Dekadensi Moral; judul lama berulang kembali

Judul di atas merupakan ‘olahan’ dari tema seminar yang diangkat oleh panitia seminar Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Karangrejo Kecamatan Ujungpangkah, Gresik. Seminar yang diselenggarakan kemarin (27/7 2011) itu dihadiri pemuda di kawasan sekitar Ujungpangkah dan beberapa peserta dari Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya.

ngapain undangan di-scan segala. hahaha

Hadir sebagai pembicara ialah Husnul Karimi, mantan aktivis salah satu partai islam di masa orde baru. Alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya tersebut menyinggung bahwa tema yang diangkat oleh panitia merupakan sebuah tema lawas, namun ia berterus terang menarik untuk menggali kembali tema mengenai dekadensi moral tersebut. Karimi mengatakan bahwa tema dekadensi moral perlu untuk kembali diangkat ke ranah publik melihat kondisi sosial masyarakat, terutama para pemuda yang kondisi dan keberadaannya sekarang cukup memprihatinkan.

garis besar materi Husnul Karimi

Pria yang berdomisili di Desa Mriyunan Kecamatan Sidayu ini mengungkapkan bagaimana fenomena tawuran, minum-minuman keras, hingga hubungan remaja yang cenderung mengarah pada hubungan bebas, makin menggejala dan mewabah secara meluas. Hal ini ia ungkapkan sebagai wujud dari globalisasi yang tidak tersaring. Segala macam tubrukan budaya dari barat tidak dapat diseleksi dengan baik oleh para remaja.

scan materi, bagian 1

Tidak hanya itu saja, ternyata peran IPNU (dan IPPNU, pen) dipandang oleh Cak Uk–demikian Husnul Karimi memberikan nama alias pada lembar materinya–semakin terpuruk jika dibandingkan dengan kondisi IPNU-IPPNU pada beberapa periode yang telah lalu. Hal ini ia buktikan dengan kurang kritisnya para kader IPNU-IPPNU dalam wacana program kerja yang disampaikan dalam forum rapat. Kondisi lain yang Husnul Karimi ungkapkan sebagai makin terpuruknya kondisi remaja nahdliyin ialah hilangnya budaya dibaan, manaqiban di desanya. Cak Uk mengatakan bahwa benteng agama Islam ala Ahlussunnah Wal Jamaah sudah seharusnya kembali diperkuat.

materi seminar; potongan kedua

Adalah gugahan bagi warga nahdliyin di tiap lini untuk kembali menata diri dan kembali merangkul anak-anaknya, agar tidak menjadi anak-anak yang tidak mengenal siapa ‘bapak’ mereka. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s