Cucu Moyangnya Pelaut, Harusnya Bisa “Melaut”!

Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

Pernah mendengar potongan syair lagu di atas? Paling ngga kalo generasi saya, lagu tersebut sudah dinyanyikan saat sekolah bangku TK. Lagu di atas menjelaskan bahwa kita adalah cucu moyang dari seorang pelaut.

Judul di atas tidak harus diartikan kita benar-benar menjadi pelaut loh… maksud saya, paling ngga, karena negara kita Indonesia adalah negara kepulauan dan dikelilingi oleh perairan maka kemampuan untuk berenang itu penting!

Saya bukan tipe perenang yang baik hingga bernyali menulis artikel ini. Wong renang saya saja renang gaya batu! Hahaha. Ada latar belakang kenapa saya menulis artikel ini.

Suatu kali saya dengan teman saya pergi ke kolam renang umum di Lamongan. Saat akan pulang hujan deras turun dengan tiba-tiba. Kami terpekur di tempat parkir ditemani tukang parkir kolam renang itu. Maka kami pun bercakap-cakap, hingga si tukang parkir ngomong begini, “ meskipun saya pegawai kolam renang ini, tapi sekalipun saya tidak pernah mandi di kolam renang ini.” MAKSUDNYA??? Saya dan teman saya bertanya.

Ternyata, tukang parkir itu tidak bisa berenang. Dan yang agak ganjil lagi, tukang parkir itu pada saat tertentu berprofesi menjadi nelayan! Hello, nelayan? Kalo nelayan bukan di daratan, kan? Pasti di laut yang penuh air, kan?

Lah kalo tenggelam bagaimana? Jawab si tukang parkir enteng, “kan kalo melaut ngga sendirian.. ya, pasti ada yang nolong…”

Wew, kok mengentengkan banget ya… wong kondisi kapal tenggelam bukan barang baru bagi para nelayan. Kondisi ombak yang tidak menentu, harusnya para nelayan tau resiko itu. Dan tidak bisa berenang? Rasanya ganjil sekali.

Tapi saya juga pernah menemui kejadian serupa. Di Bengawan Solo di sisi Kabupaten Gresik, ada beberapa nelayan atau pencari ikan yang tidak bisa berenang.

Agaknya kemampuan berenang amat diperlukan. Walaupun kita tidak menjadi nelayan. Karena bagaimanapun, kondisi negara kita bergumul dengan laut dan kepulauan. Misal kita pergi ke Bali dengan menyeberang. Yang kita seberangi adalah laut! Buka daratan.

Atau barangkali perlu kurikulum renang bagi pendidikan anak sejak dini? Kayaknya butuh, apalagi anak-anak sudah dijejali dan “ditahan” di sekolah hingga siang hari. Kapan belajar renangnya? Paling enakkan kalo di sekolah juga ada pelajaran olahraga renang. Tapi yang tidak kalah penting, guru olahraga renangnya harus bisa berenang terlebih dahulu. Hahaha…. [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s