Mencintai Lagu Kebangsaan Negeri

Baru saja pulang dari acara pelantikan pengurus OSIS, IPNU dan IPPNU MA Mambaul Ulum di Bedanten Kecamatan Bungah, Gresik. Satu hal yang menjadi titik perhatian saya. Saat sesi acara koor menyanyikan lagu Indonesia Raya, TIDAK ADA SATU MURID PUN YANG BERIDRI!!!!!

Barangkali dirijen lupa memberi isyarat agar hadirin berdiri, tapi kan minimal kita harus menghormati.

Ini adalah kali kedua saya menghadiri acara dimana lagu Indonesia Raya dinyanyikan, tapi hadirin banyak yang tidak berdiri. Dengan sedih saya harus mengatakan peristiwa pertama adalah saat saya mengikuti acara OSPEK di kampus saya sendiri. Hemm, :(

What!!!!!

Analogi pikiran saya langsung menuju ke ajang Piala Dunia yang baru saja dihajat oleh Afrika Selatan.

Suporter Italia dengan bangga menyanyikan lagu kebangsaan mereka. Lah barusan?!!!! bull shit.

Tidakkah kita melihat puluhan ribu suporter berdiri demi menghormati lagu kebangsaan mereka masing-masing!!!! Sementara murid-murid itu duduk (bahkan ketawa-ketiwi ngakak!) hemmm,,,

Barangkali jaman Orde Baru dengan Suharto sudah berakhir, tapi bukan berarti rasa memiliki kita luntur seluntur kultur orde lama.

Sikap hormat Kim Jung-Woo saat lagu kebangsaan Korea Selatan

Apa pelajaran Kewarganegaraan kita sudah sedemikian luntur? Apa memang masih dapat dipertimbangkan kewaganegaraan dihapus dari anak-anak? Hemm, big question.

See, bahkan suporter yang di belakang sono berdiri (kecuali yang reumatik! hahaha :D )

Dalam hati kecil dengan agak miris saya berdoa (entah terkabul apa tidak, hehehe) SEMOGA TIMNAS INDONESIA TIDAK AKAN PERNAH MASUK PIALA DUNIA, SEBELUM ANAK-ANAKNYA MENGHARGAI DAN MERASA MEMILIKI NEGERI MEREKA SENDIRI.

Kejem bener bikin doa. Hahahaha :D

saking keselnya, Bos! :)

Merawat Aset Masjid

Tanggal 28 September 2011 yang lalu sempat ikut rapat Ta’mir Masjid “KG”, sebagai observer (waduh, kayak yes banget… hahahaha :D ). Materi dalam rapat tersebut antara lain adalah mendengarkan hasil kerja dari bidang-bidang di bawah pengurusan ta’mir, selama dua tahun terakhir.

Yang paling mencengangkan bagi saya adalah pada bagian ASET MASJID. Masjid KG merupakan masjid yang berada di tengah-tengah masyarakat di sebuah ibukota kecamatan. Aset yang dimiliki banyak dan beragam, mulai dari sebidang tanah di daerah perbukitan hingga persawahan dan ladang, serta akses jalan.

Aset-aset tersebut didapatkan oleh Ta’mir Masjid dari wakaf para jamaah yang digunakan untuk kemakmuran masjid. Bagaimana pemanfaatan aset tersebut? Selama beberapa dekade terakhir, aset tersebut dimanfaatkan dengan cara disewakan. Seperti ladang, dan sawah, akan disewakan pada penduduk yang memerlukan, dengan angka sewa yang disepakati bersama.

Bahkan, ada tanah wakaf yang oleh pengurus masjid disewakan kepada penduduk untuk didirikan bangunan permanen macam rumah tinggal. Untuk jenis sewa dengan mendirikan bangunan seperti ini memiliki jangka waktu yang cukup lama, sekitar 20 tahun.

Permasalahnnya dimana? Permasalahan muncul dari kurangnya kesadaran pemahaman masyarakat akan pentingnya HITAM DI ATAS PUTIH! ternyata dari banyak aset yang ada, bukti berupa surat ataupun perjanjian masih banyak yang perlu untuk dibenahi. Hal ini menjadi catatan pengurus Ta’mir Masjid “KG” untuk membenahi pencatatan aset wakaf, agar tidak menjadi masalah dikemudian hari.

Sebagai pamungkas rapat malam itu, sekretaris Ta’mir mengatakan bahwa merawat aset masjid begitu pentingnya. Bisa dilihat bagaimana Pemkot Surabaya kesulitan merawat aset-asetnya. Bahkan orang NU sampai kehilangan aset berupa masjid dan tanah.

Semoga hal ini dapat dibenahi sejak dini! [Afif E.]