Perkara Teknis dan Non-Teknis dalam Urusan Administrasi

Mungkin pembaca perlu sedikit berhati-hati dan lebih telaten untuk urusan administrasi. Misalkan pengen kuliah lagi? Nah, tentu ada tuh kan berbagai macam syarat administrasi, mulai dari isian formulir a, b, c, dan sebagainya. TOEFL,  maupun sertifikat TPA.
Yang saya alami saat ini pusing urusan yang terakhir, sertifikat TPA.
Kadang-kadang masih saya dengar keluhan berbagai orang tentang, “untuk apaan sih syarat-syarat kok begitu rumit”. Buat saya sih tidak rumit, hanya kita perlu sedikit telaten saja dalam mengumpulkan syarat-syarat yang diminta. Istilah gampangnya, kalo tidak mau menuruti permintaan sekolah/ kampus yang dilamar, ya bikin saja sekolahan sendiri dengan aturan semau kita. Gampang, kan? 🙂
Balik ke urusan sertifikat TPA saya. Cerita dimulai sejak saya mengikuti tes TPA di Universitas Brawijaya pada bulan Oktober 2014. Oleh petugas dari UPP TPA (BAPPENAS), kami para peserta diberikan opsi, untuk mengalamatkan hasil tes kami, bisa ke alamat UB (berarti kita mengambil ke UB) atau ke alamat rumah kita sendiri. Saya pilih opsi untuk dikirim ke rumah saya sendiri. Sejauh pengalaman saya, alamat rumah begitu terjangkau oleh petugas pos.
Selang dua bulan kemudian, tepatnya bulan Desember 2014, orang tua saya menanyakan hasil tes TPA saya di Malang. Pertanyaan itu mengingatkan saya yang sempat lupa dengan tes TPA dua bulan sebelumnya. (betapa orang tua kita begitu perhatian pada kita… 🙂 )
Saya kontak ke Pascasarjana UB, sebagai tempat pelaksanaan. Petugas yang menerima telepon saya bilang bahwa seluruh hasil TPA pada bulan Oktober sudah terkirim ke UB, akan tetapi, untuk yang mengirimkan ke alamat rumah, UB tidak bisa mendeteksi. Lantas saya minta kontak ke UPP TPA (BAPPENAS).
Tau apa jawaban petugas UPP TPA? Ternyata sertifikat saya sudah dikirim sebulan silam (bulan November)! What!
Penerima telepon saya mengatakan bahwa di laman Pos Indonesia, penerimanya adalah saya sendiri. Waduh! Lah, kalo saya yang nerima ngapain saya pusing nyari. Lantas saya diberi nomor paket pengiriman. Saya cek memang benar demikian. Tapi kan nyatanya tidak pernah…..
Berbekal cetakan nomor paket pengiriman, saya tanyakan ke petugas pos. Katanya memang sudah nyampek rumah sebulan lalu. “LOH”???? Saya sampaikan bahwa saya maupun keluarga di rumah tidak pernah menerima satu dokumen pun.
Saya tidak tau apa yang terjadi kemudian, karena saya diminta pulang. Namun saya dapat membayangkan keributan kecil di antara petugas pos dengan temannya yang bagian mengirimkan ke rumah-rumah, mengenai komplain yang saya layangkan. Betapa komplain saya beralasan, karena dengan dokumen yang hilang itu saya butuhkan untuk berbagai persyaratan… 😦
Tak sampai satu jam, rumah saya didatangi petugas bagian pengiriman. Sambil meminta maaf dia mengatakan bahwa SEBULAN LALU dia sudah menyampaikan dokumen saya ke RUMAH TETANGGA saya! What????!!!! Dan tetangga saya pun sudah lupa. 😦
Ingatan saya menuntun saya untuk curiga, jangan-jangan petugas yang sama juga menyampaikan berkas kiriman Kedutaan Belgia untuk saya awal Januari 2014, dengan modus dan cara yang sama! Dititipkan dengan semena-mena pada orang lain yang tak dikenal. Padahal kiriman dari Kedutaan Finlandia dan kiriman-kiriman sebelumnya selalu sampai di tangan saya.
Mulut saya mengatakan pada petugas itu, “Nggak papa, mas.” sambil dalam hati merutuk, nelangsa, dan bilang, “Kok ngunu seh…” (baca: kok gitu sih….)
Mau apa dikata? Mau marah-marahin petugas itu? Ah, tidak, energi saya sudah kadung kehabisan kata-kata karena nelangsa. Hilang tenaga, hilang waktu, hilang uang. Huff…
Rutukan saya toh tidak membuat sertifikat saya itu secara ‘simsalabim’ muncul, kan? Maka saya pilih untuk memesan ulang ke UPP TPA.
Mohon jangan diulangi ya, Pak Pos…
Begitulah, betapa urusan teknis dan non-teknis untuk berbagai keperluan perlu kita siapkan jauh hari. Daripada protes ke tempat pendaftaran, kita tinggal memilih, mendirikan sekolahan sendiri sesuai aturan kita, atau kita memilih untuk telaten mengumpulkan berbagai macam persyaratan.
Semoga tulisan saya ini tidak bernilai sebagai hujat ataupun Ghibah (memperbincangkan orang). Mohon dilihat dari aspek teknis dan non-teknis dalam pengurusan hal administratif. [Afif E.]

Iklan

3 thoughts on “Perkara Teknis dan Non-Teknis dalam Urusan Administrasi

  1. […] Perkara Teknis dan Non-Teknis dalam Urusan Administrasi. […]

  2. Bamm Wahid berkata:

    Petugas pos di kecamatan njenengan memang parah pak, ane kirim draft tugas akhir ke kampus di daerah situ nyampeknya baru 4 tahun 😀

  3. Muhammad Afif Effendi berkata:

    sampeyan alamat tujuannya salah mungkin gan… 😀 😀 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s