Menggugat Konsep Pengembangan Organisasi

Tiba-tiba ingin menuliskan ‘gugatan’ terkait istilah dan dengungan orang-orang terkait dengan kata-kata semacam ‘pengabdian.’ Tentu teman-teman pembaca sering mendengarkan kata ini. Sebuah kata yang kurang lebih berarti organisasi di atas kepentingan pribadi. Sebuah konsep mulia, saya yakin jika konsep ini akan benar-benar mengikat semua orang yang memiliki keanggotaan di dalamnya.

Namun dalam tulisan ini saya ingin menggugatnya. Sebuah gugatan ringan, saya pikir. Kenapa saya bilang ringan? Karena pada dasarnya konsep pengabdian kepada sebuah organisasi tentu sangat baik, mohon dicatat, SANGAT BAIK. Akan tetapi organisasi apakah yang dikatakan benar-benar berhasil? Apakah organisasi yang banyak saldo-nya di tiap-tiap akhir masa kepemimpinan? Ataukah organisasi yang memiliki banyak cabang? Atau barangkali organisasi yang punya banyak kader dan anggota?

Saya pikir semua definisi yang diajukan dalam konsep-konsep di atas mengenai organisasi yang baik sudah betul, dan BAIK. Namun apakah ukuran saldo, banyaknya cabang, serta anggota menjadi pertanda yang benar-benar hakiki, sementara anggotanya banyak yang miskin dan tidak berkembang?

Temuan menarik dituliskan oleh A. Fuadi, penulis trilogi Lima Menara, dalam bukunya Ranah 3 Warna. Dalam buku serial kedua tersebut, Fuadi mengungkapkan pengalamannya selama mengikuti program pertukaran pemuda di Kanada. Fuadi, melalui tokoh Alif, mengungkapkan bahwa rumah-rumah yang ada di kota kecil di Kanada, mayoritas penduduknya tidak pernah mengunci pintu rumahnya. Kok bisa? Kenapa tidak dikunci? Apakah tidak takut kemalingan? Rupanya di kota kecil tersebut angka kriminalitas adalah mendekati nol persen. Hal ini terjadi karena penduduknya tercukupi. Dalam bahasa keseharian mungkin kondisi tersebut di Indonesia disebut sebagai gemah ripah loh jinawi, dimana semua kebutuhan warganya tercukupi. Saking meratanya kecukupan itu, hingga semua warganya merasa tidak perlu lagi mengunci rumahnya. Atau mungkin malah tidak perlu lagi mencuri, wong semua sudah tercukupi.

Lalu kenapa konsep itu ‘terlaksana’ di Kanada? Kenapa Indonesia yang punya jargon itu malah di ujung lain dunia yang terlaksana konsep mulia itu? Ah, bakal ceritanya.

Lain cerita namun masih dalam bingkai pengabdian. Ungkapan ini berasal dari dosen saya di Teknik Elektro ITS. Beliau mengungkapkan kenapa dirinya begitu getol dalam meneliti dan melakukan kegiatan pengabdian pada masyarakat. Dalam ungkapannya, konsep sederhananya adalah beliau harus mengembangkan potensi dirinya dengan begitu institusinya (ITS) akan menjadi meningkat pula nilainya. Baginya, peningkatan daya jual institusinya adalah berbanding lurus dengan peningkatan karier pribadinya. Mmmmm, masuk akal.

Maka marilah kita meraba sejenak. Kita sering dicekoki istilah pengabdian, pengabdian, dan pengabdian. Namun apa timbal baliknya bagi kita anggota sebuah organisasi? Non sense, kadangkala konsep mulia itu dipermainkan oleh beberapa oknum demi kepentingannya sendiri. Konsep mulia yang dipermainkan itu seolah membuat mereka lupa bahwa anggota mereka menjadi lapar dan tidak memiliki masa depan pribadi yang jelas. Konsep dosen saya tersebut cukup sederhana, dengan peningkatan karier pribadinya akan meningkat pula nilai jual institusinya. Maka bisa kita analogikan, harusnya organisasi (dan pemimpin) meningkatkan kemakmuran anggotanya terlebih dahulu sebelum meminta pengabdian apalagi kecintaan total dari anggota. Dalam hal apa kemakmuran ini diukur? Secara spesifik ukuran ini harus dibuat per tempat, dan setiap manusia memiliki karakteristik yang berbeda.

Sekali lagi dengan manusia yang termasuk dalam keanggotaan sebuah organisasi harus ‘dimakmurkan’ terlebih dahulu. Barulah konsep ‘pengabdian’ dan nasionalisme dengan kecintaan total akan berjalan dengan sendirinya. Bukan dengan pencekokan istilah dan retorika.

Ah, kenapa saya jadi nulis bahasan yang berat kayak gini??? Au ah gelap. Walaupun saya bukan organisatoris yang baik, bukan aktivis yang baik, bukan pula seorang humoris yang baik, namun satu hal yang penting, pengurus yang kadaluarsa harus segera diganti. Kalau tidak, lama-lama baunya kurang sedap. 😀 [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s