Warung Kopi, Pak Jonan, Percaloan, dan Sopan Santun

Ada empat variabel dalam judul tulisan saya ini. saya akan usahakan untuk menuliskannya dalam urutan sesuai judul di atas.

Warung Kopi

Suatu malam, adalah saya di sebuah warung kopi di dekat “mulut” Jembatan Sembayat yang fenomenal itu. 😀 Malam itu si empunya warung tengah menyetel televisi yang menyiarkan acaranya Rosiana Silalahi dengan bintang tamunya Ignatius Jonan, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia. Terus terang dari tayangan itu saja saya baru tau kalau Dirut KAI adalah Pak Jonan. Dimana terobosan-terobosan telah dilakukan demi perbaikan KAI. Dalam hati sempat saya berujar, “suatu saat saya harus menulis satu artikel tentang orang ini di blog”. Maka kisah dari warung kopi tersebut berlanjut dan Alhamdulillah berwujud! 🙂

Pak Jonan

kisah ini berlanjut saat 11 September 2014 dihelat pembekalan bagi wisudawan ke-110 Kampus ITS Surabaya, dimana saya menjadi salah satu wisudawan. 🙂 Dan, anda tau??? Pak Jonan menjadi pembicara utama dalam acara pembekalan tersebut. Terlepas dari kata kebetulan atau apapun, pada akhirnya saya punya artikel yang menuliskan sesuatu terkait Pak Jonan.

Saya sempat berinteraksi dengan Pak Jonan langsung pada saat sesi tanya jawab. Sesuatu yang saya sendiri tidak sempat berpikir mau bertanya apa pada beliau. Yang jelas siang itu di gedung tumpeng ITS Surabaya (demikian sebutan Pak Habibie bagi Gedung Graha Sepuluh Nopember), panas dingin dan gemetaran lutut saya tidak bisa saya kendalikan betul. Kenapa? I’m the first questioner guys… 😀 saking gugupnya saya sendiri ragu apakah kalimat saya bisa dipahami dengan jelas, kecuali oleh orang-orang dengan potongan culun macam saya. 😀

SONY DSC

Adik saya berpose di depan “gedung tumpeng” (Grha Sepuluh Nopember ITS Surabaya). Tempat pak Jonan pada 11 September 2014 memberi pembekalan.

Ketika saya kembali ke tempat duduk (ceritanya Pak Jonan meminta saya dan penanya lainnya untuk maju ke depan ruang), saya bisikkan kepada beliau, “Pak, saya pengen salaman dengan Bapak.” Lantas Pak Jonan menepuk-nepuk pundak saya. Nhah…. Pas momen itu gak ada yang motret… 😦 😦 😦  somebody…. Please… has anyone have the picture of Pak Jonan and me?????? Sayang sekali memang… tapi suatu saat semoga bisa ber-selfie dengan Pak Jonan langsung. 😀

Percaloan

Dalam pertanyaan saya pada Pak Jonan, saya menceritakan pengalaman saya di Terminal Bus di Sidoarjo Tapi Punyanya Pemkot Surabaya. Saat akan ke Bali pada April 2014 lalu, saya tanyakan pada petugas terminal mengenai posisi parkir PO yang saya beli tiketnya.

Dikira saya belum punya tiket, petugas itu malah memanggil seorang calo dan menggiring saya ke tempat sepi. Sampai di sini saya masih belum mudeng.

“Mas ini mau ke Bali.” Seru petugas itu pada si calo.

“Mau ke kota mana, Mas?” Tanya si calo pada saya.

Lantas saya tegaskan pada si petugas sambil menunjukkan tiket, “Bapak, saya sudah punya tiket!” sambil saya ulangi pertanyaan awal saya, “Justru saya mau tanya ke Bapak, Bus PO saya ini parkirnya dimana????”

Cerita itu saya sampaikan pada Pak Jonan (sempat Pak Jonan bingung dengan prolog pertanyaan saya. Saya gunakan prolog biar kelihatan cerdas, padahal culun. 😀 ). Bahwa ternyata peran orang internal suatu organisasi menjadi faktor penentu suburnya percaloan. Saya tanyakan pada Pak Jonan, “Apa yang Bapak lakukan untuk membereskan pihak internal terkait percaloan?”

Sopan Santun

Maka Pak Jonan pun menjawab pertanyaan saya. Bahwa pegawai PT KAI harus memilih, setia pada KAI atau tetap ingin uang lebih (setia pada calo). Kalau ingin uang lebih, cari pekerjaan lain. You’re fired!

Sayangnya saya tidak bisa mendengarkan detil jawaban Pak Jonan. Kenapa? Karena ada “setan” di samping saya. Loh, kok bisa???

Iya, ada wisudawan lain yang duduk di sebelah kiri saya yang SKSD (ada baiknya sikap ini) dan terus nyerocos berargumen dan terkagum-kagum pada Pak Jonan—tapi kurang sopannya nih anak, ketika Pak Jonan menjawab sambil menghadap saya yang sudah duduk di barisan kursi kami (saya dan tuh anak), masih aja tuh anak ngajak saya ngomong. Apa loe nggak lihat ada Pak Jonan ngomong pada barisan kita????!!!

Sambil dalam hati saya menggerutu, “Koen iki Arek ITS opo gak seh??? Kok gak ngerti sopan!” (Kamu ini anak ITS apa bukan, sih??? Kok tidak mengerti sopan!). Sampai saat saya menulis artikel ini saya masih menggerutu, karena banyak sekali jawaban Pak Jonan yang terlewatkan dari pendengaran akibat nyerocosnya wisudawan di samping saya itu. Rek, rek… ojo dibaleni yo… (Rek, rek… jangan diulangi ya….). 😦

But overall, saya mau nulis pesan pada Pak Jonan. “Pak, kalo nanti jadi menteri dan Bapak butuh sekpri, tolong ingat-ingat saya ya Pak… wisudwan ITS ke-110 yang culun dan jujur ini… saya mau pak kalo jadi sekpri… atau sekedar bikin buku hariannya Bapak… “ 🙂 😀 [Afif E.]

Iklan

One thought on “Warung Kopi, Pak Jonan, Percaloan, dan Sopan Santun

  1. […] Cara beli tiketnya bagaimana? Saya lihat tidak ada banyak calo yang menjajakan tiket. #PLakKk! (baca tulisan saya tentang calo). Maka saya mulai mengawasi orang yang beli tiket di mesin tiket. Adalah bapak-bapak India dengan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s