Berjalan Kaki

Pagi ini, tepat beberapa menit sebelum menulis artikel ini, seorang paman bertutur padaku, “Kok Mlaku wae? Gak nggowo sepeda?” (kok jalan kaki saja? gak bawa sepeda(motor)?). Dan aku hanya mengulas senyumku yang tidak manis tapi bikin kangen, Wkakakakak. 😀

Pikirku tak usahlah aku memberi jawaban, macam penuturan dan pertanyaan beberapa orang yang sengaja tidak kujawab karena aku tidak punya jawaban. Dan pikirku lagi, bukankah pertanyaan pamanku itu macam sapaan saat bertemu seseorang? Bagiku, iya.

Soal jalan kaki, sebenarnya ……… entah harus dari mana aku menjelaskan. Tapi apakah mengandung suatu hal yang perlu dikasihani jika kita melihat seseorang berjalan kaki? Pernah aku mendengar adik-adik SMP-ku yang saat berpapasan dan mendapatiku berjalan kaki berkata “Ya Allah, saknoe kok mlaku, Cak?” (Ya Allah, kasihan banget, kok jalan kaki, Cak?).

Aku kadang tertawa sendiri dalam hati sambil berkata dalam benak, apa memang iya ada yang perlu dikasihani dari seorang yang berjalan kaki? Bukankah ada pilihan bagi orang mau jalan kaki apa ngga. Ataukah untuk ukuran saat ini kita ‘harus’ bersepeda motor? Hemm, pertanyaan lagi.

Ada guyonan antara aku dan seorang teman soal kebiasaanku berjalan kaki. Kejadian ini kurang lebih bulan November 2010, saat PC IPNU Kabupaten Gresik mengadakan Konfercab di Desa Banyuurip Ujungpangkah. Sebelum berangkat aku bertanya dengan temanku yang anak Banyuurip, apa ada ojek jika aku naik bus dan turun di jalur pantura? Mengingat jarak antara jalur pantura dan Banyuurip masih beberapa kilometer lagi. Kata temanku, jika kita turun dari bus pasti ada ojek yang menawari jasa, semalam apapun.

Maka berangkatlah aku dari Bungah, Gresik naik Bus Armada Sakti hingga daerah Sekapuk Ujungpangkah, dengan menyusur jalan Daendels. Itu adalah bus terakhir sekitar jam 9 malam. Nhah, sampai di Sekapuk, masih ada jarak beberapa kilometer lagi untuk sampai di Banyuurip.  Tapi aku bersikeras dan membantah ucapan temanku itu, tak ada satu ojek pun yang menawari jasa padaku! Huff, membuatku terpaksa minta jemput salah seorang peserta Konfercab.

Mendengar bantahanku, temanku itu melontarkan guyonan, “berarti wong omprengan e paham, lapo arep nawani wong sing ketoro nee biasane mlaku.” (Berarti tukang ojeknya paham, ngapain menawari orang yang sudah kelihatan terbiasa jalan kaki).

Aku mikir-mikir, mungkin. Hahaha… 😀

Tapi bagiku, yang jelas mau jalan kaki apa ngga itu adalah pilihan. Ngga usah beralibi bahwa jalan kaki biar sehat lah, atau biar menambah vitalitas lah. Ngga usah… bilang aja ngga punya sepeda motor. Kikikikkkk… 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s