Ali Sastroamidjojo; Mahasiswa 1923-1927

Membaca otobiografi Ali Sastroamidjojo seolah turut serta masuk dalam alam tahun 1920-an. Masa dimana negara Indonesia masih belum berwujud. Negara ini masih berstatus Hindia Belanda.

Tonggak-tonggak di Perjalananku, begitu tajuk buku terbitan PT. Kinta ini. Bercerita panjang lebar mulai dari lahirnya Ali Sastroamidjojo, hingga masa ia menjadi menteri dan duta besar. Dan pada bagian ini saya ingin menulis “semacam” resensi pada bagian Mahasiswa (1923 – 1927), masa dimana Ali menempuh masa kuliah hukum di Universitas Leiden, Belanda.

Berangkat dari Batavia (Jakarta) diakhir 1922, Ali Sastroamidjojo semula bertujuan mendaftar di Jurusan Sastra dan Kebudayaan Timur di Leiden. Namun dengan alasan waktu studi yang lama, Ali memutuskan untuk masuk jurusan hukum. Maka Ali mulai dengan kehidupannya sebagai mahasiswa.

Ali menceritakan ketertarikannya pada Perhimpunan Indonesia, dimana ia bertemu dengan beberapa “bakal tokoh” kelas Hatta, Iwa Kusumasumatri dan beberapa “bakal tokoh” lain.

Dalam tahun 1923 hingga 1927, merupakan bagian cerita menarik, dimana Ali dan kawan-kawan dengan jiwa mudanya memperjuangkan idealisme kemerdekaan Indonesia. Berjuang di tengah-tengah para londho di negeri belanda sana.  Menghadiri konferensi-konferensi demi kobarnya berita mengenai kekejaman pemerintahan kolonialis.

Bagian yang tak kalah menariknya adalah saat menjelang kelulusannya dari Leiden. Sehubungan penahanan Ali di tahun 1927 oleh pemerintah Belanda,  bersamaan dengan itu pula Ali harus menghadapi masa ujian kelulusan dari fakultas hukum. Jadi membayangkan bagaimana mahasiswa “pribumi” yang dalam masa tahanan, harus pula berjuang dengan kelulusannya. Barangkali kalo bukan mahasiswa yang tahan banting, pasti bakal mangkrak. 😀 Kegigihan Ali tersebut digelayuti oleh tanggung jawabnya karena sudah beranak istri.

Saya sendiri masih butuh menyadarkan diri dari rasa amazed karena membayangkan bagaimana mereka-mereka (Hatta, Ali dan kawan-kawan) tampil di pentas internasional dalam status mereka sebagai MAHASISWA. Sedangkan bejibun mahasiswa di tanah air yang melenakan status mahasiswa itu sendiri untuk “sesuatu” yang lain. hemm, another problem maybe.

Bagi siapa saja saat ini, tampaknya buku yang satu ini musti jadi “a must to read“. Kudu dibaca! Buku yang cetakan kesatunya terbit tahun 1974 dan setebal 595 halaman ini bener-bener asyik buat diikuti. Saya ngga mau bercerita panjang lebar, gak pakek lama, langsung cari dan baca! 🙂 Walaupun buku lama, namun sebagai sebuah otobiografi dari tokoh nasional Ali Sastroamidjojo, rasanya ngga rugi dan perlu buat kita baca. [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s