Sinematografi dari Kisah Zulaikha dan Yuzarsif

Jika pada tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Hasrat Zulaikha pada Yuzarsif: Kejahatan Wanita Nombor Sekian” saya bercerita tentang isi dalam episode-episode sinema tentang Nabi Yusuf AS dan Zulaikha, maka pada bagian ini saya ingin melihat dari segi sinematografi di dalamnya.

Kisah Zulaikha dan Yuzarsif berlatar tempat era Mesir kuno. Era ini muncul kisah kerajaan yang dipimpin oleh para Fir’aun. Entah bagaimana kisah sebenarnya dalam Al-Qur’an, namun sosok Fir’aun di era dalam kisah ini lebih bijaksana dan terbuka, menerima seorang yang tidak menyembah dewa-dewa Mesir. Bahkan dalam kisahnya, salah satu istri Fir’aun mengatakan bahwa sang raja tidak percaya pada Amun, dewa tertingginya. Barangkali lebih pada tidak percaya pada para pendetanya yang penuh intrik licik.

Dari segi setting tempat dan properti, sungguh menarik. Ini produksi Iran, kan? Kalau kita mau membandingkan dengan sinema epic asal Indonesia, maka kita akan merasakan hawa yang jauh berbeda. Sinema ini dibuat dengan properti yang ciamik. Dengan pilar-pilar khas mesir, pakaian, hingga kereta dan tunggangannya. Kalau produk Indonesia, masih kalah. Beberapa sinetron Indonesia diproduksi dengan setting dan properti yang kayaknya asal jadi dengan sistem kebut semalam. Padahal kisah di dalamnya adalah sejarah bangsa.

Dari segi pakaian pemain wanita dan adegan, sinema ini tidak dapat lepas dari unsur keislamannya. Mungkin unsur Iran juga berperan di sini. Pertama kisah yang diperankan bersumber dari Al-Quran, sehingga sang sutradara tetap menjaga pemain wanitanya berpakaian lengkap menutupi auratnya. Jika tidak mengenakan tudung, maka akan berkalung hingga leher dan mengenakan wig sebagai penutup kepala.

Dari segi adegan, mungkin saya perlu lebih jeli lagi dan pembaca sekalian bisa memberi tau, tapi sejauh yang saya tau tidak ada adegan pria dan wanita yang bersentuhan. Bahkan pada adegan ‘panas’ dalam kamar diantara Zulaikha dan Yuzarsif pun ‘disopankan’. Coba bayangkan, masa ada lelaki yang sudah dibekap oleh wanita yang ‘haus’, tapi hanya disuruh menatap wajahnya? Dalam berbagai lukisan Barat, digambarkan Zulaikha sudah telanjang bulat dan berusaha menggoda Yuzarsif. Tapi mari kita bayangkan, apakah adegan yang sudah ‘disopankan’ macam di sinema ini mengurangi pesan moral mengenai Zulaikha yang menggoda Yuzarsif? Saya kira tidak. Pesan moralnya tetap tersampaikan. Mungkin ini sensor gaya Iran. Mungkin kalo diproduksi Hollywood bisa jadi si pemain wanita akan diberi pakaian tank top, atau malah topless. Hihihihi

Intinya apa? Intinya adalah selamat menyaksikan dan melihat perbedaan produk Iran dan produk Hollywood. 🙂 [Afif E.]

Link ke Video

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s