Ayah dan Ibu Tidak Bertengkar Seperti Aku dan Kakakku! (bagian satu)

Sore itu senyap kurasakan. Liburan tahun ini sebagaimana liburan pada tahun yang sudah-sudah, sepi dan senyap di rumah ibuku.

“Makan, dik..” Ibuku berseru dari meja makan. Membuatku segera beranjak dari ruang duduk dimana aku menonton TV dari sejam yang lalu.

Dentingan piring dan sendok kami lebih banyak bicara ketimbang percakapan kami berdua yang kurasakan hanya basa-basi saja.

“Andai kakakmu masih bersama kita.” sesekali ucapan itu keluar dari mulut ibuku.

Kembali kami berdua diam. pikirku tak usahlah aku memberi tanggapan pada ucapan ibuku itu. karena kan sudah kesekian kali ibuku berujar yang demikian. tak lama setelah aku menghabiskan makanku aku kembali menuju ruang keluarga, menekuni berita di TV.

***

“Kenapa ngga besok saja?” bujuk ibuku untuk kesekian kalinya hari itu.

Sejenak aku berhenti mengemasi pakaian dalam tasku, kemudian berujar pada ibuku, “Aku harus berangkat, Bu.”

Kami berdua kembali diam. menekuni pikiran masing-masing. meski berusaha menahanku agar aku tidak kembali ke Jogja, tangan ibuku tidak berhenti membantuku mengemasi barang-barang yang hendak kubawa serta.

“Jangan lupa kirim kabar ya, Nak.” kembali ibuku berujar, “mbok ya sesekali telpon gitu…”

siang itu juga di tempat tunggu kereta stasiun. dengan membawa serta barang bawaan yang sebenarnya tidak perlu aku bawa, namun ibu memaksakan aku untuk membawanya. Ikan asin, trasi, serta beberapa makanan kecil buatannya. Pikirku barang-barang itu bisa aku beli di Jogja. tapi berhubung ibuku sangat memaksakan kehendak, aku bawa serta sajalah, biar menyenangkan hatinya.

kereta pun tiba waktunya untuk berangkat. salam terakhirku menyertai kembalinya aku ke Jogja. dan ibuku akan kembali sendiri di rumahnya. aku cium tangannya untuk kemudian aku masuk ke dalam kereta.

***

Stasiun kereta api yang lain di Kota Madiun di sore yang panas itu.

aku tidak begitu mengamati berapa lama perjalanan dari surabaya hingga akhirnya aku berhenti di tempat tujuanku di Kota Madiun. kulihat ayahku sudah melambaikan tangan, menyambut kedatanganku.

Piye Kabare Le?” tanya ayahku.

“Baik, Pak” jawabku, menyertai kecupanku pada tangan ayahku.

“Ayo ke rumah. Mobil ayah ada di sana.” maka tidak lama kami sudah sampai di rumah ayahku. Rumah yang lain dari orang tuaku.

sehari di Madiun kurasakan tidak betah. entah apa yang membawa perasaan tidak betah itu. rasa sungkan dan tidak nyaman ternyata masih ikut dalam hatiku. aku merasa bagai orang asing di rumah orang tuaku sendiri.

belum lagi tanggapan penyambutan, Bu Mestini,  istri ayahku yang terlalu berlebihan. Dua tahun terakhir ini saja aku dapat dengan mudah mengucap kata “ibu” untuk wanita yang lebih muda dua tahun dari kakak perempuanku itu.

“Kalau saja Aini masih bisa ikut ke Madiun ya… pasti sangat menyenangkan.” sial! umpatku dalam hati. Mestini menyebut nama kakak perempuanku lagi.

“Tapi jelas tidak bisa kan, BU..” ucapanku kutekankan pada kata IBU. untuk sedikit menunjukkan kesalnya aku pada ucapan basa-basinya itu.

“eh, iya..” Mestini merasakan hawa ketidaksukaanku.

ayahku yang juga turut makan di meja yang sama kemudian memecah kakunya suasana dengan berkata, “Ayo tambah nasi, Le.”

Bungah, 4 Juni 2011.

Afif E.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s