Perempuan-perempuan Perkasa: Tiga Potret Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong

Film dokumenter produksi Kementerian Komunikasi dan Informatika ini bertajuk “Perempuan-perempuan Perkasa.” Berlatar belakang kisah tiga tenaga kerja Indonesia, atau mungkin lebih tepatnya bercerita tentang tiga orang tenaga kerja wanita (TKW) di Hong Kong. Adalah Nurhidayatun, Heni Sri Sundani, dan Bertha Eliana Siagian, tiga perempuan yang kisahnya diangkat dalam film ini. Berlatar belakang alam Hong Kong, film ini bercerita tentang ketiganya.

Ketiga perempuan berjilbab tersebut disorot dari tiga latar belakang yang berbeda, walau

Nurhidayatun

Nurhidayatun

pun sama-sama berprofesi sebagai pekerja migran. Nurhidayatun dibedah dalam film ini dari sisi penyiksaan yang dialaminya selama menjadi TKI. Kala itu perempuan asal kebumen ini bekerja di sektor rumah tangga, namun naas ia mendapatkan majikan yang kurang berperikemanusiaan. Perlakuan padanya sungguh di luar batas kewajaran. Segala penyiksaan dialaminya, hingga ia masuk ke sebuah rumah sakit di Hong Kong.

Heni Sri Sundani

Heni Sri Sundani

Beda lagi cerita tentang Heni Sri Sundani.  Perempuan yang satu ini menjelaskan kepergiannya ke Hong Kong yang murni untuk mencari uang demi cita-citanya, yakni melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Heni mejelaskan bahwa ia terinspirasi oleh guru sekolahnya yang juga menempuh jalan yang sama. Sang guru sebelum mengajar di sekolah ia belajar, pernah menjadi TKW di Korea. Maka tekat itu ia tempuh. Menjadi perbedaan antara Heni dengan gurunya ialah jika sang guru melanjutkan pendidikan tingginya di Indonesia, setelah mendapatkan uang yang cukup, Heni melihat peluang untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Hong Kong, hingga ia lulus dari St Mary University. Cerita lain dalam film ini berkisah tentang pergerakan TKW Bertha Eliana Siagian.

Bertha Eliana Siagian

Bertha Eliana Siagian

Bertha yang keturunan Batak-Jawa ini menjelaskan kepergian semula ia ke Hong Kong mendapatkan saran dari seorang konjen Hong Kong yang bertugas di Batam. Dari perkenalan itu, Bertha tidak lantas langsung mengiyakan ajakan tersebut. Setelah desakan ekonomi yang dialami keluarganya, maka segera ia pun berangkat ke Hong Kong untuk menjadi buruh migran. Nasib Heni dan Bertha rupanya lebih mujur ketimbang Nurhidayatun. Jika Heni mendapatkan majikan yang memberikan keluasaan baginya untuk kuliah, maka Bertha mendapatkan kesempatan untuk mendirikan sebuah sekolah paket untuk tenaga kerja Indonesia.

Informasi tentang pendirian sekolah paket tersebut didasari oleh keprihatinan Bertha yang melihat begitu banyak TKI yang datang ke Hong Kong dengan modal pendidikan yang rendah. Harapan Bertha sangat sederhana, dengan modal pendidikan yang lebih tinggi, ia ingin TKI setelah pulang mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus.

Perempuan-perempuan Perkasa ini juga diceritakan tentang Nur yang menekankan pentingnya persiapan dan bekal pendidikan bagi setiap pekerja migran, sehingga setiap TKI yang datang tidak mengalami nasib seperti dirinya. Sedangkan pada cerita Heni, ia menunjukkan tekad kuatnya untuk melanjutkan pendidikan Master di Hong Kong. Dan yang patut diketahui, Heni ternyata seorang penulis yang diakui pada dunia sastra internasional dengan nama pena Jaladara. Sedangkan Bertha tetap dengan pergerakannya menjalankan sekolah bagi tenaga kerja Indonesia di Hong Kong.

Sebuah kutipan bagus diucapkan Bertha pada akhir film ini, “Saya tidak pernah merasa malu menjadi TKW, saya tidak pernah merasa rendah menjadi TKW, SAYA PUNYA IMPIAN yang mungkin tidak akan pernah saya raih jika saya tidak menjadi TKW.” Ya! Jangan merasa malu menjadi TKW (TKI), kalian adalah benar-benar pahlawan bagi keluarga kalian. Menjadi TKW barangkali sebuah jalan indah dari tuhan. [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s