Kereta Api Shinkansen SBY

Salah satu ungkapan musikus Ahmad Dhani mengenai seorang Gus Dur adalah memisalkan Gus Dur sebagai mesin kereta Shinkansen—kereta cepat di Jepang—sedangkan rakyat Indonesia sebagai gerbong masa lokomotif. Ungkapan Ahmad Dhani tersebut berusaha untuk menggambarkan bagaimana pemikiran Gus Dur yang ditentang banyak pihak waktu itu.
Senada dengan Gus Dur, tampaknya hal tersebut terjadi pada masa SBY. Semangat untuk memberantas korupsi sudah ada pada diri SBY. Tapi perangai korup sudah demikian mengakar dalam watak tiap aparat penegak hukum yang dimilikinya. Perangai korup itu seolah menjadi jurang lebar antara semangat SBY dengan para aparatur pelaksana, sehingga pemberantasan korupsi itupun seolah jalan di tempat.
Perhatikan saja kasus joki-napi di Bojonegoro yang baru-baru saja terjadi. Sebuah kasus dimana seorang napi dengan lenggang dapat bertukar personal dengan orang lain demi mereguk ‘kebebasan’. Belum lagi kasus Gayus Tambunan yang dengan bebas dapat berpelesir ke luar negeri dan Bali selama dalam masa tahanan.
Jika ditarik lagi lebih ke atas, Gayus tidak mungkin bergerak sendiri dalam aksinya selama bergulat dalam menilap pajak negara. Adalah hal buta manakala Kepolisian hanya menangkap Gayus sebagai tersangka. Serta Kejaksaan yang hanya menggugat Gayus tanpa melihat akar dan otak dari tingkah langkah Gayus. Tentu mereka-mereka mengetahui hal ini. Merekalah yang bertanggung jawab dalam menaungi segala kejadian di jajarannya.
Apa lagi kalau bukan watak aparat sudah demikian korup? Sehingga aksi petugas berwajib seolah mlempem. Apa mereka masih menganggap masyarakat Indonesia bodoh?
Mengesampingkan sejenak pembahasan tentang kabar yang menyatakan terdapat konspirasi yang dilakukan oleh SBY, mengenai cerita bahwa SBY tahu siapa aktor yang bermain di belakang Gayus. Tapi kenyataan umum menunjukkan aparat sudah demikian korup, sehingga gerakan mereka tak bermutu.
Ibarat SBY dan KPK ingin bergerak demikian cepat dalam memberangus korupsi di negeri ini, tapi semangat itu tidak disertai dengan watak bersih aparatnya. Renumerasi? Hah, itu hanya cerita baru. Cerita agar pegawai pajak semakin gendut. Apakah ada jaminan bahwa watak yang sudah demikian korup dapat diobati dengan angka nominal uang renumerasi? Apakah tidak lebih ‘menggiurkan’ uang korupsi yang jauh lebih besar? Sekali lagi ini soal watak, bukan berapa yang harus negara berikan demi membendung korupsi. Karena hingga berapapun banyaknya negara sudah memberi pegawai pajak dengan angka renumerasi yang begitu tinggi, tetap tidak akan mengobati watak yang sudah demikian korup. Tentu meski tidak dapat dinafikan bahwa renumerasi dapat juga dijadikan sebagai cambuk bagi pegawai pajak agar lebih bijak dalam bekerja.
Beberapa waktu lalu media massa memberitakan pidato politik salah satu pimpinan parpol. Dengan lantang memang pidato itu menyerukan bagaimana bobroknya watak korup di Indonesia. Namun kasus-kasus tersebut hanya dijadikan senjata untuk menyerang pemerintah.
Pucuk pemerintah sudah memiliki niat teguh dalam memberangus korupsi—walau menurut beberapa pihak masih setengah-setengah—sedangkan para aparatur di bawahnya berwatak korup, maka pidato itu seperti menafikan betapa korupnya watak pelaksana aparatur negara ini. Maka sekali lagi SBY terpaksa harus menarik ulur mesin Shinkansen-nya untuk menyeret gerbong-gerbong lokomotif yang sudah demikian korup dan ‘karatan’ demi memberantas korupsi di Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s