tersebut mengubah dirinya.” QS. A-Rad (13): 11.

Sampul Buku

Berbicara mengenai buku hasil karya seorang cendekiawan Turki ini adalah sesuatu yang menarik. Bagaimanapun seringnya permasalahan takdir begitu sering diulas dan dibahas dalam berbagai majelis, namun penjelasan Fethullah Gulen yang begitu sederhana dalam menjelaskan kerumitan masalah takdir—atau barangkali terlalu menyederhanakan? Biar semua pembaca yang menilai—membuat kita tak sabar untuk sampai pada tiap-tiap penjelasan.

Buku setebal 211 halaman ini dimulai dengan ulasan menggugah bahwa betapa dalam kehidupan kita, sering kita temui pembahasan begitu banyak hal yang rumit dan bahkan tak jarang masalah keimanan kita sendiri secara berlebih-lebihan. Namun masalah takdir yang paling mendasar tidak pernah kita sentuh. Masih dalam bagian awal dari buku tersebut, terdapat ungkapan bahwa memahami diri kita sendiri, dalam hal ini takdir, membuat kita memahami siapa kita, tuhan kita dan sikap kita akan ketuhanan.

Dalam pembahasan yang lain, Gulen juga turut menyelipkan beberapa fenomena alam sederhana yang kadang kita tak sempat untuk memikirkannya. Apa itu? Macam siapakah yang mengajari lebah hingga mampu dan mahir dalam membuat ramuan yang bernama MADU? atau, siapakah yang mengajari semut-semut yang hidup berkoloni itu untuk mengumpulkan makanan dengan cara bergotong-royong? Penjelasan Gulen mengatakan bahwa semua itu tidak terlepas dari kehendak Allah SWT. Meskipun Gulen juga tidak menampik bahwa hanya orang-orang yang diberi petunjuk saja yang akan memahami bahwa rahasia alam tersebut adalah kuasa Allah SWT. Sedangkan yang terlalu mengandalkan akal akan berkata bahwa hal itu adalah ALAMI.

Ngga pengen berpanjang lebar, hanya satu kata bagi anda semua, It’s a must to read! :) [Afif E.]

Data Buku:

* Judul : Qadar; Di Tangan Siapakah Takdir atas Diri Kita?

*Penulis: Fethullah Gulen

*Penerjemah: Ibnu Ibrahim Baadillah

*Penerbit: Republika Penerbit

*Tahun Terbit: 2011

Hakikat Kitabevi (paket jilid 2)

Halaman Hakikat Kitabevi berbahasa Inggris

Ahey! dapat paketan lagi!!! Setidaknya begitu jika menggambarkan senangnya dapat paketan, untuk yang kedua kalinya. Untuk yang kali ini bukan sebagai hadiah ulang tahun, masa kan ulang tahun berulang kali! Hehehe … :)

Paketan kali ini dari Hakikat Kitabevi, sebuah lembaga apa penerbit ya? kok lupa. hehehe…:) dan ketika saya membuka situs lembaga tersebut, saya dapati bahwa buku-buku yang dikirimkan pada saya termasuk buku terbitan terbaru mereka! Ahey! hehehe… :)

Salah satu buku yang saya dapatkan berjudul Bahasa Inggris Endless Bliss; FIRST FASCICLE“. Dan saya diberi buku edisi kesebelas mereka.

Hakikat Kitabevi merupakan sebuah lembaga “nahdliyin” di Republik Turki. Dan buku-buku yang diterbitkan juga merupakan buku-buku yang beraliran Ahlussunnah wal jamaah(mohon dikoreksi kalo salah, :) ). Hemm, menambah hazanah dan ilmu dari belahan dunia lain.

Thanks to Hakikat Kitabevi for send me some books. And this article is I dedicate to Hakikat Kitabevi and all its crew and staff. Once again, thanks. Terima Kasih.

Berikut adalah alamat dan kontak dari Hakikat Kitabevi.

Hakikat Kitabevi 
Address: Darussefeka Caddesi No: 53 P.K.: 35   34083
Fatih / Istanbul / TURKIYE
Phone: +90 (212) 523 45 56 – 532 58 43   Fax: +90 (212) 523 36 93
E-Mail: 
bilgi@hakikatkitabevi.com

Ngelangkahi, Bilas, dan Pernikahan

Baru semalam mengantar Ibu ke rumah seseorang, biasa, masih dalam rangka hari raya Idul Fitri plus hari raya kupatan. Layaknya sebagai seorang pengantar, I was a good listener to every single topics of conversation. hahaha… :D

Sebenarnya ngalor ngidul topik yang dibahas antara Ibu dan orang yang dikunjungi. Sampailah pada topik tentang pernikahan. Aku juga heran, kok bisa nyantol ke bahasan soal nikah ya? Whatever, tapi berikut adalah sedikit ringkasan ceritanya.

Dalam beberapa kepercayaan bagi sebagian masyarakat Jawa, seorang adik yang mendahului kakaknya dalam menikah, ada unggah ungguh di dalamnya. Satu; bagi beberapa pihak, pernikahan si adik yang mendahului kakaknya akan menjadi semacam “pancingan”, maksudnya, tidak berapa lama kemudian si kakak akan segera menyusul.

Dua; kalo memang si adik laki-laki mendahului kakak laki-laki, maka setelah si kakak menikah, si adik harus melakukan bilas. Apa itu bilas? adalah si adik melakukan pernikahan ulang, dengan mas kawin dan mendatangkan Modin, sebagaimana pernikahan yang masih baru. Jika tidak melakukannya? Bagi yang percaya, si adik akan mengalami kesusahan. Kok bisa? ya, entahlah. Kalau anda percaya yang bagaimana? [Afif E.]

Menggambarkan Finlandia

Portraying Finland

Membaca salah satu buku dari paket kedutaan Finlandia, berjudul Portraying Finland, menarik untuk mengetahui lebih jauh. Buku yang berisi kumpulan artikel dari beberapa penulis itu mengulas banyak hal tentang Finlandia. Mulai dari sejarah, kultur dan budaya, ekonomi dan masih banyak lagi.

Salah satu bagian yang cukup menarik bagi saya antara lain mengenai larangan minum-minum, atau kurang lebih begitu. Silakan dikoreksi terjemahan saya, di halaman 63 ada bagian yang menjelaskan bahwa di tahun 1932 terdapat aturan mengenai larangan minum-minum. Minum-minum dipandang sebagai masalah sosial! eh, beneran toh? nih kutipannya, monggo dikoreksi terjemahan kasar saya. :)

The new law on alcoholic beverages introduced in 1932 did little to alter this mind-set as it was still close to prohibition. Drinking was viewed as a social problem and a matter of law and order …

Potongan artikel di atas adalah tulisan Laura Kolbe, Ph.D., seorang profesor di Departemen Sejarah Universitas Helsinki.

Membaca lebih jauh, ada yang lebih menarik lagi. Kali ini soal ekonomi. Dalam ulasan soal ekonomi, yang banyak “berbicara” adalah Jyrki Vesikansa, Lic.Pol.Sc., seorang jurnalis.

Biasa… kalo soal duit-duit gini bacanya jadi agak nyantol… :D

Dalam tahapan sekarang, saya baru bisa menyimpulkan bahwa insentif-insentif yang diberikan oleh Pemerintah Finlandia pada warganya begitu menggiurkan. Dari segala sisi kayaknya kok warga Finland banyak mendapat kemudahan dari sisi finansial. Or just my own imagination? :)

Hal ini dapat dipahami karena latar belakang ekonomi Finlandia yang telah sekian tahun bergulat dan akhirnya mencapai sukses di tahun-tahun ini. Pergulatan itu antara lain saat masa perang dunia I dan II. Hingga masa munculnya Nokia sebagai merek dagang yang paling depan, hingga buku ini ditulis.

Entah bagaimana kabar terbaru di sana setelah Eropa pada tahun-tahun belakangan diguncang krisis.

Saking OK-nya insentif yang diberikan, Vesikansa bahkan menuliskan sebuah ungkapan begini, “To be born a Finn is like winning a lotery“. Weleh-weleh, lahir sebagai seorang Finlandia bak memenangkan lotre! tenan ta kuwi??

Membaca berkali-kali ungkapan yang ditulis Vesikansa, jadi ingat pelajaran saat di bangku sekolah. Masih ingat dengan ungkapan, kita harus bersyukur lahir sebagai manusia Indonesia yang kaya akan alam dan sumber daya yang berlimpah. Kayaknya para pemimpin Indonesia harus berpikir ulang agar tidak sekedar menjual slogan. :)

Bagaimanapun juga, Finlandia dengan capaian dan kemajuan negaranya saat ini, tidaklah dicapai dengan waktu singkat. Finlandia telah bergulat dengan banyak hal dan tantangan alamnya. Bukankah Indonesia juga harus punya semangat itu? [Afif E.]

 

Informasi tentang buku:

Judul: Portraying Finland (Second, revised edition)

Editorial Board: Laura Kolbe (Editor-in_chief), Juha Parikka, Liisa Suvikumpu(Picture Editor), Eva Reenpaa, Marita Jaakkola

Penerbit: Otava Publishing Company Ltd

Kota Terbit: Helsinki

Paket Hadiah dari Kedubes Finlandia

Bermula dari email saya pada tanggal 11 Agustus 2011 yang lalu. E-mail tersebut saya tujukan pada Kedutaan Besar Finlandia di Jakarta. Yang tidak dinyana adalah, beberapa hari kemudian datang sebuah paket dengan alamat tujuan atas nama saya! wow, wow… :D

Seneng bukan main dong :) … Jangan pikir uang yang ada di paket tersebut, tapi lebih dari itu ada buku dan beberapa brosur yang dibungkus di dalamnya.  Buku dan brosur dengan pengantar Bahasa Inggris itu berisi informasi mengenai Finlandia. Negeri asal merek ponsel Nokia. (belum kepikir sebelumnya kalo tuh ponsel dari sono. hahaha :D ).

Dalam salah satu buku yang saya terima, ada buku yang khusus menceritakan Finlandia dari jaman kekuasaan Kerajaan Swedia, kemudian berpindah ke tangan Tsar Rusia dan terus berlanjut sampai menjadi Republik Finlandia saat ini. Lengkap deh! hehehe…

Hemm, seneng bukan kepayang. Kenapa? Karena paket tersebut diantarkan oleh pak pos di hari saya berulang tahun. Kayak jadi hadiah bagi hari lahirku. (LEBAY! :D ). Makasih ya Pak Pos…

gak sampek di situ, yang namanya wall Facebook saya langsung berisi status “heboh” hehehe… berikut adalah kutipannya, (kayak buku aja!)

Aaaarrrgghhhh…. aku oleh kiriman teko Kedubes Finlandia!!!!! Suwun Pak Dubes…. Hehehe… Lope Yu Ful!!!!! hehehe… suwun pak pos….  August 23 at 12:21pm 

dan berikut beberapa komentar yang bertebaran;

Win-er Wind oleh kacang atom?

Jun Nidhom Shie Jie ‎1 paket do’a….

Nita Mnz lebay deh…

Eza Momy Mey Mey dapat rezeki ya dibagi2…

Lumayan rame toh? hehehe.

Special thanks to Ms. Suvi Saarinen, Poject Assistant at The Embassy of Finland, and all of the staff. Jadi punya bahan untuk menceritakan lebih mengenai Finlandia. Hemm, let’s see… [Afif E]