Mencari Cahaya Hingga ke Jantung Eropa

Menyaksikan film “99 Cahaya di Langit Eropa” besutan Guntur Soeharjanto melahirkan sikap sangsi tersendiri. Pasalnya film ini dilahirkan dari buku berjudul sama karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Buku laris itu tentu digadang menjadi penambah kesuksesan filmnya. Kenapa kok pakai ada sangsi segala? Yup, sebagaimana beberapa film lainnya yang bersumber dari buku, beberapa film lainnya kurang memuaskan gambaran yang tercipta dari novel dalam benak kepala setiap pembacanya.

croissant

Scene tentang Roti Croissant dan Cappucino antara Fatma (Raline Shah) dan Hanum (Acha Septriasa). Tak sekedar roti dan biji kopi.

Sebagai gambaran awal, film ini benar-benar mengambil Eropa sebagai settingnya. Menjadi daya jualan sendiri. Gambaran-gambaran apik tentang Kota Wina, Rumah Makan Der Wiener Deewan, Arc de Triomphe di Paris hingga Menara Eiffel menjadi daya sumbang bagi film ini, membuat setiap penontonnya akan bilang, “I Will Go There!”. 🙂

poster-99-cahaya-di-langit-eropa

Dari segi pemain? Not bad. Akting Acha Septriasa dan Abimana Aryasatya bisa dibilang ciamik. Kombinasi pasangan yang pas. Beberapa karakter “dihidupkan” untuk melengkapi konflik dan interaksi, seperti Maarja, Stefan, hingga Ayse yang dituakan dari umur yang sebenarnya.

Ekspektasi saya sedikit dikecewakan dengan kehadiran pemain blesteran (baca: Indo). Sebut saja beberapa aktor dan aktris seperti Nino Fernandez, Marissa Nasution, hingga Dewi Sandra. Kehadiran mereka untuk menghadirkan karakter-karakter asing macam Stefan, Maarja, dan Marion Latimer. Lumayan mengganti, akan tetapi, andai film-film Indonesia lebih berani dan berduit dalam mengajak pemain asing untuk benar-benar menghidupkan karakter. Fatma Pasha sendiri dalam film ini diperankan oleh Raline Shah, yang tentunya tidak mungkin 100 persen menghidupkan sosok aslinya yang berdarah Turki. Mungkin paras ayu dari Raline Shah, dan para pemain indo tersebut bisa sedikit mengganti rasa kangen itu. Tapi tetap ada yang kurang. 🙂

marion

Scene Pertemuan dengan Marion (Dewi Sandra) Latimer

Beberapa hal yang berbeda antara buku dan filmnya adalah proses perkenalan dengan Marion Latimer. Dalam buku dikisahkan Hanum dan Rangga mengenal Marion dari seorang imam masjid di Kota Wina. Sedangkan di film dikisahkan Fatma lah yang mengenalkan Marion pada pasangan tersebut. Tapi untuk dinilai, so far film ini bagus! Tentu tak hanya dari segi-segi daya magis Eropa-nya. Selamat menyaksikan. Dan dapatkan sensasi, “I Will Go There!”. 🙂  [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s