Reruntuhan Bangsa-bangsa

Tidak tahu harus memberi judul “Runtuhan Bangsa-bangsa” atau “Reruntuhan Bangsa-bangsa,” tapi yang kupilih adalah judul di atas. Ya, reruntuhan bangsa-bangsa yang pernah berjaya di jamannya. Hemm, jadi sejarawan dalam artikel ini. Hahahaha….

Kemarin browsing di Cak Google dengan kata pencarian beberapa nama kuil kuno. Yang tampak antara lain dari tinggalan era Sassanid, Persia, Babylon, Romawi, Samartungga di Jawa Tengah, hingga yang paling dekat keruntuhannya, Prussia dan Uni Soviet.

Maka sampailah pada halaman Wikipedia, halaman yang menyajikan begitu banyak cerita dan sejarah mengenai runtuhan bangsa-bangsa lampau.

Melihat sisa bangunan macam Persepolis dan Palmyra, serta tambahan keterangan dari para arekolog dalam gambaran kreasi mereka mengenai kehidupan di masa itu, membayangkan betapa ramainya pusat-pusat kebudayaan masa lampau. Tidakkah reruntuhan tersebut dapat dibayangkan dengan New York di masa ini, atau Tokyo yang lain di masa lalu. Tapi kenapa mereka semua tumbang dan ditinggalkan warganya? Kemanakah mereka, seperti New York yang mendekati ketakutan dan kecemasan setelah 11 September.

 

Apa yang menjadikan mereka hancur dan sepi ditinggalkan keramaian dunia yang dulu pernah mereka raih? Apakan mereka mengalami hal yang serupa seperti zaman Byzantium, yang dalam banyak halaman telah diramalkan kehancurannya oleh Al-Qur’an? Entahlah, tapi yang jelas sisa-sisa kebudayaan yang bahkan sudah tertimbun tanah macam Borobudur, atau hancur lebur macam taman bergantung Babylon, mereka dapat menjadi pelajaran. Pelajaran yang sangat berharga.

Pelajaran bahwa se-adidaya apapun sebuah kekuatan di dunia ini dapat hancur seketika. Bisa dilihat bagaimana Uni Soviet kini tinggal nama dan tinggalannya. Amerika Serikat? dalam beberapa episode acara Oprah Winfrey sudah membicarakan Amerika Serikat menunjukkan angka menurun dari ranking satu seluruh dunia, walaupun belum merosot sekali. Para Dikator Timur Tengah yang dulunya menjadi sekutu dari barat, kini telah ditinggalkan dan dirongrong oleh bangsanya sendiri yang telah lelah dengan sabdanya.

Apa yang dapat diagungkan oleh manusia? bukan kekuasaan semu. Bukan pula pelarian diri dari Gusti Allah. Bukan pula menggali dan membangun kembali dengan mati-matian apa yang telah menjadi bagian dari sejarah. Apakah yang dinamakan menghargai sejarah harus dengan membangun kembali Kuil Sulaiman, seperti yang dilakukan oleh Israel seperti dalihnya saat menggali seputaran Al-Aqsha? Ataukah yang dinamakan mempelajari nilai sejarah harus dengan membangun kembali Patung Buddha di Bamiyan Afghanistan akibat ulah Taliban yang menghancurkan patung itu dengan dinamit di tahun 2001?

Aku pikir nilai sejarah terletak pada semangat dan ‘roh’ yang dibawa. Kuil Sulaiman sudah usang! Patung Buddha di Bamiyan biarlah menjadi catatan kejahatan Kaum Taliban! Karena sejarah lebih daripada nilai bangunan semata.

Bukankah kitab-kitab samawi telah banyak menjelaskan berbagai kehancuran bangsa? mulai dari Pharaoh atau Fir’aun, hingga bangsa Yunani yang kini mencoba untuk bangkit dari reruntuhan Polis-polisnya?

Sungguh, melihat reruntuhan-reruntuhan kejayaan bangsa di masa lampau memberikan pelajaran. Bahwa manusia janganlah menjadi pongah, bahwa menjadi apapun kita janganlah menjadi lupa diri dan asal-usul bagaimana banyak orang yang menjadikan diri kita seperti yang kita banggakan dan kadang kita sombongkan itu. Tak pantas kita sombong, tak pantas kita berbangga atas keadaan diri kita. Pun tak pantas pula jika kita rendah diri. Sejarah menunjukkan kehancuran Hiroshima dan Nagasaki tidak lantas menjadi kehancuran bagi Jepang secara keseluruhan. Contoh lain adalah bangsa Eropa yang menamakan masa kegelapan bagi era kebodohan mereka di abad pertengahan, malah mendapatkan apa yang kini mereka agungkan sebagai masa pencerahan, Renaissance ataupun Aufklarung. Kebangsawanan? Hah, apa yang dapat dibanggakan dari kebangsawanan di era yang tidak peduli lagi dengan raja-rajaan! usang!

Sungguh cerita manusia adalah perulangan dari cerita bangsa-bangsa yang telah lalu. Kita lihat bahwa manusia telah paham cerita tentang keberadaan hukuman kaum Nabi Luth, namun kini peradaban yang dikutuk Gusti Allah di masa lalu seolah diberi ruang bebas oleh bangsa-bangsa barat, bahkan sebagian gereja-gereja kini tunduk dan patuh dengan mengizinkan pernikahan sesama jenis! Seolah mereka tutup mata akan arti nilai sejarah bangsa yang telah hancur tanpa jejak itu.

Lalu apa yang kita cari? Pikirku adalah bekal mati. Lalu apa lagi yang kita cari kalau bukan bekal mati? Apa kita ingin memiliki rupa makam macam Mumtaz Mahal, yang berupa Taj Mahal? Ngga kan? Karena ujungnya kita akan masuk lubang yang pas dengan tubuh kita. Ditambah dengan bekal kain yang membungkus tubuh kita.

Sejarah telah menunjukkan kekuasaan manusia sudah berakhir dengan begitu banyak kehancuran. Maka tak pantas kita sombong atas keberadaan diri kita di dunia. Gusti… Kawula nyuwun pangapuran… []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s