Paper, Letter, and Number

ngomong-ngomong soal judul di atas, agak ‘curiga’ dengan kesamaan judul Eat Pray Love punya Elizabeth Gilbert. Hahaha. Ya, ‘sedikit’ tapi ngga banyak amat. tapi ada satu filosofi dalam pribadi saya sendiri bagaimana Al-Qur’an, kitab suci muslim, yang jika kita baca pada banyak ayatnya semacam prosa dan memiliki akhiran bunyi yang sama. untuk soal yang terakhir ini perlu dikaji sama ahlinya nih, ngga bisa asal yes aja…

sebelum saya menuliskan judul di atas, barusan saya pribadi berurusan dengan surat menyurat, bahasa, serta ‘angka’ dan nilai yang terkandung di dalam padu padan mereka. izinkan saya bercerita saat pertama kali saya dengan sadar merasa sangat sakit dengan plagiarisme, masih berhubungan dengan kertas dan huruf serta nilainya.

memasuki kelulusan saya dari bangku Madrasah Tsanawiyah Assa’adah I, sebuah SLTP di Kabupaten Gresik, guru bahasa Indonesia kami sudah mewanti-wanti dari jauh hari bahwa salah satu persyaratan kelulusan mata pelajaran bahasa Indonesia adalah membuat makalah. tema makalah itu beliau bebaskan. sehingga tidak terlalu mengikat kami dengan susah payahnya sumber yang kami cari.

Ali Rosyidi, teman saya, mengajak mengerjakan makalah itu dengan sistem mengerjakan lembar demi lembar. jadi begini, lanjut cerita, akhirnya kami berdua mengerjakan makalah kami masing-masing itu benar-benar lembar demi lembar di Dutacom, sebuah rental komputer(promosi nih, hahaha). Dalam sehari–sejak semester awal–kami maksimal dapat mengerjakan paling tidak satu lembar dalam satu jam rental dalam sehari, begitu seterusnya. Ali memilih tema biologi. sedangkan saya lebih memilih tema Pembuatan Songkok, kebetulan rumah saya dekat dengan home indutry itu.

entah hingga berapa hari Saya dan Ali akhirnya dapat menyelesaikan makalah kami dengan sempurna dan siap dikumpulkan. untuk ide dan sistem pengerjaan ini saya patut berterima kasih sekali pada Ali. kenapa demikian? karena teman-teman yang lain sangat kelabakan kala mengerjakan makalah tersebut dengan SKS (sistem kebut semalam) pada detik-detik hari pengumpulan, sementara saya dan Ali sudah dapat bersantai, hahaha, satu langkah maju.

soal biaya? oh, saya agak lupa. jika saya ingat-ingat, satu jam kami rental komputer dalam satu jam waktu itu Rp, 2.500 atau Rp. 2.000 -an. dan sekali print kami harus membayar Rp. 500 untuk print hitam putih, dan Rp. 1.000/lembar untuk print warna (saat itu kami bersepakat tidak memberi warna macam-macam pada ketikan kami agar biaya cetak lebih murah. hahaha).

tiba pada saat pengambilan ijazah kelulusan MTs, saya dan beberapa teman, masuk ke dalam ruang guru bahasa Indonesia kami. di mejanya bertumpuk makalah ‘kelulusan’ kami itu. iseng-iseng saya melihat nama-nama yang tertulis pada sampul makalah. satu makalah saya baca sampulnya. dahi saya mengernyit dan seketika saya marah, kenapa? KARENA JELAS-JELAS ITU ADALAH MAKALAH SAYA, TAPI BUKAN “OLEH” SAYA!!! kembang kempis napasku waktu itu. itulah pertama kali saya marah karena urusan tulisan.

barulah saya tau kemudian bahwa seorang teman yang lain dengan seenak hatinya tanpa izin pada saya, mengambil makalah itu dari meja sang guru, mem-fotokopi makalah saya dan mengganti sampulnya saja. maka jadilah makalah itu ada dua pemilik. ingin hati menuntut, tapi masa itu sudah kelulusan dan ambil ijazah, mau apa?! maka kemarahanku benar-benar tidak dapat terobati waktu itu.

lihat saja, secara ekonomi aku dirugikan oleh temanku itu. puluhan ribu aku habiskan untuk menggarap makalah. namun dia hanya mengeluarkan biaya Rp. 100/lembar fotokopi, dan Rp. 500 untuk print satu lembar sampul makalah dengan atas nama dia!

barangkali itu adalah kerugian secara ekonomis hanya senilai puluhan ribu. Namun saat itu sangat berharga bagiku karena harus aku tabung dari uang saku-ku selama berhari-hari. Belum lagi jika ada istilah dirugikan secara “Ide”, maka urusannya bakal panjang. rugi waktu jelas, karena aku mengerjakannya selama berhari-nari, sementara dia hanya dalam satu jeda waktu fotokopi sudah selesai.

sejak kejadian itu, setiap kali saya bertemu dengan “teman saya” itu, selalu saya teringat kelakuan dia pada saya. kenapa tidak diikhlaskan urusan kecil begitu? rela dan ikhlas sudah, tapi untuk lupa tidak. (sedikit menirukan jawaban Gus Dur saat ditanya Andy F. Noya).

dan sejak kejadian itu pula saya mendapati bahwa urusan kertas, huruf dan angka yang ada di dalamnya bukanlah urusan sepele. barangkali kertas bisa dibeli dengan lembaran uang. tapi ide, dan kerja keras untuk menghasilkannya, sangat kurang jika hanya dinilai dengan angka uang. maka jawabnya, ikhlaskan saja lah. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s