KELILING KAMPUS DUNIA: Bagian Satu (1975)

Membaca buku karya Erlangga Ibrahim dan Fadel Muhammad ini, kita akan serasa kembali ke era 1970-an (ya iyalah, lah memang memorial kok! 😀 ). Buku ini sebenarnya banyak berisi kumpulan artikel dari Erlangga dan Fadel saat mereka masih menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung atau ITB. Maka jelas, dari isi tulisannya memberi wawasan bagi mahasiswa era 2000-an—yang bahkan mungkin belum lahir di era 1970-an—untuk mengetahui seluk beluk politik, kehidupan kampus dan otoriterisasi oleh pemerintahan berkuasa pada kampus di berbagai negara, terutama di kawasan ASEAN, dan negara lainnya.

Erlangga dan Fadel yang kala itu menjadi redaktur majalah Scientiae, berkelana menjelajah berbagai kampus di Malaysia, Muangthai (Thailand), Singapura. Berbekal dengan ‘senjata’ menjadi redaktur Scientiae, mereka tidak melewatkan kesempatan untuk menemui presiden mahasiswa dari masing-masing kampus ternama. Sebut saja Nanyang University, Universiti Kebangsaan Malaysia, Universiti Teknologi Malaysia, University of Singapore. Tak luput juga Prince of Songkla University dan Chulalongkorn University, perguruan tinggi yang kini menempati urutan universitas kelas dunia.

Buku yang berjudul “KELILING KAMPUS DUNIA: PETUALANGAN DUA MAHASISWA ITB” ini barangkali menjadi menarik karena Fadel yang ‘berkeliaran’ di panggung politik tanah air. Belum lagi popularitasnya yang menanjak saat ia menjabat Gubernur Gorontalo, yang kala itu digelari oleh beberapa media sebagai Gubernur Jagung, atas keberhasilannya mengembangkan budidaya jagung di Gorontalo. Belum lagi perannya sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.

Saya sendiri agak heran, buku bagus macam ini kok ya dikemas dengan sampul yang kurang menarik. (maaf bukan menghina, tapi realita 😀 ). Buku terbitan PT Grasindo, Gramedia Widiasarana ini dicetak di tahun 2009. Seperti yang saya katakan di atas bahwa buku ini berisi kumpulan artikel Erlangga dan Fadel di Kompas pada era 1970-an, maka anda akan menemukan pula bahasan-bahasan serta tata bahasa yang agak ‘aneh’ untuk ukuran literatur saat ini.

Tapi tunggu dulu, jangan anggap buku ini berisi bahasan yang serius melulu soal pergerakan mahasiswa dan politik kampus. Buku ini semakin hidup dengan cerita kocak mengenai pergaulan muda-mudi(a la tahun 1970-an tentunya… 😀 ).

Muncul Nama Widyawati

Tiba pada halaman 36, tiba-tiba muncul sub judul MIRIP WIDYAWATI. Loh, kok muncul nama Tante Widyawati? (emang nikah sama oom gue? 😀 ). Rupanya pada bagian ini menceritakan kegemaran mahasiswa Univerisiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yang doyan akan film Indonesia. Dan siapa lagi bintang laris pada jaman itu kalau bukan Widyawati dan Sophan Sopiaan. Dua sejoli yang menjadi suami istri di kehidupan nyata. Alasan mereka kenapa suka dengan Widyawati sangat simple dan beralasan, karena Widyawati Cantik!

Nyata kan… tante Wid di usia sekian tahun masih tetep cantik…

Kocaknya, Erlangga dan Fadel memanfaatkan kepopuleran Widyawati untuk kencan dengan cewek UKM. 😀 . Simpulan mereka, ternyata untuk berkencan dengan cewek UKM cukup dengan senjata mudah. Cukup puji mereka dengan, “Kamu cantik, seperti Widyawati.” 😀

Widyawati ketika masih muda, idola mahasiswa Malaysia

Kyaaaaa… cewek sekarang mah gak mungkin lagi dirayu mirip Widyawati… sudah jamannya Dian Sastro, Laudya Cinthia Bella, Manohara, Priscia Nasution, Atiqah Hasiholan, eh… muncul nama Widyawati. Wkkkkkkk (maap ya Tante, gak maksud … peace…J ).

Yang pasti, saya memberi nilai bagus untuk buku ini, atas kontribusinya yang membuka mata dan wawasan. It’s a must to read. Kudu dibaca! [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s