Gresik Berbakat menjadi Pemusnah Kendaraan Angkutan Umum

Baru tanggal 21 Maret 2012 lalu saya pulang dari Sidoarjo. Dan kesalahan saya adalah saya yang bepergian menggunakan bus, transit terlebih dulu di kota Gresik! Harusnya saya terus melaju saja dengan bus yang saya tumpangi hingga sampai di rumah.

Malam hari—masih pukul 7 malam—saya menaiki satu-satunya angkutan umum yang tersisa di depan supermarket Ramayana Gresik. Angkutan tersebut, menurut rute kebiasaannya adalah menuju ke wilayah utara dari Kabupaten Gresik yakni, kecamatan Manyar, Bungah dan Sidayu. Tapi tidak, malam itu, karena si sopir sangat jengah lama menuggu tidak adanya penumpang(hanya saya). Sehingga dengan keputusan seenaknya saja dia menurunkan saya di pertigaan Tenger, Kecamatan Manyar. Rumah saya masih sepuluhan kilometer lagi dari Kecamatan Manyar! Ngga mau ambil pusing, saya meminta adik saya untuk menjemput saya di Manyar.

Pengalaman di atas, rasa-rasanya membuat saya jengah kalau akan naik angkutan umum di Gresik. Ketiadaan penumpang menyebabkan para sopir angkutan umum merugi. Jelas kan hitung-hitungannya? Dengan jarak yang demikian jauh, hanya akan membawa penumpang yang tidak seberapa, dan dengan hasil yang tidak seberapa, dengan pengeluaran bensin yang sudah pasti!

Saya jadi ingat betapa saat saya masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (SD)—dan itu antara tahun 1997 atau 1999, rasanya masih sepuluh tahun yang lalu, kan?—saya dan keluarga harus berjejalan dengan banyak penumpang angkutan umum, karena saking banyaknya penumpang angkutan. Betapa kondisi tersebut kontras dengan tahun-tahun ini? Apa atau dimananya yang salah? Sistemnya? Atau pembuatan kebijakan yang salah?

Katakan saja kebijakan penjualan kendaraan bermotor dengan harga kredit yang “super” murah. Saya pikir memiliki kendaraan pribadi adalah sah saja. Tapi apakah menjadi bijak membunuh angkutan masal? Yang notabene-nya malah tengah digalakkan di berbagai kota di belahan dunia, termasuk Jakarta. Saya usul, perlu lah dibicarakan dan direncakanakn secara matang dan tidak emosional sesaat. Bagaimanapun, angkutan masal bagi sebuah daerah adalah penting. Ia bermakna sebagai infrastruktur pendukung bagi ekonomi dan sosial bagi masyarakat di sebuah daerah, disamping banyak kepentingan lain, misal dari segi “pemanasan global” dan penghematan anggaran subsidi BBM. [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s