Greg Mortenson dan Tiga Cangkir Teh

Bermulakan setting cerita kegagalan pendakian puncak K2–salah satu puncak Himalaya–buku setebal 630 halaman ini dimulai. Bermula dari kegagalan itu pula, Greg Mortenson, seorang Amerika, lantas tersasar di desa Korphe, sebuah desa terpencil di Pakistan Utara. Kejadian di tahun 1993 tersebut menyentakkan tekad lelaki berbadan tinggi dan beranjak bongsor itu untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak muslim Asia Tengah, walau ia seorang nasrani! Dan sekolahnya itu murni harus dikelola oleh penduduk muslim asli di tiap-tiap desa.
Mimpi sederhananya untuk mendirikan sekolah di satu desa, alih-alih usai, malah menjadikan ‘candu’ tersendiri baginya untuk terus berkontribusi nyata. Tak hanya Pakistan, Afghanistan pun kecipratan tekad suami dari wanita bernama Tara Bishop itu. Buku yang sempat saya baca dari buku ber-titel “Three Cups of Tea” adalah buku terjemahan dari buku aslinya yang berbahasa Inggris. Namun esensi dan kisah-kisah yang begitu runut seolah mengantarkan kita pada bagaimana Mortenson benar-benar sudah mendapatkan “cangkir teh ketiga” dari warga Pakistan dan Afghanistan, sebagaimana judul buku ini.
Judul buku ini tak lepas dari pernyataan Haji Ali, salah satu tokoh dalam buku ini, yang menyatakan bahwa, “Cangkir teh pertama kita masih dianggap orang asing, pada cangkir kedua kita dianggap sebagai teman, pada cangkir ketiga engkau sudah menjadi keluarga, yang mati-matian akan dibela!” dan cangkir ketiga itu telah digenggam oleh Mortenson! Mereka dengan sikap proaktif yang bukan main-main, menyediakan diri demi misi membangun sekolah, sekalipun dari seorang mujahidin bersenjata AK47 sekalipun!
Apa yang dikatakan oleh media massa barat kepada selama ini? Yang menggambarkan bahwa mereka adalah salah satu dari kaum muslim yang melarang keras pendidikan bagi para gadis, adalah salah dan bohong besar! Dalam buku yang edisi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Penerbit Hikmah (Mizan Group) ini, Mortenson dengan habis-habisan menguliti kebohongan ini dengan cara yang cantik. Memang benar era Taliban di seputar kaum Afghani terdapat isu demikian. Tapi lihatlah, Mortenson malah mendapatkan sebaliknya. Tepat dijantung wilayah kaum mujahidin bersenjata itu, Mortenson dirangkul, didukung secara penuh atas usahanya mendirikan sekolah bagi para gadis! Jangan gampang-gampang percaya media barat ya…. *ketahuan bohongnya nih ye…. 🙂
Namun demikian, peran media massa juga penting dalam usaha Mortenson. Melalui media massa pula, Mortenson dengan kecepatan yang hampir musykil, dapat mengumpulkan dana yang jauh lebih dari cukup bagi Central Asia Institute (CAI), yayasan bagi usaha pendirian sekolah tersebut.
Apakah dalam usahanya Mortenson hanya menemui kemudahan saja? Tentu tidak. Dalam buku “berdurasi” bertahun-tahun ini, anda ‘hanya’ akan disuguhi bacaan sekitar sepuluh tahun. Pertikaian, salah paham, perang dan penculikannya pun dilalui oleh Mortenson, demi mencapai cita-cita dan visinya. Tidakkah kita semua memang dituntun oleh cita-cita dan visi? 🙂
Secara keseluruhan, buku ini wajib dibaca! Selamat membaca. [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s