Mari Bersepakat (#1): Usia Dibawah 17 Tahun Secara Legal Belum Boleh Berkendara, Kan?

Mari bersepakat, dengan judul di atas. Benarkah saya, atau salahkah pertanyaan saya, bahwa anak dibawah usia 17 tahun belum boleh secara legal untuk berkendara motor? Setahu saya sih memang belum boleh. Tidak tau lagi kalau peraturan sudah berubah. Hehehe
Implikasi dari pembolehan anak usia sekolah untuk berkendara di jalan raya sangatlah banyak. Nomor (1), pak Polisi akhirnya menjadi pakewuh. Karena saking banyaknya siswa yang berkedara, tentu tidak akan dihadang dan ditilang satu persatu kan… Hehehe.
Implikasi nomor (2), kepala sekolah kudu muter kepala tujuh puluh kali untuk selalu memperbarui tempat parkir kendaraan bermotor. Coba bayangkan, jika satu sekolah terdapat 1000 siswa, dan 70 persennya membawa sendiri kendaraan bermotor, maka sedikitnya 700 sepeda motor/ mobil akan berjejer di halaman/ lapangan sekolahan. Lantas kalau sudah demikian, implikasi yang nomor (3) adalah MAU OLAHRAGA DIMANA??? DI DALAM KELAS???! 😀 . Implikasi nomor (4), para sopir kendaraan umum kehilangan para pelanggan setia. Implikasi nomor (5), tuh anak sekolah kadang-kadang suka ugal-ugalan secara emosional di jalan raya. Aduh, nak…. 😦
Kadang kita mikir, seberapa kuat sekolahan untuk setiap tahun memperbarui dan mungkin meningkatkan jumlah lantai parkir kendaraan? Tidak akan kuat. Ya, hanya itu jawabannya, tidak akan kuat. Pertumbuhan orang kaya baru yang mampu membeli kendaraan bermotor setiap tahun berbanding terbalik dengan kepemilikan lahan sekolah. Betul nggak pikiran ini?
Kadang kita juga mikir, bukankah salah satu sebab para siswa yang lebih memilih kendaraan pribadi ketimbang kendaraan umum, salah satunya ya karena abang sopir yang suka molor, suka ngetem lama walaupun penumpang sudah gak bisa napas karena penuh sesak.
Mungkin sudah saatnya para siswa dilarang untuk membawa kendaraan bermotor ke sekolahan. Pertama memang kita semua sudah melanggar aturan yang kita sepakati dan kita buat sendiri, bahwa anak usia dibawah 17 tahun tidak boleh berkendara sendiri. Kedua, memang pihak sekolah tidak akan pernah mampu setiap tahun menerima parkiran orang kaya baru yang tiap tahun sepedanya bertambah banyak. Ketiga, sebagai gantinya, dan sebagai penuntas rantai setan, maka kendaraan umum di tiap pelosok kampung harus dibenahi. Para sopir kendaraan umum tidak boleh lagi semena-mena dengan penumpang. Tidakkah kesewenangan para sopir juga salah satu penyebab rantai setan para siswa lebih suka kendaraan sendiri? (kalau anda adalah salah satu sopir yang tersungging dan merasa terpojok, saya minta maaf. Akan saya ikuti kehendak dan kesewenangan anda itu, AGAR RANTAI SETAN ITU TETAP TERPELIHARA 🙂 :p ).
Mari kita bersepakat, apakah pertanyaan saya ini salah, Bapak/Ibu Guru… Bapak dan Ibu para wali murid, saya sendiri…. Mari bersepakat dan berhenti saling menyalahkan. [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s