Mbok-nya Orang Jawa dan Bali

Pertama sekali ketika saya sampai di Singaraja, Bali, saya diajak oleh Pak Komang dan keluarga keliling Singaraja. Maka terjadilah percakapan diantara kami seputar budaya selama perjalanan itu. Dimulai dari rengekan Si kecil Komang yang mengatakan ‘Mbok’. Tapi saya akan stop bagian ini, dan ingin menceritakan bagian yang lain terlebih dahulu.

Pada suatu sore saya pamit keluar dengan pinjam motor kepunyaan Pak Komang. Tujuan kepergian saya rahasiakan dari Pak Komang dan Bu Komang, saat keduanya berusaha mengorek hendak kemana saya berkendara sore-sore. Maksud hati ingin jujur, tapi apa mau dikata dan apa yang akan dikata jika saya terlalu jujur, bahwa saya hendak membeli celana dalam. 😀 ampura ya Pak dan Bu Komang. Hehehehe… 🙂

Dengan motor bebek Pak Komang, sampailah saya di sebuah TOSERBA (toko serba ada). Saya korek-korek dengan keranjingan bagian toko yang memajang komoditas celana dalam pria. Ah… akhirnya saya temukan juga yang ‘pas’ dengan ‘size’ saya.

Kesadaran saya kembali ketika ada mbak-mbak yang memanggil dari belakang, “Bli, Bli… dimana bagian sabun mandi?” ups, saya dikira yang jaga toko.

Saya beri isyarat tangan bahwa saya bukan pegawai toko. Mbak-mbak itu paham dan meminta maaf sambil lalu.

Maka saya kembali disibukkan dengan urusan celana dalam saya. (ihhhh… jorokkk!!!!! Eits, jangan pikiran kotor loh ya.. 😀 ). Saya bawa sekotak celana dalam “fresh” yang masih berbungkus kotak plastik ke kasir. Di depan antrian saya rupanya sudah ada mbak-mbak yang memanggil saya dengan ‘Bli’ tadi. Tiba giliran mbak-mbak itu yang dilayani oleh kasir, saya berada di urutan selanjutnya. Tak lama kasir dan mbak-mbak tadi melakukan transaksi. Akhirnya selesai juga. Sebelum mbak-mbak tadi berlalu, si kasir berseru, ‘terima kasih ya, Mbok….”

Hehngh? MBOK???? Saya jadi aneh sendiri. Semuda dan Sejelita itu kok dipanggil MBOK??? Wow. Maka ingatan saya kembali ke perjalanan saya bersama Pak Komang dan keluarga menggunakan mobil. Dalam mobil dimana si kecil Komang merengek, satu kata yang muncul, “Mbok saja….”

Awalnya saya kira dia merengek meminta “nenek”nya saja yang melakukan sesuatu. Tapi kemudian Bu Komang menyela dan bertanya pada saya. “Kalo mas manggil kakak perempuan apa?”

Saya jawab, “Mbak”, sebagai orang Jawa yang baik dan suka menabung. 😀

“ow… gitu ya. Beda dikit berarti. Di Bali kakak perempuan dipanggil ‘Mbok’”.

“Mbok?” saya berusaha memastikan pendengaran saya.

“iya, Mbok.” Tandas Bu Komang. “Lalu kalau ‘Mbok’ ada ya di Jawa?”

“Ada, Bu. Tapi ‘Mbok’ dalam bahasa Jawa berarti Nenek.”

Dari percakapan saya dengan Bu Komang, maka saya bisa membenarkan sikap kasir toserba tadi. Berarti dia memanggil “Mbak” jika di-jawa-kan dengan menyebut “Mbok” pada mbak-mbak tadi. 🙂 Mustahil lah gadis Bali sejelita itu dipanggil nenek-nenek… 😀 [Afif E.]

Iklan

3 thoughts on “Mbok-nya Orang Jawa dan Bali

  1. alros berkata:

    ‘Mbok’ di bahasa jawa tidak hanya terbatas sebagai sebutan untuk nenek. Tetapi juga untuk orang yang lebih tua, seperti ibu kandung, pembantu perempuan yang berusia matang, dan atau penjual jamu 😀 kapan nak Bali pip? Gak ajak2 reeeeeek

  2. Muhammad Afif Effendi berkata:

    Hehehe… bener juga ya.
    bulan April 2014 kemarin Al. 🙂 🙂 🙂

  3. […] tour, kita tidak bisa melihat mbok-mbok Bali dalam pakaian adat yang memikat hati itu di pagi hari (baca tulisan saya tentang Mbok-nya orang Bali). Uh… Geulis pisan euy… Kita kesampingkan sejenak para mbok-mbok Bali. Yang bikin saya […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s