Haji Backpacker: Pengobatan Hati Berbiaya Tinggi

Haji_backpackerKota Bangkok di suatu malam. Mada, seorang Indonesia usai berpesta dengan temannya yang seorang kaukasia. Dalam kondisi mabuk berat, ia malah bertikai dengan geng jalanan Bangkok dan membunuh salah satu dedengkotnya. Selanjutnya ia diburu oleh anggota geng tersebut untuk dibantai. Scene di Bangkok Thailand ini menjadi awal film aktor Abimana Aryasatya. Bukan “Kota” Bangkok di Kabupaten Lamongan Jawa Timur loh… 😀 .
Film yang hampir seluruhnya berlatar di luar Indonesia ini merupakan film di tahun 2014, dan film kesekian yang menjual kisah tentang luar negeri. Sebelumnya, Abimana juga melakoni dua film “serupa” hasil adopsi dari buku karya Hanum Salsabila.
Jika dalam dua film sebelumnya Abimana berperan sebagai “suaminya” Hanum, yang seorang calon doktor, tidak demikian dalam Haji Backpacker. Mada adalah seorang sakit hati yang berusaha mengobati sakit hati akibat ditinggal lari kekasihnya di hari akad nikah. Terdamparlah ia Bangkok, dalam rangka mengobati hati. Model pengobatan hati berbiaya tinggi, menurut saya.
Secara kisah, film ini lebih menyuguhkan kisah luar negerinya. Konflik di dalamnya masih terasa numpang lewat. Saking ‘rakusnya’ mengisahkan jalan cerita di banyak negara, kisah antar tokoh terasa lalu, kecuali kisah antara Mada dan Sofia (Dewi Sandra) yang memang inti kisah sakit hati dalam film ini.
Sebut saja konflik antara Mada dan Marbel alias Maryati (Laudya Cynthia Bella). Terasa numpang lewat dan gregetnya kurang berasa. Lalu tiba-tiba saat di Yunan, Tiongkok, malah nongol wajah Laura Basuki sebagai Suchun. Eh, itu Laura Basuki atau bukan sih? (Loh? Kok malah balik nanya??).
Inilah juga sayangnya. Udah kadung ‘bondo’ kenapa nggak sekalian mendapuk pemain Tiongkok sungguhan? Disamping beberapa figuran yang memang dari orang lokal. Berbekal paras Tiongkoknya, Laura Basuki didapuk memerankan seorang muslimah Tiongkok. Kan sayang. (ah, banyak komentar nih orang! 😀 ).
Berbagai simbol maupun kekhasan dari tiap negara diambil dalam gambar film berdurasi lebih dari sejam ini. Sebut saja gapura dan Masjid Sunan Ampel Surabaya, simbol Vietnam, perbukitan dan alam Yunan, peribadatan di Tibet, kegiatan masyarakat Asia Selatan, hingga simbol utama dalam film ini, Ka’bah.
At least, two thumbs up! Diluar kekurangan yang ada, patut diapresiasi film Indonesia yang mulai bergeliat ini. Selamat menyaksikan. Saya mau berkemas, menata tas Backpack saya dulu. 🙂 [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s