Menjadikan Anak-anak Indonesia Menjadi Indonesia

Pagi ini 17 April 2014 saya main-main ke SD Laboratorium UNDIKSHA Singaraja, Bali. Pagi ini sambil mengutak-atik komputer sekolahan tersebut saya dikerubuti anak-anak SD kelas 3. Barangkali naluri mereka sebagai anak-anak memang demikian, beramai-ramai mengerubuti orang asing di sekolah mereka. Karena kalau sendiri jelas malu-malu kucing. Hehe 😀

Satu pertanyaan yang tidak saya duga keluar dari anak-anak yang mengerubuti saya itu. ‘Kakak agamanya apa? Islam ya?” Tanya salah seorang dari mereka. Entah bagaimana mereka seperti bisa menerka semenjak saya masuk ke kelas mereka. Barangkali karena ketika mereka memulai kelas dengan tata salam “Om swastiastu” saya adalah orang yang paling telat menangkupkan tangan dalam kelas itu.

Saya menoleh dan menatap lekat mata anak perempuan yang bertanya itu. Saya jawab dengan hati-hati, “Iya. Kakak beragama Islam. Saya  muslim.”

“kalo orang Islam sembahyang sehari lima kali, bener ya kak?”

“Iya, benar. Kalau kalian sembahyang sehari berapa kali?” Tanya saya balik, untuk memberikan umpan atas rasa penasaran mereka.

“Tiga Kali..”

“eh, salah…” sahut seorang anak yang lain. “Empat kali.”

Saya tertawa kecil melihat mereka berdebat kecil mengenai jumlah peribadatan mereka sebagai anak-anak Hindu dalam sehari. Namun naluri saya antusias mengikuti bagaimana mereka penasaran dengan “golongan” di luar keyakinan mereka, dalam kasus ini, SAYA. 🙂

“Semua orang di kelas ini agamanya Hindu. Kecuali satu, yaitu kakak….” Anak perempuan yang mengaku berpenyakit jantung itu bertutur demikian pada saya.

Sambil mengedarkan pandang—lebih tepatnya memutar leher karena mereka benar-benar mengerubuti tubuh saya—saya berujar dengan halus, “Tapi (walau beragama Islam) kakak tetep boleh main ke sekolah kalian, kan…” sambil seulas senyum saya edarkan pada bocah-bocah penasaran itu.

“Boleh dong…” ucap anak-anak itu dengan tulus. Tentu anda tidak akan mencap ucapan terakhir mereka sebagai ucapan politik, dong…. Hehehe.. 🙂

Saya bangga. Saya merasa senang. Mereka bisa memiliki rasa penasaran. Tampaknya memang perlu praktik langsung bagaimana semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” milik negara ini bagi anak-anak sekolah semenjak dasar seperti mereka. Bahwa mereka juga Indonesia, saya juga Indonesia. Perkembangan dan prestasi, baik saya maupun anak-anak itu, adalah perkembangan dan prestasi positif bagi Indonesia. Karena kita adalah orang Indonesia. Maka mereka anak-anak Indonesia perlu diajarkan bagaimana menjadi Indonesia.

Biarlah ada sebagian yang lain mencap di luar golongan masing-masing adalah perlu dimusnahkan. Yang jelas tuntunan Nabi Muhammad dan Al-Qur’an sudah jelas. Lakum Diinukum Wa Lii Yadiin…  itulah konsep toleransi, sebagaimana yang dikutip oleh Prof. Quraish Shihab.

Ah, waktunya lanjut perjalanan dulu. Melanjutkan perjalanan di pojok-pojok Bali, Indonesia. 🙂 [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s