DITINGGAL KAWIN

Pak Maarif, malam abis kuliah, ngajakin ngopi di warung kopi wak Darmo. Slamet ngga bisa ikut, ada urusan katanya. Aku ngga ngerasa ada sesuatu yang penting untuk disampaikan, tapi ternyata ada hal yang penting. Sambil nyeruput kopi, Kami bicara panjang lebar. Malam ini pembicaraan Kami agaknya berputar tentang Pak Ma’arif. Ya, emang tentang dia melulu. Tentang orang tuanya, tentang ‘nasibnya’ sebagai anak bungsu(sama halnya denganku), tentang pacarnya. Dan mendekati malam rupanya Pak Ma’arif lebih banyak cerita tentang pacarnya. Seperti pernah ia ceritakan sendiri, Pak Maarif ngga bakalan kawin sebelum lulus dari pascasarjana, maka karena sekarang udah lulus, target nikah rupanya kudu dikejarnya. Dengan berbekal ijasah S2-nya sebagai mas kawin(waduh! Berat banget mas kawinnya!), ia sudah mau mengambil langkah untuk berumah tangga.

“kemaren malem Aku ada lamaran.” Ujar Pak Maarif.

“lamaran apa, Pak?” tanyaku polos.

“lamaran, lamaran… nikah.” Walah! Aku baru nyambung.

“wah, berarti Aku udah boleh tau dong Pak, calon nyonya maarif nya ini siapa…” godaku, mengingat Pak Maarif hingga hari ini merahasiakan pacar yang kini bakal jadi calon istrinya itu.

“Kamu udah pasti kenal kok, Din.” Loh, siapa ya… “siapa Pak?” Aku agak bersemangat. Setelah lumayan lama informasi ini disimpan Pak Maarif dalam-dalam. Dan ekspresi penasaranku keliatannya ngga bisa ditutupi lagi.

“Anita.” Glek! Benarkah telingaku malam ini?

“siapa Pak?” tanyaku, memastikan nama yang kudengar.

“Anita… Anita Mayani anak informatika itu loh…” penjelasan Pak Maarif tampaknya ngga usah diulangi lagi.

* * *

Telingaku masih panas. Dan masih terasa benar nama yang disebut Pak Maarif. ANITA MAYANI ANAK INFORMATIKA …. KAMU PASTI KENAL KOK, DIN…. Jelas aja Aku mengenalnya. Dia… dia …. Dua bulan terakhir JALAN DENGANKU!!!! Apa ada Anita Mayani yang lain di Teknik Informatika STTK? Barangkali bukan angkatan 2006. 2007 atau 2008 mungkin…. Ah! Apa ini?! Apa?! Betapa munafiknya Aku ngomong ke Pak Maarif saat ia memberi tau kalo Anita adalah calon istrinya dengan perkataan, ‘wah, selamat ya Pak… Anita emang calon istri yang pas dan ….’ Bla bla bla. Bull shit! Omong kosong! Munafik!

“mau masuk apa ngga, Pak Bos?” suara Slamet menyadarkanku kalo barusan Aku mengetuk pintu rumahnya. Segera sesudah ‘deklarasi’ Pak Maarif di warung kopi wak Darmo. Aku masuk, dan segera duduk. Terasa lemas, entah pada kakiku, tubuhku, atau hatiku. Aku ngga tau lagi.

Slamet membawa dua mug minuman dari dalam rumahnya. Diletakkannya di meja di hadapanku. Ia bertanya, apa Aku barusan dari ngopi bareng Pak Maarif. Kuiyakan pertanyaannya itu. Kusandarkan kepalaku, barangkali Aku cuma sakit kepala.

“ada apa sih, Pak Bos? Kok kayak lemes banget gitu.” Tanya Slamet. Sejenak Aku diam, lalu kujawab NGGA PAPA. Dalam kondisi gini Aku ngga tau harus ngomong apa.

“tapi keliatan banget kalo Sampeyan ada apa-apa.” Terka si Slamet. Sejenak Aku diam.

“Met, Aku pernah cerita ngga kalo Aku sama Anita udah jadian?” tanyaku, dengan kepala masih bersandar. Slamet sama sekali ngga kulihat.

“pernah. Emang kenapa?” Tanya Slamet. Aku diam dan Slamet yang ngga ngerti sedang kenapa Aku, berkata,”Ada apa sih, Pak Bos? Kalo ada apa-apa cerita dong… Kan pernah Aku bilangin, kalo sampeyan bisa cerita apa aja ke Aku.”

Aku masih diam. Harus mulai dari mana Aku cerita? Sejenak Slamet nunggu Aku ngomong. Dia mengambil mug-nya dan minum.

“Anita mau kawin.” BRRR!!! Slamet kaget mendengar ucapanku, menyemburkan sebagian minuman yang udah masuk ke mulutnya.

“MAKSUDNYA?!!!!” Slamet kembali bertanya. Seolah belum mendengar perkataanku tadi.

“Ya. Anita mau kawin.” Jawabku pendek.

“trus, sampeyannya bagaimana?”

“bagaimana? apaan maksudnya…?”

“ya… sikap sampeyan gimana diajakin kawin sama si Anita?” duh! Slamet belum nyambung. Kepalaku kutegakkan, kali ini menghadapi Slamet.

“Anita ngga kawin sama Aku, Met…” Slamet bengong.

“loh, trus kawin sama siapa, Pak Bos?”

“Pak Maarif.”

“sampeyan serius, kan?” Slamet berusaha memastikan. Aku cuma mengangguk.

“barusan saat ngopi Pak Maarif ngomong ke Aku.” Tuturku, dan kuceritakan bahwa Aku baru saja dari warung kopi bareng Pak Maarif dan belum pulang, mampir ke rumah Slamet.

Ngga lama kemudian meluncur dari mulutku, kumpulan cerita yang bisa kuucapkan pada Slamet. Tiga bulan terakhir, Pak Maarif mulai menjalani hubungan serius dengan Anita. Bungkamnya Pak Maarif dan Anita mengenai hubungan mereka adalah kesepakatan keduanya.

Yang bikin Aku ngga abis pikir adalah, kenapa Anita mengiyakan saat kutembak belum genap dua bulan yang lalu? Sebelum meninggalnya Pak Sumardi, ayah Anita, pertunangan itu sudah dalam tahap positif ada. Dan sudah bisa dipastiin kalo pernikahan ada di depan mata. Seolah menjawab pertanyaanku, itulah kenapa beberapa kali Anita ngga ada di kampus, dan di saat itu Pak Maarif ngga masuk ngajar pula. Barangkali waktu itu mereka gunakan untuk keluar bareng.

Sebuah undangan kukeluarkan dari dalam tasku. Kuberikan pada Slamet, itu undangan untuknya. Sebelum sampai ke tangan Slamet, sempat terlihat nama kedua mempelai, Agus Maarif & Anita Mayani. Sret! Aku teringat sesuatu. Buku harian Anita, yang waktu itu sempat kubuka. Di sana terdapat sebuah kaligrafi latin, tulisan AM AM bertumpukan. Semula kuanggap itu adalah singkatan namanya sendiri, Anita Mayani. Tapi ternyata juga singkatan nama dari bakal suaminya, Agus Maarif yang ngga lain adalah Pak Maarif dosenku.

Ya Allah… Apa ini…. Kenapa, kenapa jadi kayak gini? Anita, Aku masih berat mengingatnya. Kenapa dia mengiyakan waktu kutembak kemaren? Kenapa, Nit?

“sabar ya, Din….” Ucapan Slamet kembali menyadarkanku kalo Aku sedang bersamanya. Dan untuk kali pertama sejak dua tahun setengah terakhir, kudengar Slamet memanggilku dengan namaku, bukan dengan sebutan Pak Bos. Tapi disaat gini masa bodoh dia mau manggil Aku dengan sebutan apa.

“Aku pulang dulu, Met.” Tukasku. Ngga pengen lama-lama di rumah Slamet dengan kondisi yang ogah banget gini. Ngga tahan menerima berita pernikahan itu. Aku, ditinggal kawin pacarku. Pacar yang belum genap dua bulan berjalan. Baiknya Anita menolakku waktu itu. Apa sebenernya yang ada di pikiran Anita waktu itu sehingga menerimaku waktu ditembak. Kenapa, Nit? Dan sekarang Aku mesti gimana? Ah, ngga tau. Hei, apa ini?! Kurasakan air mataku meleleh di pipi. Hei! Stop! Tapi tak juga berhenti meleleh. Aku… ah, sudahlah.

Bungah, 14 Mei 2009 M. Afif Effendi

Iklan

2 thoughts on “DITINGGAL KAWIN

  1. pengalaman y???
    aq ngrti kq 🙂

  2. Muhammad Afif Effendi berkata:

    mmm… gimana ya…. 😀 😀 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s