Salah Satu Faktor Utama dalam Kebangkitan Ekonomi China

Dalam beberapa pemberitaan media massa Indonesia akhir-akhir ini, istilah China sudah diharapakan untuk ditinggalkan, menjadi istilah Tiongkok ataupun Tionghoa. Namun biar saya tetap menggunakan pilihan kata China dalam artikel ini. Tentu tanpa tudung alih isu rasis.

Tulisan saya kali ini akan membahas sekelumit dari apa yang dibahas oleh Gregory C Chow dalam bukunya “Interpreting China’s Economy” atau dalam versi bahasa Indonesia ia diberi judul “Memahami Dahsyatnya Ekonomi China”.

Tidak berlebihan memang judul buku ini dalam bahasa Indonesia. Masih segar dalam ingatan kita semua tentunya, beberapa proyek tender pembangunan di negeri kita ini diawaki langsung oleh orang-orang China.

Tak hanya itu, Chow dalam buku yang sama memberikan gambaran, atau lebih tepatnya meramal, bahwa pada 2020 PDB China akan melebihi PDB AS. Chow merujukkan data ramalannya atas dasar pertumbuhan ekonomi kedua negara dalam jangka waktu antara tahun 1998 hingga 2007. Data yang disajikan oleh Chow menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan AS cenderung di angka 2,8 persen, sebaliknya, angka pertumbuhan ekonomi China dalam jangka yang sama menunjukkan angka 8,2. What such… ?

Sebagaimana skeptisme sebagian ekonom Indonesia yang mengatakan bahwa angka pertumbuhan semacam itu tidak dapat dijadikan ukuran ekonomi riil di masyarakat. Namun sejatinya hal tersebut seperti perumpamaan menutup mata dengan tangan, namun mengintip dari celah-celahnya. Pendapat tersebut mengatakan data tersebut tidak benar, tapi kenyataannya, barang mana di pasar riil kita yang tidak dibanjiri produk asal China? Tentu kita akan tersenyum kecut sendiri. Lantas faktor apakah yang membuat ekonomi China kian menggurita dan mendunia?

Gregory Chow membuat sesi tersendiri dalam buku ini yang mengupas faktor-faktor utama kebangkitan ekonomi China. Jawaban yang dijlentrehkan oleh Chow, ialah sumber daya manusia China yang berkualitas. Dalam beberapa sesi di dalam buku, Chow seperti benar-benar mengulang-ulang penekanan ini. Bahwa manusia China pelaku ekonomi pada dasarnya adalah manusia tidak bermodal di era 1980-an. Berangkat dari kondisi yang tanpa warisan perusahaan, malah membuat mereka dapat membuktikan bangunan raksasa ekonomi.

Tidak hanya itu, pemerintah China dalam dasawarsa tersebut telah mengirimkan banyak sekali pelajar ke Luar Negerinya untuk belajar dalam berbagai bidang ilmu unggulan. Hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintah Indonesia, dan semakin gencar akhir-akhir ini. Agak berbeda dengan kondisi China, jumlah pelajar China di luar negerinya mengalahkan jauh Indonesia, hingga data dalam buku ini menunjukkan bahwa pelajar dari China adalah nomor dua setelah India dalam urutan terbanyak.

Maka tidak salah Chow mengulang betul bahwa antusiasme manusia-nya lah yang menjadi faktor utama dalam pembangunan segala segi, dalam kamus Chow, tentu dalam bidang ekonomi. Sikap proaktif, penuh imajinasi dan visi pembangunan tentu akan memberikan dampak positif, tak hanya bagi pribadi, namun juga bagi negeri. Maka hal inilah yang menjadikan China sebagai kekuatan dunia berikutnya.

Tak salah jika komedian Indonesia, Cak Lontong, membuat kutipan, “Tuhan menciptakan dunia dan seisinya, sisanya buatan China.” [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s