Sayangnya Sandiaga Uno Tidak Ikut Bicara

Membaca buku berjudul “Sandiaga Uno From Zero to Hero: Perjuangan Anak Muda yang Berhasil menjadi Konglomerat” membuat saya sedikit kecewa. Dimana letak kekecewaan saya? Barangkali karena saya yang terlalu berekspektasi tentang Sandi yang akan bicara pada buku tersebut, namun ternyata tidak banyak saya temui itu. Sandi (demikian Sandiaga akrab disapa) hanya menjadi obyek semata, seperti buku biografi pada umumnya. Tidak hanya itu, tidak terdapat hubungan dan analisis langsung antara si Penulis (Nor Islafatun) dengan Sandiaga Uno, maupun orang-orang yang berkaitan dengan pribadi seorang Sandiaga Uno.

IMG_5498

Judul Buku: “Sandiaga Uno From Zero to Hero: Perjuangan Anak Muda yang Berhasil menjadi Konglomerat”
Penulis: Nor Islafatun
Penerbit: Buku Pintar

Rupanya buku ini berisi semacam kompilasi artikel-artikel yang sudah ada. Beberapa juga ada tulisan Sandi yang diunggah di akun Facebook pribadinya. Jika dibandingkan dengan CEO note milik Dahlan Iskan, dalam pandangan saya pribadi, masih jauh. Dalam CEO Note-nya, Dahlan Iskan bercerita detil dan panjang lebar sepanjang karirnya di BUMN dan Pemerintahan. Namun dalam buku yang memiliki 196 halaman tersebut belum menekankan betul Sandi yang lebih bercerita banyak.

Struktur cerita berulang-ulang juga terjadi di buku ini, utamanya pada bagian masa kegagalan Sandi. Barangkali jika boleh saya membandingkan dengan kisah Fadel Muhammad dalam buku “Saya Pilih Jadi Pengusaha…”, ada momen-momen letak detil kegagalan yang dialami Fadel, sehingga pembaca begitu merasakan hawa kegagalan itu. Sedangkan dalam buku yang diterbitkan oleh Buku Pintar ini, detil kegagalan dan masa suram Sandi tetap dan berulang-ulang dibahas itu-itu saja. Terlebih untuk ukuran buku yang terbit tahun 2012, tentu catatan mengenai seorang Sandiaga Uno sangat banyak dan baiknya lebih diperdalam dan di-update lagi. Maka kurang mutakhir jika hanya bercerita prestasi Sandi yang menjadi ketua HIPMI pada tahun 2005-2008. Ada masa 4 tahun lebih semenjak anggota keluarga Uno tersebut tidak lagi menjabat posisi tersebut. Baiknya buku ini membidik lebih dalam lagi.

Namun diluar kekurangannya, secara umum buku ini begitu berharga bagi kepustakaan Nusantara. Buku-buku mengenai perjuangan wirausahawan Indonesia masih begitu jarang. Jika anda pernah membaca mungkin akan anda temui generasi Warren Buffet, Gates, dan yang terakhir Zuckeberg si empunya Facebook. Walaupun sama-sama bercerita tentang pengusaha, namun latar belakang budaya yang juga perlu dipertimbangkan. Dalam buku yang berlabel “Based on True Story” ini, Nor Islafatun juga menuliskan pandangan Sandi mengenai perbedaan budaya ini. Sandi menekankan bahwa di Indonesia, jumlah UMKM begitu besar dalam jumlah, namun program-program berkenaan kredit usaha dan sebagainya masih jauh dan tidak dapat dipenuhi oleh para pelaku UMKM. Sehingga model Bank Grameen yang dikembangkan oleh Muhammad Yunus di Bangladesh patut menjadi model Bank kredit usaha rakyat di Indonesia.

Selamat atas keberhasilan Nor Islafatun dengan bukunya. Sebuah buku yang layak dan patut untuk dibaca generasi muda Indonesia. Thumb up untuk anda. [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s