Golongan Darah

Sepulang sekolah siang ini, adik saya yang bungsu tiba-tiba bilang, “Mas, golongan darah sampeyan apa?”
Belum sempat saya jawab, langsung ia menyambung, “golongan darahnya Mas pasti O.” sambil tertawa dalam hati, saya hanya hanya mengulum senyum di bibir. Terlebih golongan darah saya bukan O, melainkan insyaallah AB (??????).
Ungkapannya itu ia ulang pada Ibu kami yang kebetulan orang yang sama (LOH…… 😀 ).
“Buk (ibu), golongan darahnya Mas itu O.” tutur adik saya yang bungsu.
“Kok bisa tau?” Jawab ibu saya, meladeni.
“Iya, tadi kata Pak Guru, orang yang memiliki golongan darah O itu, orangnya begini.. Begini… Begini…” tururnya mengulangi ‘kata gurunya’.
Menghubung-hubungkan golongan darah seseorang dengan sifat dan pembawaannya. Geli juga mendengarnya. Sebuah cerita yang begitu obsesif ala adik saya. Hehehe 😀
Tapi saudara-saudara, saya jadi ingat kalau saya juga pernah begitu obsesif dengan yang namanya golongan darah. Pada usia yang hampir sama dengan adik saya yang bungsu itu.
Dalam suatu kelas mata pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), salah satunya terdapat penjelasan mengenai jenis dan golongan darah. Terdapat pula penjelasan bahwa ada golongan A, B, AB, dan O. Masing-masing golongan darah dapat menyumbang darah pada orang dengan golongan darah yang sama. Kecuali O, darah ini bisa disumbangkan ke semua golongan darah. Yang ‘rada apes’ adalah orang berdarah AB, karena hanya bisa menerima sumbangan dari semua golongan darah, tanpa bisa menyumbang ke selain golongan darahnya sendiri.
Walau sebenarnya golongan darah O memiliki ‘apes’ tersendiri karena tidak dapat menerima sumbangan dari golongan darah lain, akan tetapi sifat bisa memberi kesemua golongan darah inilah yang dalam pandangan saya betapa mulianya orang bergolongan darah ini.
Maka dalam hati diam-diam saya terobsesi untuk memiliki golongan darah O (kayak bisa milih aja 😀 ).
Namun alangkah kecewanya saya, ketika masa SMA tiba, dalam sebuah sesi praktikum Kimia, akhirnya saya tahu bahwa golongan darah saya AB! 😦 😀 😀 😀 😀
Hahahaha, obsesi golongan darah. Kadang geli juga obsesi adik bungsu saya akan pembahasan soal golongan darah, mengingatkan saya kembali akan jenis obsesi yang serupa. Konyol, ya? 😀 😀 😀
Perjalanan waktu yang saya alami menunjukkan bahwa obsesi, kegilaan, dan pembahasan mengacau macam ‘obsesi golongan darah’ ini akan diluruskan oleh waktu. Kadang kita merasa memiliki ide dan perasaan paling benar, sehingga tak jarang adanya pemaksaan ide, gampang menyalahkan dan meremehkan orang. Namun perjalanan waktu akan menunjukkan siapa yang benar, dan siapa yang menang. Itu! (sambil gaya kayak Mario Teguh) 😀 [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s