Menggambarkan Finlandia

Portraying Finland

Membaca salah satu buku dari paket kedutaan Finlandia, berjudul Portraying Finland, menarik untuk mengetahui lebih jauh. Buku yang berisi kumpulan artikel dari beberapa penulis itu mengulas banyak hal tentang Finlandia. Mulai dari sejarah, kultur dan budaya, ekonomi dan masih banyak lagi.

Salah satu bagian yang cukup menarik bagi saya antara lain mengenai larangan minum-minum, atau kurang lebih begitu. Silakan dikoreksi terjemahan saya, di halaman 63 ada bagian yang menjelaskan bahwa di tahun 1932 terdapat aturan mengenai larangan minum-minum. Minum-minum dipandang sebagai masalah sosial! eh, beneran toh? nih kutipannya, monggo dikoreksi terjemahan kasar saya. 🙂

The new law on alcoholic beverages introduced in 1932 did little to alter this mind-set as it was still close to prohibition. Drinking was viewed as a social problem and a matter of law and order …

Potongan artikel di atas adalah tulisan Laura Kolbe, Ph.D., seorang profesor di Departemen Sejarah Universitas Helsinki.

Membaca lebih jauh, ada yang lebih menarik lagi. Kali ini soal ekonomi. Dalam ulasan soal ekonomi, yang banyak “berbicara” adalah Jyrki Vesikansa, Lic.Pol.Sc., seorang jurnalis.

Biasa… kalo soal duit-duit gini bacanya jadi agak nyantol… 😀

Dalam tahapan sekarang, saya baru bisa menyimpulkan bahwa insentif-insentif yang diberikan oleh Pemerintah Finlandia pada warganya begitu menggiurkan. Dari segala sisi kayaknya kok warga Finland banyak mendapat kemudahan dari sisi finansial. Or just my own imagination? 🙂

Hal ini dapat dipahami karena latar belakang ekonomi Finlandia yang telah sekian tahun bergulat dan akhirnya mencapai sukses di tahun-tahun ini. Pergulatan itu antara lain saat masa perang dunia I dan II. Hingga masa munculnya Nokia sebagai merek dagang yang paling depan, hingga buku ini ditulis.

Entah bagaimana kabar terbaru di sana setelah Eropa pada tahun-tahun belakangan diguncang krisis.

Saking OK-nya insentif yang diberikan, Vesikansa bahkan menuliskan sebuah ungkapan begini, “To be born a Finn is like winning a lotery“. Weleh-weleh, lahir sebagai seorang Finlandia bak memenangkan lotre! tenan ta kuwi??

Membaca berkali-kali ungkapan yang ditulis Vesikansa, jadi ingat pelajaran saat di bangku sekolah. Masih ingat dengan ungkapan, kita harus bersyukur lahir sebagai manusia Indonesia yang kaya akan alam dan sumber daya yang berlimpah. Kayaknya para pemimpin Indonesia harus berpikir ulang agar tidak sekedar menjual slogan. 🙂

Bagaimanapun juga, Finlandia dengan capaian dan kemajuan negaranya saat ini, tidaklah dicapai dengan waktu singkat. Finlandia telah bergulat dengan banyak hal dan tantangan alamnya. Bukankah Indonesia juga harus punya semangat itu? [Afif E.]

 

Informasi tentang buku:

Judul: Portraying Finland (Second, revised edition)

Editorial Board: Laura Kolbe (Editor-in_chief), Juha Parikka, Liisa Suvikumpu(Picture Editor), Eva Reenpaa, Marita Jaakkola

Penerbit: Otava Publishing Company Ltd

Kota Terbit: Helsinki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s