Ngopi Bareng Bapaknya Pak Komang

Tanggal 23 adalah pagi terakhir saya di bulan April 2014. Usai jalan-jalan sampai seputaran YONIF/900 Raider Buleleng, saya duduk selonjoran di teras rumah Pak Komang. Tak lama datanglah si Mbah, Bapaknya Pak Komang. Sambil membawa segelas kopi paginya, dia duduk di samping saya. Dua anak manusia sebaya ini lantas saling berbagi cerita (SEBAYA??????? 😀 ). Kami pun akhirnya ngopi bareng, walaupun yang saya minum adalah Teh. 😀

Komunikasi kami agak terbatas—karena beliau tidak begitu lancar berbahasa Indonesia—tapi setidaknya kami bisa nyambung. Kebiasaan saya sebagai seorang Jawa yang berbahasa krama atau bahasa Jawa halus pada orang yang lebih tua atau sudah sepuh sedikit terbantu dengan kesamaan kosakata antara Bahasa Jawa dan Bahasa Bali. Salah satunya adalah “NGGEH” yang sama-sama berarti “IYA” dalam bahasa Indonesia. Walaupun agak kurang mungkin saya ngomong ke beliau dengan bahasa krama halus, karena bisa-bisa beliau akan ngomong, “KOWE NGOMONG OPO TOH, LE……” 😀

Balik lagi ke Bapaknya Pak Komang. Beliau adalah seorang sepuh berusia kisaran tujuh puluhan. Beliau tidak tau betul berapa usianya, karena tidak memiliki catatan apapun. Lalu saya menerka-nerka, kalau usia si mbah udah tujuh puluhan, “berarti Mbah pernah hidup di jaman penjajahan Belanda?”

“O… iya..” Jawab Bapaknya Pak Komang dengan antusias. Lantas beliau menceritakan jaman Jepang. Masa itu beliau masih remaja. Masa-masa sulit dimana ia harus turut bersembunyi agar terhindar dari nasib naas disambangi peluru Wong Londho atau Jepang. Akan tetapi Bapaknya Pak Komang menambahkan Jaman Belanda dan Jepang bukanlah jaman yang mengerikan, karena ada yang lebih mengerikan. WOW. Kok gitu?????

1960-an adalah jaman yang lebih mengerikan bagi Bapaknya Pak Komang. Karena jika jaman Belanda dan Jepang bisa dibedakan mana lawan mana kawan dari perbedaan rasial, maka tahun 1960-an musuhnya adalah teman sebangsa sendiri. Beliau ceritakan bagaimana mengerikannya pembantaian lebih dari 200 orang dalam masa “Gesto” itu. Saya sendiri kurang paham apa yang dimaksud oleh Bapaknya Pak Komang dengan masa “Gesto”, barangkali yang dimaksud oleh Bapaknya Pak Komang adalah Gestapu.

Beliau juga menambahkan, jangankan untuk beraktivitas, keluar rumah saja sangat menakutkan. Karena ya itu tadi, tidak diketahui persis mana lawan mana kawan. Kejadian itu disebut Bapaknya Pak Komang sebagai perselisihan antara PNI dan PKI. Dan urusan pertikaian politik bangsa ini sudah memakan korban jiwa demi menjunjung para elit saja, darah mengucur dari dan oleh bangsa sendiri. Bagaimanapun tidak ada yang benar-benar diuntungkan dari perselisihan.

Pagi yang indah di pulau Dewata. Ditemani secangkir kopi, bisa ngopi bareng Bapaknya Pak Komang. Benar apa yang dikatakan oleh seorang Mbak-mbak di kapal penyeberangan Ketapang-Gilimanuk ketika perjalanan dari Surabaya ke Buleleng, seminggu di pulau ini serasa sebentar dan kurang puas. Ah, tak mengapa. Suatu hari saya akan kembali ke rumah Pak Komang. 🙂 [Afif E.]

Iklan

One thought on “Ngopi Bareng Bapaknya Pak Komang

  1. […] seminggu ini Bapaknya Pak Komang saya panggil MBAH!!!! Coba saja baca tulisan saya tentang “ngopi dengan Bapaknya Pak Komang”. Di situ saya masih belum sadar kalau Mbah adalah panggilan untuk nenek. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s