Memasak Hidangan untuk Hajatan Khidziran

Kalian pernah mendengar hajatan yang bernama Khidziran? (yang belakang sana berteriak, saya pernah, saya pernah… 😀 ).

Yang akan saya bahas di sini adalah acara khidziran yang secara khusus diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Qomaruddin, Sampurnan Bungah Gresik. Acara ini diselenggarakan menjelang Haul (peringatan wafatnya) KH. Sholih Tsani. Pada tahun 2013 (1434 H.) ini, peringatan haul ini masuk ke 114 tahun. Setiap tahunnya acara ini diselenggarakan sebelum Haul tersebut. Dari keterangan Bapak Ibrahim Hamim, salah satu keluarga Pondok Pesantren Qomaruddin, acara ini sedianya diselenggarakan setiap malam Rabu dalam pekan menjelang Haul KH. Sholih Tsani. Beliau juga menambahkan bahwa begitu banyak simbol dan doa yang ada dalam seputar pelaksanaan Khidziran.

Nama Khidziran sendiri merujuk pada Nabi Khidzir AS, salah satu nabi yang diriwayatkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an hidup semasa dan berinteraksi dengan Nabi Musa AS. Acara ini ditujukan untuk tawasul atau kirim doa melalui perantara Nabi Khidzir. Sepanjang acara ini dilakukan pembacaan Sabi’atul Asyaroh, atau sepuluh Bacaan yang masing-masing dibaca tujuh kali.

proses memasak

Proses memasak. Selama proses ini, si pemasak membaca doa-doa

Tidak hanya doa yang menjadi simbol dalam acara ini, cara memasak hidangannya pun dapat kita golongkan unik dan penuh dengan simbol-simbol. Keterangan yang saya dapatkan merupakan hasil dari wawancara yang dilakukan oleh Elektro TV STTQ Gresik (televisi komunitas kampus Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik) dengan dibantu adik-adik dari Majalah Prospek (SMA Assaadah) sebagai reporter. Dan saya sendiri selaku pembantu teman-teman tersebut. 🙂

wawancara dengan pemasak

Ibu pemasak diwawancarai Elektro TV STTQ Gresik, dengan reporter dari adik-adik Majalah Prospek SMA Assaadah

Saya menyaksikan betapa ‘ribet’ acara memasak hidangan untuk acara tersebut. Pertama pemasak haruslah perempuan yang sudah tidak haid alias menopause, dan berasal dari keluarga Pondok Pesantren Qomaruddin. Tidak cukup itu, pemasak haruslah bersuci kemudian puasa tidak berbicara mulai sejak dia bersuci hingga masakan tuntas dimasak. Satu-satunya hal yang diucapkan oleh pemasak adalah doa-doa yang terus menerus selama memasak berlangsung.

Masakannya sendiri bagaimana? Masakan yang menjadi sajian dalam acara ini juga unik. Masakan yang menjadi khas sebenarnya cukup sederhana dan biasa kita temui pada hajatan lain. Masakan atau sajian atau makanan (halllah! Ribet! :D) yang disajikan terdiri dari bubur beras berwarna merah dan putih, ketan berwarna kuning dan putih, kelapa yang dicampur dengan gula merah (gula jawa), plus dadar yang ditangkupkan pada ketan, sebelum di atas telur ditaburi dengan kelapa yang dicampur gula merah. Namun di sini letak uniknya kalau biasanya kita makan bubur berasa ada asinnya (karena diberi garam), atau telur yang juga biasanya maknyus (juga karena diberi garam), maka makanan tersebut benar-benar berasa hambar karena tidak boleh diberi garam. Yang manis tetep diberi gula, namun yang biasanya asin khusus pada sajian acara ini tidak diberi garam. So meaningful, penuh dengan simbol-simbol.

Rasanya gimana? Ya… bener-bener tawar, gak ada rasa asin (ya iyalah…).

Ada yang unik saudara-saudara. Saya nggak tau, apakah saya harus ketawa atau bagaimana. Tapi yang jelas saya geli sendiri melihatnya. Kok bisa? Iya, gimana nggak, karena ibu pemasaknya tidak boleh bicara, saat si ibu pemasak dan yang diajak “bicara” kebingungan mencari sesuatu. Ternyata yang dicari adalah dua butir telur. (kenapa gak via SMS aja ya… 😀 . ups, ngapunten Bu… hehehe ).

kebingungan mencari telur

Kondisi saat Ibu pemasaknya bingung mencari telur. 🙂

Nice, tradisi yang penuh makna dan sarat akan simbol. Menarik dan pertama kalinya saya sendiri tau ada tradisi unik macam ini dibalik keramaian Haul KH. Sholih Tsani. 🙂 [Afif E.]

hidangan siap saji

Masakan yang siap disajikan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s