Yang Menarik dari Khutbah Jumat KH. M. Alauddin

Saya menulis ini sepulang saya dari Masjid Besar Kiai Gede Bungah Gresik, 21 Februari 2014. Khotib pada jumat ini adalah KH. M. Alauddin, LC, wakil pemangku Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik. Topik yang beliau angkat cukup menarik, yakni tentang perpecahan umat.

Kalimat pengantar yang diambil oleh Kyai Alauddin cukup mengena, yakni PEMILU 2014 yang akan berlangsung pada bulan April 2014 esok. Dengan memberikan pengantar bahwa umat harus menjaga betul agar jangan sampai terpecah belah hanya karena urusan politik, yang disadari maupun tidak, membawa perpecahan utamanya bagi pendukung partai yang terlalu fanatik.

Dari tema politik, Kyai Alauddin membawa topik perpecahan pada faktor berikutnya, yakni faktor agama. Bahaya perpecahan yang bersembunyi dibalik nama agama lebih berbahaya ketimbang perpecahan karena politik. Tak jarang perpecahan atas nama agama banyak menyelewengkan dalil-dalil dan hadits nabi.

Masuk pada sesi hadits nabi, Kyai Alauddin mengutarakan satu hadits yang pernah saya pelajari di Madrasah.

(cari hadits tentang Yahudi pecah menjadi 71, nasrani menjadi 72, dan UMMATIY menjadi 73)

Hadits tersebut kurang lebih memiliki arti demikian. Bahwa Nabi Muhammad SAW mengungkapkan kaum Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan, kaum Nasrani akan terpecah menjadi 72 golongan, dan UMMAT-KU (sengaja saya kapital-kan, pen) akan terpecah menjadi 73 golongan. Kesemuanya akan masuk neraka kecuali satu MILLAH (sengaja pula saya capital-kan, pen). Lantas sahabat nabi bertanya, siapakah satu MILLAH tersebut? Jawab nabi, ia yang mengikuti sunnah-ku dan sahabat-ku.

Kyai Alauddin dalam khutbahnya bagi saya betul-betul membedah hadits tersebut. Saya rasakan bahwa pengalaman pendidikannya di Timur Tengah benar-benar berperan. Dalam pandangan saya, bagaimanapun pertempuran aliran agama begitu terasa di pusat kelahiran beberapa agama tersebut ketimbang di Indonesia.

Kyai Alauddin mengungkapkan dan membedah tafsiran dari dua kata yang saya kapitalkan diatas, yakni UMMAT-KU dan MILLAH. Kyai Alauddin melontarkan pertanyaan, apakah UMMAT-KU adalah ummat Islam? Apakah ini berarti ummat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan? Hal ini terbantahkan, ungkap Kyai Alauddin, karena aliran (madzhab maupun organisasi Islam) sudah terpecah lebih dari 73! Maka bukti bahwa UMMAT-KU yang dimaksud oleh hadits dengan demikian adalah bukan UMAT ISLAM.

Kemudian kalimat MILLAH. Dalam tulisan saya diatas, jawaban nabi atas MILLAH adalah golongan yang mengikuti sunnah-nya dan sahabatnya. Menurut Kyai Alauddin, kalimat MILLAH pada hadits ini sering dipelintir oleh banyak golongan dalam Islam untuk mengakui bahwa dirinyalah yang selamat dan golongan yang lain akan masuk neraka. Maka celakalah, karena semua golongan akan mengaku menjadi golongan MILLAH yang disebut nabi.

Lantas siapakah MILLAH dalam hadits tersebut? Lantas juga siapakah UMMAT-KU yang dimaksud?

UMMAT-KU dalam keterangan Kyai Alauddin adalah seluruh umat manusia yang ada sejak zaman nabi hingga kiamat tiba. Karena jika memang yang dimaksud nabi adalah umat islam, tentu beliau akan mengatakan ‘UMAT ISLAM akan terpecah’ sebagaimana beliau mengatakan ‘umat YAHUDI dan umat NASRANI akan terpecah’, sedangkan pada kalimat hadits tersebut jelas tertulis, UMMAT-KU akan terpecah, maka ummat yang dimaksud di sini adalah seluruh umat manusia di seantero dunia. Karena dalam hadits lain jelas bahwa nabi menerangkan kalau umat islam adalah saudara satu sama lain, maka tak mungkin ia terpecah.

Kemudian yang menjadi pertanyaan lantas siapakah MILLAH? Kyai Alauddin menerangkan dengan disertai dalil lain, bahwa yang telah mengucap ‘jimat kalimosodo’ (kalimat syahadat) adalah yang selamat. Siapakah ia? Umat Islam. Penjelasan ini menjadikan jelas, bahwa memang begitu banyak agama yang lahir selepas zaman Nabi Muhammad SAW.

Bagi saya penjelasan Kyai Alauddin begitu runut dan baru saya dengar dengan tipe dukungan bukti-bukti yang demikian. Lantas apa yang selama ini saya terima? Seperti yang diungkapkan oleh Kyai Alauddin diatas, kata MILLAH yang ada dalam hadits tersebut sering digunakan golongan-golongan Islam untuk mengaku menjadi MILLAH, maka penjelasan yang saya terima menjadi begitu sempit. Wallahu A’lam.

Mungkin ada pembaca yang bertanya, mana transkrip khutbah jumat Kyai Alauddin? Wah, sayangnya saya tidak punya hingga saat saya menulis artikel ini. Silakan menghubungi langsung Kyai Alauddin di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik Jawa Timur Indonesia. 🙂 [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s