Pontianak, Sepit, dan Kisah Cinta di Tepian Kapuas

Adalah karya Tere Liye berjudul “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah” yang akan saya kupas dalam tulisan ini. Kisah bermula ketika Mei, seorang gadis peranakan Tionghoa, yang secara sengaja menjatuhkan angpau merah di sepit—nama perahu yang berasal dari kata speed—kepunyaan Borno, seorang pemuda Melayu. Maka kisah cinta ini diramu dengan apik oleh Tere Liye.

Menarik ‘mendengarkan’ kesibukan yang digambarkan oleh si penulis tentang rush hour di tepian Sungai Kapuas yang membelah kota Pontianak. Tak luput sejarah kota Pontianak dibabat pula oleh Tere Liye, sebuah nama kota paling aneh di dunia, Pontianak, yang sebelas-dua-belas berarti sama dengan Kuntilanak. Coba anda bayangkan, dimana letak eksotisnya nama sebuah kota jika bernama kota Pocong, kota Genderuwo, atau hantu-hantu menyeramkan lainnya. Tapi terlepas dari sejarah kota hantu Ponti ini, Tere Liye menjalin kisah cinta Borno dan Mei di atas Sepit di sungai Kapuas.

Borno yang digambarkan dalam buku berhalaman 507 lembar ini sebagai anak tepian sungai Kapuas, tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa Mei bukanlah sekedar gadis biasa, ia berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda jauh dengannya. Kesadaran itu Borno dapatkan saat pertemuannya dengan Bapak-nya Mei di Surabaya, yang “bernama nasional” Soelaiman. Nama-nama dari ‘peraturan aneh’ yang digunakan oleh setiap keturunan Tionghoa di Indonesia. Bapak Soelaiman dengan tanpa tedeng alih-alih langsung menghujamkan kalimat menukik itu pada Borno, “Jangan lagi kau bergaul dengan Mei. Kau akan membawa pengaruh buruk pada Mei!”

Tapi jalan cerita tidak sepicisan kisah Romeo-Juliet kepunyaan Shakespeare. Kenapa? Karena sekali lagi Tere Liye tidak lupa menambahkan detil-detil kehidupan tepi Kapuas, detil kisah perjalanan Borno selama di Surabaya, termasuk kisah menyedihkan Kapal Ferry penyeberangan Surabaya-Madura yang bernasib naas alias terpinggirkan oleh kehadiran Jembatan Surabaya-Madura. Berbanding lurus namun tak lurus dengan nasib Sepit yang sedikit terpinggirkan oleh kehadiran kapal Ferry di Sungai Kapuas.

Eh, Pontianak? Surabaya? Kapuas? Apa hubungan semuanya? Hehehe, baiknya anda segera membabat habis novel terbitan Gramedia ini. karena sekali lagi Tere Liye tidak akan membiarkan anda melewatkan detil-detil kisah cinta yang bermula dari angpau merah ini. selamat membaca! [Afif E.]

 

Identitas buku:

Judul: “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah”

Penulis: “Tere Liye”

Penerbit: “PT. Gramedia Pustaka Utama”

Tahun Terbit: 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s