Kemana Rimbanya Bapak Kami

pertanyaan di atas tiba-tiba melintas dalam benak ketika penulis tengah menggarap laporan yang harus diberikan pada saat Konferensi Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kecamatan Bungah Gresik.

kemana rimbanya bapak kami? itu pertanyaan penulis pribadi. sederhana tapi sangat membingungkan bagi penulis yang masih tidak mengerti apa-apa. apalagi dunia politik yang digeluti oleh bapak-bapak kami.

siapakah ‘bapak’ yang kami maksud? bapak yang kami maksud ialah pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Bungah Gresik. memangnya kenapa dengan pengurus MWC NU Bungah? tidak jelas, itu yang penulis tangkap.

sebelum pembaca salah paham, penulis ingin meluruskan bahwa tulisan ini penulis buat sebagai ajang bertanya bagi penulis pribadi. tidak ada maksud untuk menjelekkan suatu organisasi. kan saya sendiri berada di dalamnya, masa kan mau merusak dari dalam!? hehehe

latar belakang kenapa dalam tubuh MWC NU Bungah jelas merupakan latar belakang yang rumit, yakni Politik! bukan rahasia lagi bahwa semenjak kasus pemilihan Bupati Gresik tahun lalu, MWC NU Bungah kini berhasil diobrak-abrik menjadi sebuah organisasi yang makin tidak terorganisir.

bagaimana tidak, kami selaku pengurus PAC IPNU saja harus menemukan titik kusut mengenai siapa orang yang dapat kami ajak bicara dengan jernih dalam kondisi keruhnya hubungan para pengurus MWC NU Bungah.

barangkali NU memang bukan lahan yang tepat untuk ajang politik. lihat saja, hanya sekedar pemilihan bupati saja NU sudah porak-poranda secara teratur dan disadari. para pengurus seolah tutup mata dengan anak buahnya yang menanti di belakang.

maka menimbulkan pertanyaan pribadi, kemanakah bapak kami.

penulis bertanya demikian secara pribadi setelah penulis merasa dijadikan bola pimpong ke sana kemari tanpa arah yang jelas. penulis dan teman-teman penulis hanya ingin berkonsultasi urusan organisasi IPNU, bukan politik. tapi yang ada malah kami terus-menerus dilempar.

kemana rimbanya bapak kami.

satu pelajaran berarti, jangan membawa organisasi NU ke dalam percaturan politik. kenapa? karena manusia-manusia NU tampaknya masih perlu belajar bahwa dalam politik tentu ada kalah dan menang. hal ini sudah takdir.

sedikit nyleneh, buat orang NU jangan marah. tapi koreksi diri sendiri. penulis juga lahir dan besar dalam kultur NU, namun penulis juga sedang mencari bentuk dari pada diri sendiri dan NU pada umumnya. maka penulis membuat pertanyaan pada dunia luar mengenai kondisi NU lewat tulisan ini.

penulis ucapkan ‘selamat’ atas porak-poranda dan kurang dewasanya pengurus MWC NU Bungah. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s