Berani Berbahasa Asing

Menarik perhatian saat membaca tulisan Rhenald Kasali di salah satu kolom Jawa Pos (Senin, 19 September 2011) di halaman 5. Sebagai seorang ekonom, wajar dia menyertakan judul “ekonomi” dalam tulisannya. Judul tulisan Kasali adalah “Ekonomi Bahasa Inggris.”

Artikel Rhenald Kasali Jawa Pos 19 September 2011

Inti dari tulisan Rhenald kurang lebih bahwa kita harus melatih terus kemampuan berbahasa asing kita. Tanpa mengurangi segala macam aturan dan Grammar, yang tak kalah penting adalah mempraktikkannya. Bicara langsung!

Membaca artikel Kasali tersebut, mengurangi rasa malu saya saat pergi ke Bali pada April 2010 lalu, rasa malu tapi lucu. Kenapa kok begitu? Here the story.

Di atas kapal penyeberangan, saya dan teman-teman naik ke dek kapal paling atas. Saya memilih menyandar pada pagar pembatas dek dan memandang ke luasan selat Bali. Tak berselang lama sepasang bule backpaker turut menyandar ke pembatas dek di dekat saya.

Pasangan laki perempuan—yang ketika saya tanya bukan suami istri itu—berbicara dengan bahasa ibu mereka. Terka saya mereka berbicara bahasa Perancis. Mengingat gaya bicara mereka yang menurut saya sengau dan bunyinya berada di bibir.

Dengan agak gerogi, kemudian saya menyapa si gadis yang memang berada di sebelah saya.

France, Miss?” waktu itu saya ragu apakah spelling saya sudah betul.

Yeah, and you?” si gadis Perancis bertanya balik.

I’m Indonesian. Javanese.

Banyak saya bertanya pada mereka berdua termasuk apakah mereka suami-istri(yang kemudian mereka mengelak dengan gaya ales. Hahahaha), termasuk keterangan bahwa mereka baru saja dari bromo.

Have you ever go to Bromo.” Si gadis Perancis bertanya.

Ups… hehehe, beberapa waktu terakhir saya pikir grammar saya gak karuan! 😀

Barangkali mendapati jawaban yang kurang memuaskan serta dengan grammar yang ngga karuan, mereka berdua kembali bicara dalam bahasa Perancis. Barangkali menertawakan saya, wakakakakakak… 😀

Tapi setelah membaca tulisan Kasali, semacam mendapat pencerahan, bahwa betapapun kita sudah menguasai grammar, yang penting adalah speak up alias berani ngomong. Grammar sudah tidak berguna jika kita tak berani bicara.

Lalu mana bagian lucunya?

Bagian lucunya adalah saat teman-teman saya bertanya, “Kok kamu pinter ngomong bahasa Inggris?”

Dalam hati saya menjawab sambil tertawa ngakak, “Grammar-nya salah semua!!!! 😀 ”

Hingga hari ini saya baru membuka lewat tulisan ini. Entah apa mereka membaca bagian ini. Hehehehe… [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s