Terlalu Percaya Diri

Dalam berbagai jargon, orang Indonesia dikatakan sebagai orang yang ramah. Apa iya? Kadang saya sendiri sangsi. Tentu kita tidak bisa seenaknya membikin pukul rata begitu saja. Saya yakin, ada juga kok orang Indonesia yang jutek, judes, dan acuh pada lingkungannya. Maka dari itu anjuran agar tidak men-generalisir muncul.
Begitu juga satu anjuran lain yang seolah-olah kita mengaku punya kita sendiri. Salah satunya adalah patuh pada guru. Pernah suatu kali, saya ‘didebat’ oleh seorang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi yang berbasis pesantren. Sebagai sebuah perguruan tinggi yang berbasis pesantren, tentu ajaran tentang patuh pada guru adalah suatu hal yang lumrah dikenal. Namun ada yang mengusik hati saya dari kalimat mahasiswa tersebut.
Saya sebut mengusik, kenapa? Karena mahasiswa tersebut dengan jelas mengatakan bahwa ia sadar karena berada di sebuah lingkungan pesantren, ia harus tawadlu’ atau patuh pada guru. (dosen juga guru, kan?) 🙂
See, dalam kalimatnya tersirat bahwa kepatuhan adalah kepunyaan orang pesantren. Waktu itu saya mau bantah dia dengan mengatakan, bahwa kepatuhan adalah sebuah nilai. Bukan kepunyaan orang pesantren. Nilai-nilai dasar ini diakui oleh semua umat beragama. Tidaklah monopoli suatu agama atau golongan.
Waktu itu sempat juga ingin saya katakan bahwa rekan saya yang seorang Hindu juga pernah berujar, bahwa ia tidak akan membantah apa yang dikatakan guru, sebagai rasa kepatuhan. Lihatlah, ia juga bukan orang pesantren, tapi nilai kepatuhan juga ia miliki!
Dalam satu sesi kuliah yang saya ikuti di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, seorang profesor juga berujar kurang lebih sama. Beliau mengatakan bahwa beliau ditawari untuk memimpin suatu jabatan. Namun sebagai bentuk kesopanan, beliau mendahulukan seniornya. Menurut beliau hal ini bukanlah tipikal kesopanan yang hanya dimiliki oleh Indonesia. Dimanapun negara, hal seperti ini juga dijunjung. See, contoh lain bahwa kita kadang terlalu percaya diri mengaku sebagai pemilik kesopanan, keramahan, dan kepatuhan.
Karena tentu saja kesopanan, keramahan, kepatuhan dan sikap lainnya, adalah sebuah nilai. Bukan tentang siapa yang memiliki nilai itu. Maka misal kita sopan atau patuh, tidak harus menunggu kita jadi orang pesantren, menjadi orang Indonesia, dan lainnya. It’s about the value, not about who own it. [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s