Lapangan Pekerjaan Lebih Banyak Melencengnya dari Bidang Studi Kita

Saya akan mengingat bahwa pada tanggal 24 Februari 2014 lalu seorang mahasiswa SMS pada saya. Intinya dia pamit tidak melanjutkan kuliah, karena ‘merasa’ frustasi dengan kuliah, ‘merasa’ frustasi dengan Tugas Akhirnya. ‘merasa’ tidak pantas, dengan program studi yang diambilnya, ia ‘merasa’ tidak memiliki kemampuan sesuai dengan tuntutan bidang studinya. Dia ‘merasa’ malu jika ia ditanya orang, bisa apa kamu? Padahal program studinya adalah tentang teknologi.

Saya bilang, ayo bicara dulu, jawabnya, dia sudah memutuskan. Saya sampaikan juga, pamitlah pada orang tua, jawabnya, “sudah pak, orang tua sudah mendukung keputusan saya.” Sampai pada jawaban terakhirnya, saya berangan-angan, “ah, masak????” dari sudut pandang saya yang lahir dari pasangan bapak dan ibu yang concern terhadap pendidikan anak-anaknya walaupun dalam kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, tentu alam pikiran saya tidak bisa menerima jawaban terakhirnya.

Apa ada bapak ibu yang demikian? Mohon pembaca memberi pencerahan pada saya. Walaupun tetap pikiran saya mengiyakan adanya bermacam jenis pikiran manusia.

Saya tidak bermaksud menahan mahasiswa tersebut kalau memang dia ingin drop out dari bangku kuliah. Memang banyak orang yang berhasil studi, juga berhasil dalam berkarir. Tapi perlu dilihat juga, tidak sedikit orang yang drop out kuliah malah bisa melebarkan sayapnya hingga tingkat global. Kita tengok Bill Gates dan Mark Zuckerberg, keduanya memutuskan drop dari bangku kuliah. Namun patut diingat pula, keduanya membawa keyakinan, membawa kepercayaan diri dengan keyakinannya itu. Bill Gates dengan keyakinan pada impian Microsoft-nya, serta Mark Zuckerberg yang mantap drop kuliah dengan membawa keyakinan akan perkembangan Facebook-nya. Kadang saya masih berpikir dan mau mengajukan pertanyaan singkat pada mahasiswa tersebut, kalau Gates dan Zuckerberg mantap keluar kuliah dengan keyakinan, maka keyakinanmu apa?

Sebagian keluh kesah mahasiswa yang saya maksud di atas, juga sempat menyinggung bahwa lapangan pekerjaan benar-benar membutuhkan tenaga yang kompeten di bidang studinya. Saya kira tidak, setiap lulusan dimanapun ia bekerja, dari program studi apapun ia lulus, ia sama sekali tidak dituntut untuk kompeten dalam bidang studinya. Tuntutan baginya adalah KOMPETEN DALAM SEGALA HAL!, termasuk dalam bidang studinya. Terlalu sempit dan berpikir buntu, jika seorang lulusan hanya dituntut untuk menguasai bidang yang sesuai dengan studinya saja. Sangat sempit.

Seorang lulusan dituntut untuk paham segala hal. Dunia ini tidak berakhir dan tidak mentok, se-mentok pikiran-pikiran sempit nan mentok macam itu.

Masyarakat tidak akan pandang bulu, dari jurusan apa kita kuliah, yang penting kalau status kita sarjana, masyarakat tahunya kita (harus) bisa segalanya! Mulai dari sambutan, aktif berkegiatan di masyarakat. Hingga tetek bengek lainnya.

Coba bayangkan saja, kita berkuliah di jurusan tentang rekayasa, tapi kita malah diminta memahami tangis anak-anak kita nanti. Tidakkah itu juga melenceng dari studi? (walau kita sering mengira memahami tangis anak juga bukan pekerjaan).

Saya akan tetap mengingat kalimat sambutan Ketua Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik, ketika yudisium saya. Kurang lebih beliau mengatakan bahwa “Lapangan Pekerjaan Lebih Banyak Melencengnya dari Bidang Studi Kita.” Saya ‘merasakan’ memang, iya. Pikir kembali itu, kalau mau drop out kuliah dengan alas an sekedar ‘merasa’ tidak ahli. Wallahu a’lam. [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s