(Mungkin) Karena Desa Drajat Bukan di Bali

Mengunjungi makam wali sembilan serasa mengembalikan memori saya saat pertama kali tour ketika masih duduk di kelas enam Madrasah Ibtidaiyah (SD). Makam wali merupakan salah satu jujugan yang pasti akan diambil oleh pihak sekolah. Setahu saya hingga hari ini masih memasukkan ziarah makam wali sebagai jujugan tour.

45494071

Namun tulisan yang satu ini tidak saya buat untuk mengenang hal itu. Saya buat tulisan ini setelah sepulang saya dari Wisata Sunan Drajat (ngapain? Mmmm…. Kasih tau nggak ya… 😀 ).

makam-sunan-drajatpsd

Kenapa Namanya Museum “Khusus” ya? Hemmm, aneh, 😀

3265454493_42b0f406d0_o

Salah satu sudut pasar di Wisata Sunan Drajat

images

Pintu Masuk ke Makam.

Siangnya sebelum menulis ini saya termenung di pelataran Museum “Khusus” Sunan Drajat. Kok tempat seunik ini gak begitu ‘makmur’ ya? Bayangkan saja, dengan aset wisata arkeologi, maka tempat ini harusnya sudah sekelas Borobudur, atau malah seperti makam raja-raja Mataram di Imogiri. Dekat pantai, malah harusnya menjadikan jujugan wisata yang bagus. Malah harusnya ada satu lagi wahana wisata murah untuk wisatawan yang berkunjung.

3265221145_278d6374e2_o

Ketika saya berjalan di pasar (benarkah dapat disebut pasar?) di bawah Museum, saya membayangkan ada di Pasar Sukawati, Bali. Wow, keren… harusnya pedagang di tempat ini bisa semakmur pedagang di Pasar Sukawati…! Tapi kenapa ya? Kok pasar di wisata Sunan Drajat ini begitu lesu?

Ketika saya bertanya ke pedagang batik, “darimana batik yang dijual di sini?” jawabnya, “PEKALONGAN.” Ketika saya bertanya pada pedagang makanan legit tentang asal jualannya, jawabnya, “KUDUS, SOLO… blab la bla”. Pertanyaannya, terus makanan atau yang khas Lamongan itu mana???? Kalo saya jadi orang Pekalongan, dan ketika ke Jawa Timur ketemu oleh-oleh tapi khasnya Pekalongan, Lah buat apa jauh-jauh ke Lamongan? Beli aja batik di pojok jalan kota Pekalongan! Atau sebagai orang Kudus, saya akan bilang… “walah Mas… lah wong jenang ngunu pangananku saben dinane, piye toh…” (walah mas… orang Jenang itu makan saya setiap hari)—doyan banget sama jenang! 😀

Harusnya Lamongan menjual apa yang khas dari Lamongan. Kalaupun tidak ada yang khas, maka tak usahlah diberi cap Pekalongan, atau Madiun dan sebagainya. Tapi tulis saja disitu Jenang Lamongan, ataupun Batik Lamongan.

 Bayangan saya kok mengatakan, masak sih orang jepang jauh-jauh ke Bali cuma mau beli Kimono! Wong harga murah dan ragam corak Kebaya Bali di depan mata. Maka menurut saya terjadi demikian pada peziarah di Sunan Drajat. We want something so Lamongan. (atau only what I want? Hehehe…)

Kebersihan dan Kerindangan

Satu lagi yang saya soroti, kebersihan dan Kerindangan yang masih kurang terjaga. Saya pikir masyarakat desa setempat, dan juga Pemerintahan harus bahu membahu menjaga kebersihan dan kerindangan, menjaga keramahan dan rasa saling yang lain, agar peziarah tak bosan untuk terus, lagi dan lagi berziarah ke Wisata Sunan Drajat.

Apakah terlalu muluk-muluk? Ah, atau mungkin saya tidak boleh membayangkan lokasi Wisata Sunan Drajat bisa senyaman di Bali,atau  mungkin karena Desa Drajat bukan di Bali? Sehingga ‘haram’ membayangkan kenyamanan wisata di Bali akan hadir di Wisata Sunan Drajat. ataukah karena berita ini? (Klik di sini) [Afif E.]

*Foto dari berbagai sumber online.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s