Gejolak Papua

Beberapa hari terakhir pemberitaan di media massa berfokus pada Papua, belahan timur Indonesia. Jika kita ingat kembali, gejolak kali ini bukanlah gejolak yang pertama kali, sudah ada rentetan peristiwa serupa. Intinya satu, menuntut kesejahteraan masyarakat Papua dengan mengusung ide referendum.

Tanah Papua

Dalam halaman situs Radio Nederland Wereldomroep, disebutkan bahwa gejolak yang saat ini tengah terjadi, tersulut dari sebuah konferensi yang diselenggarakan di London, Inggris Raya. Lagi-lagi sebuah latar belakang, yang tidak bisa tidak, dinilai dengan sarat muatan politik.

Janji manis pendirian sebuah negara

Entah bagaimana saya harus mencari tau benang kusut rusuh Papua ini. Dalam buku sejarah yang beredar di sekolah, dikatakan bahwa dalam masa Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) didapati hasil ternyata mayoritas rakyat Papua menghendaki bergabung dengan Indonesia (Atau kurang lebih demikian). Tapi kenyataan di lapangan banyak diberitakan bahwa Pepera adalah sebuah kesalahan.

Entah dari mana saya harus memulai, namun bercermin dari peristiwa lepasnya Timor Timur (Timor Leste, pen) dari Indonesia merupakan satu bukti tersendiri yang patut dihindari. Bukti tersebut berjalan dengan sendirinya bahwa muatan politik begitu mewarnai getol-nya pihak internasional dalam rangka melepaskan Timor Timur saat itu. Dapat kita lihat bagaimana Australia kini mengeksplorasi dengan habis-habisan cadangan minyak di laut Timor. Lihatlah bagaimana eksplorasi ini pada akhirnya menjadi sebuah petaka bagi Indonesia, setelah tumpahan minyak tersebut merembet ke wilayah kantong ekonomi penduduk Indonesia(Majalah Tempo Online).

Eksplorasi tanah air

Kini kita melihat bagaimana isu hak asasi manusia (HAM) yang dulu dihembuskan saat masa Timor Timur hanyalah pepesan kosong belaka. Nyata sudah bahwa muatan politis yang menguntungkan pihak luar lebih bermain daripada “isu mulia” atas nama DEMOKRASI dan HAM.

Maka saudaraku rakyat Papua, tetaplah bersatu dalam NKRI. Jangan pernah terhasut oleh rongrongan politik masyarakat internasional. Harusnya menurut saya yang perlu dituntut adalah ketidaksejahteraannya, bukan harus dengan mendirikan sebuah negara yang notabene-nya bukan jaminan mensejahterakan sebuah bangsa.

Sebagaimana kata Ir. Soekarno, JAS MERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Saudaraku, kita pernah terpecah dengan hasutan politik Devide et Impera, maka jangan sampai itu terulang lagi! []

Iklan

2 thoughts on “Gejolak Papua

  1. dinneno berkata:

    coba kalau dari dulu pemerintah memberikan perhatian yang sama untuk setiap daerah di Indonesia, tentunya tidak akan ada gejolak2 ingin keluar dari NKRI.

  2. Muhammad Afif Effendi berkata:

    sip! memang perlu concern dan perhatian lebih soal papua. yang penting jangan sampai terwujud misi internasional untuk memecah NKRI. by the way, tuh Freeport kayak anteng-anteng aja yah… 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s