Berani Mengakui Kesalahan

Entah bagaimana topik pembicaraan itu muncul saja dalam percakapanku dengan seorang teman pagi ini. Tentu topik itu bukanlah bagian utama dari pembicaraan kami kali ini, topik itu muncul setelah begitu banyak topik lain yang kami bahas.

Beberapa artikel yang kalau kita cari di Google menyebutkan tema serupa. Ada beberapa yang menyebutkan pengakuan tertinggi mengenai mereka yang mau mengaku bahwa mereka telah melakukan kesalahan, sebagian lain menuliskan bahwa mengakui kesalahan bukanlah bagian mudah untuk dilakukan. Dan aku sendiri mengakui bagaimana sulitnya mengakui kesalahan, namun aku belajar untuk dapat melakukannya.

Barangkali memalukan, menjengkelkan, bahkan keangkuhan kita muncul untuk melakukan pengakuan itu. Terlebih setelah memberikan tuduhan yang sama sekali tidak terbukti, macam orang yang barusan menuduh orang lain menjadi maling, namun setelah diselidiki tidak terbukti, HARUSNYA orang itu meminta maaf. Bukan menuntut, tapi sebagai pembuktian bahwa ia salah tuduh. Oleh sebab itu kenapa ada istilah ASAS PRADUGA TIDAK BERSALAH, tidak lain untuk menghindari tuduhan yang tidak beralasan. Satu artikel yang kucari di Google juga menyebutkan, beberapa masalah tidak akan selesai dengan baik jika tidak ada salah satu pihak yang mengakui kesalahan.

Ada tambahan pengaya bagi tulisan ini.

Beberapa jam sebelum menulis ini saya bertandang ke sebuah SPBU di daerah Kecamatan Sidayu, Gresik. Maksudku hanya memberikan surat yang berisi ucapan terima kasih dari ketua kampus pada SPBU tersebut karena telah mengizinkan mahasiswa Teknik Industri untuk dapat melakukan kegiatan praktikum di SPBU tersebut.

Saat aku bertemu pimpinan SPBU tersebut, ia sedang menerima tamu lain. Rupanya rekanan bisnisnya. Kok aku bisa tau? Ya iya, lah wong ada beberapa gepok uang yang tergeletak di mejanya. Hahahaha……. Barangkali Bukan, Hayo!!!! Udah ah! anggap aja gitu, Hehehe…

Dengan nada agak kurang menerima, saya disuruh menunggu, yang ternyata begitu lama! Ya, aku rasakan lama benar. Jam 10. 10 aku sampai di SPBU, aku baru benar-benar ditemui oleh pimpinan tersebut jam 11. 10! WOW!

Barulah pimpinan SPBU tersebut mengaku menyesal telah membuat menunggu lama–yang benar-benar lama! Sedangkan aku ‘hanya’ mengantarkan ucapan terima kasih.

Sebenarnya bagiku tidak masalah disuruh menunggu. Toh aku tidak membawa satu hal yang mendesak.

Hemmm, Nice. I interested with the way of that people to behave. Bagiku orang itu tidak salah, karena kan aku yang punya kepentingan dengan dia, sementara dia masih harus melakukan kepentingannya. Namun dengan jujur dan terbuka pimpinan tersebut meminta maaf atas penungguan yang lama itu. Permintaan maafnya itu ia ulangi padaku hingga tiba waktu aku berpamitan pulang!

Rahasia Gusti Allah. lah wong sebelum aku ke SPBU itu memang aku sudah punya ancang-ancang tulisan dalam beberapa paragraf di atas, namun justru tulisanku menjadi kaya isi setelah adanya penantian itu. Selalu ada hikmah di balik kejadian. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s