Apa kemauan ‘orang tolol’ PSSI

Kemarin kita mengetahui dari televisi bahwa Agum Gumelar dengan begitu ‘sabar’nya membekukan Kongres PSSI 2011 yang dilangsungkan di Hotel Sultan, Jakarta.

Koran Jawa Pos pagi ini (21 Mei 2011)—dan mungkin koran lainnya—menuliskan headline kericuhan kongres tersebut. Ditulis pula dalam halaman awal koran tersebut kronologi hingga akhirnya kongres mengalami deadlock.

Aku heran, orang-orang ini maunya apa? Bukankah kongres kali ini merupakan ‘inisiatif baik’ dari FIFA agar PSSI memiliki wajah yang lebih baik? Tapi kenapa mereka masih memberatkan pada dua nama yang jelas-jelas sudah ditolak oleh FIFA. Sebenarnya aturan siapa yang ingin mereka ikuti, disamping aturan FIFA sebagai induk organisasi sepak bola internasional.

Bahkan pun penjelasan Thierry Regenass selaku perwakilan FIFA pada kongres tersebut macam tidak dapat juga memberikan satu ‘kecaman’ dalam benak mereka bahwa situasi PSSI berada di ujung tanduk. Barangkali Regenass memang hanya berlabel sebagai observer, tapi ingat coy, itu hanya label legal formal agar FIFA tetap dapat mengawasi langsung jalannya acara.

Apa masih mereka membela dua nama, yang mereka sebut sebagai—orang yang didholimi oleh FIFA itu?

Pertanyaan selintas berputar di kepalaku, dan lewat tulisan ini aku ungkapkan, demi siapa mereka melakukan keributan itu? Apakah tetap demi panggilan hati untuk membela ‘orang yang didholimi oleh FIFA’? ataukah demi segepok uang yang akan memenuhi digit angka dalam rekening mereka? Huh, pertanyaan konyol yang jelas tak akan mereka berani menjawab secara jantan, karena bukankah mereka sendiri tidak jantan dengan mengobrak-abrik kongres dan seolah tutup mata kalau kondisi PSSI memang butuh gebrakan kepemimpinan.

Melihat kekisruhan di arena kongres PSSI, jadi sedih saat ingat adikku dan teman-temannya yang berusia sekolah kelas MI sederajat bermain bola di jalanan kampung kami. Tidakkah hanya sanksi kecil dari lembaga yang bernama FIFA akan menghambat jalan mereka dan anak-anak berbakat di Indonesia untuk dapat turut serta dalam permainan sepak bola yang lebih luas di kancah internasional.

Melihat anak-anak yang bermain sepak bola di jalanan tiap kampung, membuat amarah meletup, otak kotor apa yang mereka rancang untuk membunuh nasib masa depan bakat sepak bola dari anak-anak di jalanan kampung kami. Mementingkan isi perut mereka yang sudah menggembul bak babi yang siap dipotong oleh singkek cina.

Kata-kata kotor dari mulut rasanya ingin keluar dengan tanpa hormat lagi, melihat mereka seperti tidak peduli dengan titik akhir yang harus ditempuh oleh PSSI agar terhindar dari sanksi FIFA.

Satu kata akhir, semoga Indonesia segera mendapat sanksi FIFA. Dan semoga FIFA memberi ganti dengan tetap membina bakat anak-anak yang bermain sepak bola di jalanan kampung kami. Lalu bagaimana caranya? Ya, dengan tidak memberi sanksi pada Indonesia.(.hehehe…)

Muhammad Afif Effendi, Bungah Gresik 21 Mei 2011.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s