Tantangan Film Novel

Beberapa film tanah air saat ini sudah banyak yang mendasarkan ceritanya dari novel laris karya anak negeri sendiri. Sebut saja beberapa judul film seperti Eiffel… I’m In Love, Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2, Negeri 5 Menara, hingga 5 cm. Dari beberapa judul yang saya sebutkan tersebut, beberapa diantaranya berhasil menerjemahkan imajinasi pembaca novelnya ke dalam bentuk gambar bergerak.

Eiffel_I'm_in_Love

Namun demikian tidak lepas juga terdapat beberapa film tersebut yang kurang greget dan kurang begitu berhasil dalam menerjemahkan imajinasi pembaca novelnya dalam bentuk film. Hal ini bisa dikatakan tantangan tersendiri bagi sineas. Bagaimanapun pembaca novel yang difilmkan—dan umumnya best seller—merupakan konsumen pertama yang mengilhami cerita dalam bukunya. Membaca dan berimajinasi dari guratan khayali penulisnya. Berikut adalah beberapa pandangan terkait tantangan dalam memfilmkan novel.

428px-PosterFilmKCB

Mari kita bicarakan Eiffel… I’m in Love terlebih dahulu. Buku yang ditulis Rachmania Arunita ini begitu booming di jamannya. Aroma AADC (Ada Apa dengan Cinta?) masih terasa kental di dalamnya, masih satu genre, ABG. Bukunya dibedah habis-habisan oleh MTV dan media massa remaja kala itu. Namun begitu difilmkan? Ribuan penonton merasakan kecewa yang mendalam karena banyak cerita didalamnya begitu banyak yang dipotong secara kasar. Mungkin saja produsernya takut jika film tersebut dibuat sangat panjang, tiket nggak akan laku. Tapi toh kenyataan berkata lain. Hingga akhirnya mucullah versi film Eiffel.. I’m In Love (Extended). Tambahan Extended di belakang judulnya bukan berarti tuh film ada sambungannya, bukan. Justru film tersebut sebenarnya versi asli yang tidak dipotong sama sekali.

Ayat-Ayat_Cinta

Cerita sedikit berbeda dengan film Ayat-ayat Cinta (AAC). Berangkat dari buku dengan judul serupa, karya Habiburrahman El-Shirazy tersebut dirasakan kurang mengena atmosfernya. Kenapa? Ekspektasi penonton sudah menagih ingin merasakan nuansa Mesir di dalam film tersebut. Namun yang ada hanya Scene Semarang dan beberapa kota tua yang disulap secara digital. Cukup menggantikan, namun atmosfer tidak didapatkan. Terlebih cerita dalam film tersebut juga agak berbeda dari bukunya.

200px-Menara_5_Negara

Beda AAC, beda pula Ketika CInta Bertasbih, baik sekuel pertamanya dan sekuel keduanya. Diciptakan dari buku yang penulisnya sama (Habiburrahman El-Shirazy), ketiga film ini jauh berbeda. Pada KCB 1 penonton diberi suguhan Mesir dan Al-Azhar. Sedangkan pada KCB 2 cerita yang disuguhkan begitu kuat walaupun seperti KCB 1, pemainnya tidak banyak yang dikenal sebelumnya. Namun dua film yang terakhir ini cukup sukses menerjemahkan bukunya. Pemotongan scene masih ada di kedua film ini, namun cukup halus dilakukan oleh sang sutradara. Tidak seperti Eiffel… I’m in Love yang cukup kasar dalam pemotongan scene.

Pemotongan scene secara kasar juga ditunjukkan dalam film Negeri 5 Menara. Cerita khayali yang dibangun apik oleh A. Fuadi dalam novelnya, menjadi adegan-adegan garing dalam layar film. Kalau mau dibilang, sangat kasar dan amat disayangkan, novel yang demikian indah dipotong sekasar itu. Pemotongan yang dilakukan dalam film ini sejurus dengan yang dilakukan dalam film Eiffel… I’m In Love.

Cerita sedikit berbeda ada di Film 5 CM. Film besutan Rizal Mantovani ini secara baik memotong scene-scene yang dirasa memboroskan budget film. Walaupun dipotong dan agak berbeda dengan novelnya, film ini cukup memberi obat bagi khayalan pembaca novel karya Donny Dhirgantoro itu, yakni alam Mahameru. 

Dari beberapa film tersebut, mungkin perlu dipertimbangkan pemotongan yang dilakukan. Sekali lagi buku-buku yang sudah laris di pasar, sudah memiliki ranah khayali dari semua pembacanya. Pemotongan adegan secara kasar akan membuat filmnya jadi garing. Penyesuaian cerita seperti yang dilakukan dalam KCB 1 dan 2 serta 5 cm mungkin dapat dijadikan pertimbangan.

Ah…. Jadi pentonton film kok rewel banget. Kenapa gak ditonton aja! Tinggal nonton kok repot amat! Hehehehe ….. asal gak bikin garing ya ditonton dong…. Semoga semakin maju perfilman Indonesiaku [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s