Yang Pandai dan Bukan Pandai

Inilah kisah yang dapat dijadikan pembeda antara pandai dan bukan pandai. Pandai apa ini? hehehe, Pandai Besi. sebuah profesi yang bergelut dan berusaha untuk menaklukkan besi untuk dibentuk sesuai keinginan.

Selasa pagi yang cerah kala bapakku mengajakku ke tukang pande, atau pandai besi di daerah Dukun, Gresik. Bukan perjalanan yang jauh, pun bukan perjalanan dengan kompas yang sulit untuk dapat menemukan rumah pandai besi itu. Rumahnya terletak tidak jauh dari gapura desa.

Awal bertemu orang tersebut, pikirku orang ini biasa-biasa saja, hingga kemudian ia mengajak kami mampir ke ‘dapur’nya, tempat dimana ia mengolah besi-besi kesayangannya itu. Hari itu adalah hari kelima ia tidak dapat bekerja setelah gigi-gigi gerenda ‘menyembelih’ jari tengah tangan kanannya. Ia sudah mengeluhkan hal itu pada bapakku.

Sampailah pada proses tawar menawar sebagaimana lumrahnya jual beli. Sebagai pendengar setia aku terus mendengarkan percakapan bapakku dan pandai besi itu.

Pinten regine arit ngeten iki?” (berapa harga sabit yang seperti ini?) tanya bapakku.

Nggih, wuruk. Plong-plongan nopo wonten isine” (ya, tergantung. Plong-plongan/Kosong atau yang ada isinya.) hmm? bapak dan aku tercenung.

Mboten ngertos kulo.” (saya tidak mengerti.) bapakku berkata, senada dengan keheranan dalam benakku sendiri.

Nggih mawi diisi nopo mboten.” (pakai ‘diisi’ apa tidak. ) mendengar kalimat tersebut barulah bapakkku, dan juga aku, paham apa yang pandai besi itu maksud dengan ‘plong-plongan’ dan yang ‘berisi’. Hahaha, ternyata maksudnya adalah apakah sabit yang akan dibeli pakai diisi semacam ajian, tenaga dalam atau tidak. Tapi bapakku berkata tidak usah diisi. Dalam perjalanan pulang bapak dan aku tertawa di atas sepeda soal ‘plong-plongan’ dan ‘diisi’, gimana ngga, lah wong sabit yang beliau beli kan dimaksudkan untuk menyabit rumput buat pakan kambing kami saja! hahaha, ngapain pakai ‘diisi’ segala.

Mendapati kejadian itu bagai mengingat empu gandring dengan keris buatannya, serta resi-resi lain dalam serial dan film di televisi. Hadehh, lugu amat aku ini. hahaha….

Mendapati kejadian itu pula, aku teringat pada beberapa teman yang menggeluti dunia silat, ajian dalam, dan hal-hal mistis semacamnya. Macam puasa senin-kamis yang masih bercampur dengan mitos kejawen, serta banyaknya makhluk gaib yang dapat ia ‘lihat’ dengan mata batinnya.

Barangkali aku sendiri yang tidak mengikuti secara ‘in‘ tentang apa yang dinamakan ilmu hakikat, kebatinan, dan hal-hal yang lebih bersifat mendekatkan diri pada yang maha kuasa. Atau jangan-jangan lingkungan yang aku geluti masih bersifat pada keduniaan saja, kebanggaan-kebanggaan yang bersifat lahiriah, dan hal semacamnya yang hanya bersifat semu.

Lihat saja betapa lingkunganku berseliweran begitu banyak remaja dan yang seumuranku yang bergelut dengan hape bak bergelut dengan hidup dan mati. Rasa-rasanya bukan seperti itu kegunaan hape dan teknologi lainnya. Hape dan teknologi lainnya tak lain untuk membantu kehidupan manusia, dan bukannya malah membuat kita hanyut dalam kehidupan konsumerisme macam yang terjadi saat ini.

Dunia kebatinan, ajian, tenaga dalam, barangkali bagi sebagian orang sangat meragukan dan TIDAK RASIONAL. Tapi yang nyata di lapangan, mereka para pelaku hal ini justru mendapati ketentraman tersendiri. Ketentraman yang bahkan Elizabeth Gilbert jauh-jauh mencarinya dengan meninggalkan New York menuju India hingga Bali dan menemui Ketut Liyer.

Hemm, tapi ngga usah mikir jauh-jauh lah. Untuk sementara aku ngga mau mikir yang aneh-aneh soal ajian, tenaga dalam, dan tetek bengek semacamnya. Yang jadi pikiranku saat bertemu pandai besi itu adalah anak gadisnya. Wakakakaakkkk…… gubrak!

Kok beralih kesitu? Ya iyalah! jadi kepikiran aku, apakah harus menjadi pandai besi dulu untuk menjadi menantu seorang pandai besi? Hahahaha, big question. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s