Enak Juga Jadi Angelina Sondakh

enak be.e yoh mas jdi angelina sondakh … (Mungkin enak ya Mas, Jadi Angelina Sondakh; pen)

Kalimat di atas adalah salah satu chat FB saya dengan adik kelas kuliah saya. Spontan saya teringat, loh, saya kan punya draf tulisan tentang Angelina Sondakh! Kenapa tidak saya posting saja! Hehehe… akhirnya nemu ide juga… Setelah kemarin menulis mengenai Angelina Jolie, kini saatnya Angelina Sondakh beraksi. Hahaha… :D

Arsip tulisan saya sebenernya saya tulis segera setelah Angie menyampaikan kesaksiannya di Pengadilan Tipikor dalam kasus Wisma Atlit. Agak telat sebenarnya ketika saya melhat siaran langsung persidangan tersangka korupsi wisna atlet, Angelina Sondakh, lewat televisi(15 Februari 2012). Namun justru saya sampai pada bagian yang saya ingat terus hingga saat saya menulis artikel ini.

Dalam siaran saya saksikan, hakim bertanya pada Angie mengenai komunikasi Blackberry Messenger (BBM) dengan Mindo Rosalina Manulang.

Foto Angie yang disuguhkan Nazar dalam sidang

Angie membantah pernyataan bahwa dia pernah melakukan komunikasi dengan Mindo Rosalina Manulang lewat BBM. Bahkan Angie menandaskan bahwa dirinya baru menggunakan Blackberry pada akhir tahun 2010.

Nazaruddin sebagai terdakwa kasus ini langsung menyatakan keberatannya. Nazar tidak sekedar membantah saja. Lewat gadget-nya, Nazar menunjukkan pada ketua sidang foto-foto dimana Angelina Sondakh dipotret oleh wartawan pada tahun 2009, dengan memegang Blackberry!

Sontak saya langsung kecewa. Karena ketika Angie dipanggil ke depan oleh hakim untuk ditunjukkan foto tersebut, Angie tidak bisa lagi berkelit. Mau bilang apa, lah wong foto tersebut memang menunjukkan Angie pada tahun 2009 ber-BB tengah diwawancara oleh wartawan detik.

Maka saya sampai pada kesimpulan saya sendiri. Kesimpulan saya bukan lagi pada apakah Angie berbohong, tapi berapa banyak lagi yang berbohong?

Kabar terakhir mencuat bahwa Angie membantah kalau BB yang dia pegang dalam foto itu adalah miliknya. Dia berkilah kalau BB itu dia meminjam. Halo… sekelas Angie saja pake pinjem gadget?!

Sebenarnya saya kurang paham dengan retorika politik di negeri ini. Bisa saja kita berandai bahwa Angie tengah digiring dalam kasus korupsi ini oleh sebuah konspirasi politik. Tapi untuk saat ini, semua bukti mengarah pada Angie…

Semula kemunculan Angie dan beberapa aktivis muda lainnya di kancah parlemen Indoensia, bagi saya akan membawa angin perubahan. Angin perubahan yang membawa Indonesia menjadi lebih baik, lewat generasi mudanya. Tapi belum apa-apa kok ya tersandung juga dengan kasus yang sudah-sudah…Tapi waktu yang akan membuktikan siapa yang bohong. Let’s follow the process.

Ealah… Angie.. Angie… Enak juga jadi Angelina Sondakh. Bisa punya Blackberry sejak tahun 2010. Wkakakakak :D [Afif E.]

Berani Berbahasa Asing

Menarik perhatian saat membaca tulisan Rhenald Kasali di salah satu kolom Jawa Pos (Senin, 19 September 2011) di halaman 5. Sebagai seorang ekonom, wajar dia menyertakan judul “ekonomi” dalam tulisannya. Judul tulisan Kasali adalah “Ekonomi Bahasa Inggris.”

Artikel Rhenald Kasali Jawa Pos 19 September 2011

Inti dari tulisan Rhenald kurang lebih bahwa kita harus melatih terus kemampuan berbahasa asing kita. Tanpa mengurangi segala macam aturan dan Grammar, yang tak kalah penting adalah mempraktikkannya. Bicara langsung!

Membaca artikel Kasali tersebut, mengurangi rasa malu saya saat pergi ke Bali pada April 2010 lalu, rasa malu tapi lucu. Kenapa kok begitu? Here the story.

Di atas kapal penyeberangan, saya dan teman-teman naik ke dek kapal paling atas. Saya memilih menyandar pada pagar pembatas dek dan memandang ke luasan selat Bali. Tak berselang lama sepasang bule backpaker turut menyandar ke pembatas dek di dekat saya.

Pasangan laki perempuan—yang ketika saya tanya bukan suami istri itu—berbicara dengan bahasa ibu mereka. Terka saya mereka berbicara bahasa Perancis. Mengingat gaya bicara mereka yang menurut saya sengau dan bunyinya berada di bibir.

Dengan agak gerogi, kemudian saya menyapa si gadis yang memang berada di sebelah saya.

France, Miss?” waktu itu saya ragu apakah spelling saya sudah betul.

Yeah, and you?” si gadis Perancis bertanya balik.

I’m Indonesian. Javanese.

Banyak saya bertanya pada mereka berdua termasuk apakah mereka suami-istri(yang kemudian mereka mengelak dengan gaya ales. Hahahaha), termasuk keterangan bahwa mereka baru saja dari bromo.

Have you ever go to Bromo.” Si gadis Perancis bertanya.

Ups… hehehe, beberapa waktu terakhir saya pikir grammar saya gak karuan! :D

Barangkali mendapati jawaban yang kurang memuaskan serta dengan grammar yang ngga karuan, mereka berdua kembali bicara dalam bahasa Perancis. Barangkali menertawakan saya, wakakakakakak… :D

Tapi setelah membaca tulisan Kasali, semacam mendapat pencerahan, bahwa betapapun kita sudah menguasai grammar, yang penting adalah speak up alias berani ngomong. Grammar sudah tidak berguna jika kita tak berani bicara.

Lalu mana bagian lucunya?

Bagian lucunya adalah saat teman-teman saya bertanya, “Kok kamu pinter ngomong bahasa Inggris?”

Dalam hati saya menjawab sambil tertawa ngakak, “Grammar-nya salah semua!!!! :D

Hingga hari ini saya baru membuka lewat tulisan ini. Entah apa mereka membaca bagian ini. Hehehehe… [Afif E.]

Memasak Harisah

Pernah mendengar masakan yang bernama Harisah? atau malah paling doyan? Hehehe… :) Saya berkesempatan menuliskan kesempatan langka ini. Gak bakalan sering dimasak di tempat kami, di Bungah Gresik Jawa Timur. Paling banyak dimasak pada saat Haul KH. Sholih Tsani, sesepuh di Bungah Gresik.

Pertama-tama, siapkan bahan baku utama. Antara lain daging kambing, gandum, beras, dan beras ketan. Kemudian ada bumbu-bumbu. Daging kambing direbus dalam tungku, hingga HANCUR LEBUR menjadi BUBUR. Kisaran waktu daging hingga menjadi bubur adalah 3-4 jam, itu pun kadang-kadang daging belum lepas sepenuhnya dari tulang.

Gandum dan beras telah direndam dalam air semalam sebelumnya, sedangkan si beras ketan, sudah kita jadikan tepung.

Kambing. Jangan sampai anda mengatakan itu gambar Sapi, apalagi buaya. :D

Siapkan tenaga ekstra kuat! Kenapa? seperti halnya memasak jenang yang harus diaduk terus menerus, Harisah juga harus diaduk terus menerus agar tidak lengket di bagian bawah bejana. Dan adukannya terasa berat!

Daging Kambing. eits! jangan salah sangka, daging itu bukan daging kambing di atas. Hehehehe

Kencheng. Bejana dari besi, tempat untuk memasak Harisah.

Daging kambing tadi direbus selama berjam-jam.

Daging kambing direbus dalam kencheng, ditambahkan serai dan beberapa bumbu. Selang 3-4 jam kemudian, atau ketika daging sudah cukup lembut, gandum dan beras yang sudah direndam semalam sebelumnya, dimasukkan ke dalam kencheng.

Gandum yang sudah direndam semalam sebelumnya

Beras yang sudah direndam semalam sebelumnya

maka tibalah saat untuk mengaduk. Adik saya berpose di dekan kencheng berisi adonan harisah yang harus diaduk terus.

 

So much of sweat. Hahaha… asal keringatnya jangan sampek jatuh ke bejana. wkkkk :D

Adonan Harisah yang mulai jadi.

Jika Harisah sudah mulai jadi, maka… saatnya untuk memasukkan bumbu-bumbu! Hemm, nyummy

Dan bumbu-bumbu inilah yang menjadi penguat aroma harisah.

Dan saat harisah sudah jadi, maka kencheng diturunkan dari tungku, dan ditutup dengan daun pisang.

Dan harisah pun jadi… hemmm, yummy….

Harisah siap untuk disajikan dan dimakan. Hehehe

Maka jadilah harisah dengan aroma khas yang kuat berasal dari bumbu-bumbunya. Macam kapulaga dan bumbu beraroma kuat lainnya. A very rare experience of cooking Harisah. Hemm, lekker… [Afif E.]

Fethullah Gulen Bicara Takdir

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum tersebut mengubah dirinya.” QS. A-Rad (13): 11.

Sampul Buku

Berbicara mengenai buku hasil karya seorang cendekiawan Turki ini adalah sesuatu yang menarik. Bagaimanapun seringnya permasalahan takdir begitu sering diulas dan dibahas dalam berbagai majelis, namun penjelasan Fethullah Gulen yang begitu sederhana dalam menjelaskan kerumitan masalah takdir—atau barangkali terlalu menyederhanakan? Biar semua pembaca yang menilai—membuat kita tak sabar untuk sampai pada tiap-tiap penjelasan.

Buku setebal 211 halaman ini dimulai dengan ulasan menggugah bahwa betapa dalam kehidupan kita, sering kita temui pembahasan begitu banyak hal yang rumit dan bahkan tak jarang masalah keimanan kita sendiri secara berlebih-lebihan. Namun masalah takdir yang paling mendasar tidak pernah kita sentuh. Masih dalam bagian awal dari buku tersebut, terdapat ungkapan bahwa memahami diri kita sendiri, dalam hal ini takdir, membuat kita memahami siapa kita, tuhan kita dan sikap kita akan ketuhanan.

Dalam pembahasan yang lain, Gulen juga turut menyelipkan beberapa fenomena alam sederhana yang kadang kita tak sempat untuk memikirkannya. Apa itu? Macam siapakah yang mengajari lebah hingga mampu dan mahir dalam membuat ramuan yang bernama MADU? atau, siapakah yang mengajari semut-semut yang hidup berkoloni itu untuk mengumpulkan makanan dengan cara bergotong-royong? Penjelasan Gulen mengatakan bahwa semua itu tidak terlepas dari kehendak Allah SWT. Meskipun Gulen juga tidak menampik bahwa hanya orang-orang yang diberi petunjuk saja yang akan memahami bahwa rahasia alam tersebut adalah kuasa Allah SWT. Sedangkan yang terlalu mengandalkan akal akan berkata bahwa hal itu adalah ALAMI.

Ngga pengen berpanjang lebar, hanya satu kata bagi anda semua, It’s a must to read! :) [Afif E.]

Data Buku:

* Judul : Qadar; Di Tangan Siapakah Takdir atas Diri Kita?

*Penulis: Fethullah Gulen

*Penerjemah: Ibnu Ibrahim Baadillah

*Penerbit: Republika Penerbit

*Tahun Terbit: 2011

Hakikat Kitabevi (paket jilid 2)

Halaman Hakikat Kitabevi berbahasa Inggris

Ahey! dapat paketan lagi!!! Setidaknya begitu jika menggambarkan senangnya dapat paketan, untuk yang kedua kalinya. Untuk yang kali ini bukan sebagai hadiah ulang tahun, masa kan ulang tahun berulang kali! Hehehe … :)

Paketan kali ini dari Hakikat Kitabevi, sebuah lembaga apa penerbit ya? kok lupa. hehehe…:) dan ketika saya membuka situs lembaga tersebut, saya dapati bahwa buku-buku yang dikirimkan pada saya termasuk buku terbitan terbaru mereka! Ahey! hehehe… :)

Salah satu buku yang saya dapatkan berjudul Bahasa Inggris Endless Bliss; FIRST FASCICLE“. Dan saya diberi buku edisi kesebelas mereka.

Hakikat Kitabevi merupakan sebuah lembaga “nahdliyin” di Republik Turki. Dan buku-buku yang diterbitkan juga merupakan buku-buku yang beraliran Ahlussunnah wal jamaah(mohon dikoreksi kalo salah, :) ). Hemm, menambah hazanah dan ilmu dari belahan dunia lain.

Thanks to Hakikat Kitabevi for send me some books. And this article is I dedicate to Hakikat Kitabevi and all its crew and staff. Once again, thanks. Terima Kasih.

Berikut adalah alamat dan kontak dari Hakikat Kitabevi.

Hakikat Kitabevi 
Address: Darussefeka Caddesi No: 53 P.K.: 35   34083
Fatih / Istanbul / TURKIYE
Phone: +90 (212) 523 45 56 – 532 58 43   Fax: +90 (212) 523 36 93
E-Mail: 
bilgi@hakikatkitabevi.com

Ngelangkahi, Bilas, dan Pernikahan

Baru semalam mengantar Ibu ke rumah seseorang, biasa, masih dalam rangka hari raya Idul Fitri plus hari raya kupatan. Layaknya sebagai seorang pengantar, I was a good listener to every single topics of conversation. hahaha… :D

Sebenarnya ngalor ngidul topik yang dibahas antara Ibu dan orang yang dikunjungi. Sampailah pada topik tentang pernikahan. Aku juga heran, kok bisa nyantol ke bahasan soal nikah ya? Whatever, tapi berikut adalah sedikit ringkasan ceritanya.

Dalam beberapa kepercayaan bagi sebagian masyarakat Jawa, seorang adik yang mendahului kakaknya dalam menikah, ada unggah ungguh di dalamnya. Satu; bagi beberapa pihak, pernikahan si adik yang mendahului kakaknya akan menjadi semacam “pancingan”, maksudnya, tidak berapa lama kemudian si kakak akan segera menyusul.

Dua; kalo memang si adik laki-laki mendahului kakak laki-laki, maka setelah si kakak menikah, si adik harus melakukan bilas. Apa itu bilas? adalah si adik melakukan pernikahan ulang, dengan mas kawin dan mendatangkan Modin, sebagaimana pernikahan yang masih baru. Jika tidak melakukannya? Bagi yang percaya, si adik akan mengalami kesusahan. Kok bisa? ya, entahlah. Kalau anda percaya yang bagaimana? [Afif E.]

Kapan Balik Malinda?

Masih ingat dengan “si maling cantik” Inong Malinda alias Malinda dee? Itu loh, tersangka pembobol dana nasabah Citibank. Barangkali mau mengingat-ingat dengan mencari beberapa sumber online, Jakarta Post misalnya.

Kali ini saya ngga mau berpanjang-panjang soal latar belakang Mbak Malinda (waduh, kayak sejarah… :D ). Pagi ini saya membuka-buka koran lawas (kemarin tepatnya, hahaha). Jawa Pos terbitan 6 Agustus 2011, pada halaman 16 di bagian pojok kiri bawah (wow, presisi banget, hehehe), anda akan melihat berita tentang Malinda Dee.

Nih.. potongan koran Jawa Pos edisi Sabtu 6 Agustus 2011 yang saya maksudkan...

Sebenarnya saya tidak membaca secara terperinci, namun judul berita tersebut menarik perhatian saya dan masih terngiang di benak(?… kikikik). Judulnya begini, 50 HARI DI RS, MALINDA BELUM BALIK KE TAHANAN. Pikir saya, betah banget? Akhirnya muncul pertanyaan gini, apa iya para dokter dari kepolisian itu sangat lama berusaha untuk—maaf—mengempeskan payudara Malinda? Yang patut diingat bahwa Malinda masuk rumah sakit karena dilaporkan terkena radang payudara. Yah, maklumlah, dengan ukuran dada yang membusung ngga normal begitu harusnya Malinda harus ekstra segalanya soal perawatan dadanya yang membusung itu. Lah wong busung lapar saja harus dikempesken busungnya… (ngga ada hubungannya ya? :D ).

Kapan balik Malinda? Kangen…. Hahaha…. :D

Tentu pertanyaan tak hanya berputar pada Malinda semata, tapi aparat penegak hukum yang perlu untuk diawasi. Hemm, 50 hari, itu pada hari kemarin tanggal 6 Agustus, kita lihat kesaktian para aparat dalam menuntaskan kasus Malinda ini.

Atau… Jangan-jangan malah Malinda kayak Arthalita Suryani??? Hemm, ditunggu sajalah. Cuma mau nitip pesan sama para aparat, rakyat Republik Indonesia jengah dengan kebohongan. [Afif E.]

Gejolak Papua

Beberapa hari terakhir pemberitaan di media massa berfokus pada Papua, belahan timur Indonesia. Jika kita ingat kembali, gejolak kali ini bukanlah gejolak yang pertama kali, sudah ada rentetan peristiwa serupa. Intinya satu, menuntut kesejahteraan masyarakat Papua dengan mengusung ide referendum.

Tanah Papua

Dalam halaman situs Radio Nederland Wereldomroep, disebutkan bahwa gejolak yang saat ini tengah terjadi, tersulut dari sebuah konferensi yang diselenggarakan di London, Inggris Raya. Lagi-lagi sebuah latar belakang, yang tidak bisa tidak, dinilai dengan sarat muatan politik.

Janji manis pendirian sebuah negara

Entah bagaimana saya harus mencari tau benang kusut rusuh Papua ini. Dalam buku sejarah yang beredar di sekolah, dikatakan bahwa dalam masa Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) didapati hasil ternyata mayoritas rakyat Papua menghendaki bergabung dengan Indonesia (Atau kurang lebih demikian). Tapi kenyataan di lapangan banyak diberitakan bahwa Pepera adalah sebuah kesalahan.

Entah dari mana saya harus memulai, namun bercermin dari peristiwa lepasnya Timor Timur (Timor Leste, pen) dari Indonesia merupakan satu bukti tersendiri yang patut dihindari. Bukti tersebut berjalan dengan sendirinya bahwa muatan politik begitu mewarnai getol-nya pihak internasional dalam rangka melepaskan Timor Timur saat itu. Dapat kita lihat bagaimana Australia kini mengeksplorasi dengan habis-habisan cadangan minyak di laut Timor. Lihatlah bagaimana eksplorasi ini pada akhirnya menjadi sebuah petaka bagi Indonesia, setelah tumpahan minyak tersebut merembet ke wilayah kantong ekonomi penduduk Indonesia(Majalah Tempo Online).

Eksplorasi tanah air

Kini kita melihat bagaimana isu hak asasi manusia (HAM) yang dulu dihembuskan saat masa Timor Timur hanyalah pepesan kosong belaka. Nyata sudah bahwa muatan politis yang menguntungkan pihak luar lebih bermain daripada “isu mulia” atas nama DEMOKRASI dan HAM.

Maka saudaraku rakyat Papua, tetaplah bersatu dalam NKRI. Jangan pernah terhasut oleh rongrongan politik masyarakat internasional. Harusnya menurut saya yang perlu dituntut adalah ketidaksejahteraannya, bukan harus dengan mendirikan sebuah negara yang notabene-nya bukan jaminan mensejahterakan sebuah bangsa.

Sebagaimana kata Ir. Soekarno, JAS MERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Saudaraku, kita pernah terpecah dengan hasutan politik Devide et Impera, maka jangan sampai itu terulang lagi! []

Berburu Rusa Bawean

Setelah beberapa waktu agak ogah melihat televisi akibat berbagai sinetron yang menggila, akhirnya semalam saya sempat rebahan dan melihat salah satu tayangan berita. Sampailah pada satu iklan salah satu operator telepon seluler. Dan–Oh My God! (lebay, hahaha :D )—saya melihat kakak kelas SMA saya di iklan tersebut.

halaman blog Rusa "Siro" Bawean

Menggunakan nama online, nama pena atau… entahlah, yang jelas dia menyebut dirinya di dunia maya sebagai Rusa Bawean. Ya, aku bisa pastikan bahwa Rusa Bawean dalam iklan itu adalah kakak kelas saya di SMA, dan kami pernah “berseteru” saat berkecimpung di majalah sekolah. Rusa Bawean tampil dalam “kapasitas-nya” sebagai seorang blogger.

Hemm, nice, ok lah, kalo emang bisa dikata begitu. Terakhir ketemu dengan dia waktu dia KKN di Bungah, kota kecil di Kabupaten Gresik. Masih dengan tubuh “bulat” ala kelereng, wkkkkk….. dasar Siro…. (panggilan Rusa Bawean saat SMA). Jadi teringat kalo kami dulu pernah boncengan motor, nubruk pohon di sebuah pertigaan jalan. :D

Jadi ingat kalo dulu waktu akan penerbitan majalah, ada beberapa artikel dalam majalah kami yang pernah kami ributkan(untung ngga sampek jotos-jotosan, :D ). Wew, sudah lulus dari SMA Assa’adah sejak tahun 2005, tapi kuliahnya sudah lebih dulu aku lulus. :D

Hemm-hemm, melihat teman-teman SMA, kini kami semua “berangkat” menuju apa yang masing-masing kami citakan. Ayo semangat 45! :)

Dekadensi Moral; judul lama berulang kembali

Judul di atas merupakan ‘olahan’ dari tema seminar yang diangkat oleh panitia seminar Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Karangrejo Kecamatan Ujungpangkah, Gresik. Seminar yang diselenggarakan kemarin (27/7 2011) itu dihadiri pemuda di kawasan sekitar Ujungpangkah dan beberapa peserta dari Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya.

ngapain undangan di-scan segala. hahaha

Hadir sebagai pembicara ialah Husnul Karimi, mantan aktivis salah satu partai islam di masa orde baru. Alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya tersebut menyinggung bahwa tema yang diangkat oleh panitia merupakan sebuah tema lawas, namun ia berterus terang menarik untuk menggali kembali tema mengenai dekadensi moral tersebut. Karimi mengatakan bahwa tema dekadensi moral perlu untuk kembali diangkat ke ranah publik melihat kondisi sosial masyarakat, terutama para pemuda yang kondisi dan keberadaannya sekarang cukup memprihatinkan.

garis besar materi Husnul Karimi

Pria yang berdomisili di Desa Mriyunan Kecamatan Sidayu ini mengungkapkan bagaimana fenomena tawuran, minum-minuman keras, hingga hubungan remaja yang cenderung mengarah pada hubungan bebas, makin menggejala dan mewabah secara meluas. Hal ini ia ungkapkan sebagai wujud dari globalisasi yang tidak tersaring. Segala macam tubrukan budaya dari barat tidak dapat diseleksi dengan baik oleh para remaja.

scan materi, bagian 1

Tidak hanya itu saja, ternyata peran IPNU (dan IPPNU, pen) dipandang oleh Cak Uk–demikian Husnul Karimi memberikan nama alias pada lembar materinya–semakin terpuruk jika dibandingkan dengan kondisi IPNU-IPPNU pada beberapa periode yang telah lalu. Hal ini ia buktikan dengan kurang kritisnya para kader IPNU-IPPNU dalam wacana program kerja yang disampaikan dalam forum rapat. Kondisi lain yang Husnul Karimi ungkapkan sebagai makin terpuruknya kondisi remaja nahdliyin ialah hilangnya budaya dibaan, manaqiban di desanya. Cak Uk mengatakan bahwa benteng agama Islam ala Ahlussunnah Wal Jamaah sudah seharusnya kembali diperkuat.

materi seminar; potongan kedua

Adalah gugahan bagi warga nahdliyin di tiap lini untuk kembali menata diri dan kembali merangkul anak-anaknya, agar tidak menjadi anak-anak yang tidak mengenal siapa ‘bapak’ mereka. []