Bersyukur

“Lelah aku menjalani hidup ini….”

Kalimat di atas adalah potongan SMS yang masuk dalam inbox hape saya beberapa hari yang lalu. Pendek memang, lah wong SMS! Hahaha……..

Tapi saya tidak begitu suka! karena SMS itu begitu menunjukkan bahwa si pengirim begitu merasa bernasib paling malang di dunia ini. Seolah dia sendiri yang mengalami kemalangan itu. Pessimistic!

Sebesar apa ia tengah mengalamai masalah? sehingga begitu ‘jatuh’ dia merasakan kehadirannya di dunia ini. Tidakkah setiap orang sudah mendapat jatah dari Gusti Allah, segala sesuatu yang bernama jodoh, rejeki, termasuk juga masalah? Maka kenapa sampai ia begitu berputus asa.

Melihat ke Bawah:

Ada satu ajaran yang begitu bagus, yakni soal keduniaan kita diperintahkan untuk melihat ke bawah. Ajaran yang memerintahkan kita bahwa dalam urusan dunia, masih begitu banyak orang yang lebih bernasib malang daripada kita. Maka dengan cara tersebut kita dapat merasa bersyukur, tenang dan damai pikiran serta hati kita.

Saya sendiri masih belajar untuk bersyukur, masih belajar untuk melihat ke bawah. Sudah begitu banyak kutipan-kutipan yang saya baca bahwa Gusti Allah tidak akan memberikan sebuah ujian dan cobaan di luar batas kemampuan manusia, sehingga manusia harus mencari batas kemampuannya untuk menyelesaikan permasalahan yang tengah dihadapi. Dengan mengingat-ingat hal itu, kita akan paham bahwa kita bukan yang paling malang, dan kita dapat menyelesaikan masalah yang kita hadapi!

Analogi Sebuah Ujian dari Tuhan:

Kutipan lain yang begitu berkesan adalah Gusti Allah akan memberikan satu ujian pada manusia(pasti!), jika manusia itu dapat lulus dari ujian yang diberikan maka Gusti Allah akan menaikkan derajat manusia itu. Sebaliknya, jika manusia itu tidak dapat memaksa dirinya untuk lulus dari ujian, dengan sendirinya ia akan menjatuhkan derajat dan harga dirinya. Analogi yang sama pada siswa yang mengikuti ujian kenaikan kelas. Bagaimanapun juga siswa yang mengikuti ujian kenaikan kelas itu harus berusaha sekeras mungkin untuk dapat naik kelas, bukan?

Jika kita mengingat hal tersebut, maka kita akan serempak berkata “iya”! Kita sudah diberi begitu banyak cerita dan kisah bagaimana para nabi diberikan begitu banyak ujian oleh Gusti Allah. Bagaimana para pemimpin besar di dunia tidak ‘lelah’ menghadapi begitu banyak rintangan sebelum mereka disebut berhasil dalam kehidupan mereka.

Maka mari kita belajar untuk memaksa diri kita menghadapi sebuah ujian Tuhan!

Lingkungan Turut Mewarnai:

Beberapa tahun yang lalu seorang paman berujar pada saya bahwa lingkungan memberikan pengaruh pada kepribadian seseorang. Waktu itu saya tidak begitu memahami, dan baru waktu belakangan ini saya mendapati bahwa pernyataan paman saya itu benar.

Diakui atau tidak, jika kita mendapati rekan kerja yang begitu pesimistis, pengeluh, dan hal lain yang tidak mengenakkan, kita akan merasa jengah dan capek dengan orang itu! kita ogah-ogahan dengan orang itu!

Ya, akhirnya saya mendapati dimana letak kebenaran ujaran paman saya itu. Maka jelas lingkungan yang penuh ‘energi positif’ kita perlukan dalam membangun iklim yang positif pula.

Bukan Paling Malang:

Saya ulangi sekali lagi bagi diri saya sendiri, Maka kita sendiri yang harus memaksakan diri sendiri untuk terus bersyukur dan menerima bahwa masih begitu banyak orang yang tidak lebih beruntung dari kita. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s