Andaikan Saja Sinetron Tidak Diawali dengan Scene OSPEK

Mendapati komentar status Facebook saya oleh salah seorang teman, membuat saya bertanya sendiri. Ia menuliskan, andaikan scene awal sinetron-sinteron alay bukan tentang OSPEK dan MOS, tapi tentang PKM (baca: Program Kreativitas Mahasiswa) atau lomba karya tulis ilmiah pasti beda ceritanya. Dari situ kita jadi mikir untuk kesekian kalinya, iya juga ya.

ospek

Screen Shot Status dan Komentar

Saya yakin dari kesekian banyak pembaca adalah generasi yang tumbuh bersamaan dengan film dan sinteron yang mengandung unsur OSPEK, junior-senior, dan sebangsanya. Bisa jadi juga dengan mendapatkan cekokan cerita yang demikian, banyak dari kita yang berpikir betapa superior menjadi seorang senior. Betapa WAH menjadi panitia OSPEK, karena dapat mem-bully mahasiswa baru. Betapa keren menjadi panitia OSPEK, dapat menjadi artis sehari-semalam karena diburu dimintai tanda tangan oleh mahasiswa baru, bak artis ibukota. Sampai betapa-betapa yang lainnya.
Paling tidak gambaran “betapa-betapa” tadi kadang-kadang menjurus pada perlakuan yang berlebihan. Misalkan saja, seorang senior yang berteriak-teriak, “kenapa kamu telat ngumpulkan! Ngumpulkan tugas buat OSPEK saja nggak becus! Gimana nanti pas kuliah!” nhah… Yang beginian ini kadang saya merasa sedih. Karena jangan-jangan kebiasaan si panitia tersebut saat di kelas kuliah juga sering telat mengumpulkan tugas. Sebuah tipikal mahasiswa yang meniru dosennya yang juga sering telat. (Loh!!!!! Wah…. 😀 ).
Sebagaimana tulisan teman saya, andaikan saja sinetron diawali dengan PKM atau lomba karya tulis ilmiah. Nhah, yang bagian ini saya juga bertanya-tanya. Tentu jika yang kejadian adalah demikian, atau paling tidak bersifat konstruktif dan belajar untuk berdialog, tentu hasilnya akan bagus.
Untuk tidak mengatakan SANGAT BAGUS, paling tidak dengan awalan kuliah yang konstruktif, mengajak dan melatih dialog dan bicara di forum dengan baik, tentu hasilnya positif.
Dialog bukan berarti berdebat. Nampaknya tidak semua pihak yang berkata ingin berdialog, paham arti dialog. Mereka lebih ingin berdebat dan adu argumen. Sedangkan jika berdialog, harusnya menghargai pendapat orang lain secara terbuka. Pembelajaran ini yang perlu dikenalkan pada calon intelek Indonesia.
Ingin juga melihat suatu hari akan ada OSPEK yang konstruktif. Sebagaimana hari-hari ini di mesin media sosial ide ini mulai dihembuskan oleh seorang pemilik akun bernama AYAH. Ah… Siapa saya, kok kebanyakan komentar. Kan bukan panitia OSPEK. Hehehe… Saya cuma mau bilang selamat menjadi senior. Dan selamat menjadi junior.

NB: jangan berlebihan bagi yang menjadi senior. [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s