Dongeng Indah dari Banda Naira (?)

Kisah saya yang satu ini masih terjadi di bulan September 2015, di kota Ambon. Pagi itu saya sarapan seorang diri (menjadi orang pertama yang sarapan dari semua orang di penginapan di Diklat Agama, Ambon 😀 ). Lama saya sendiri, hingga datanglah seorang yang duduk satu meja dengan saya.
Berbasa-basi sejenak tentang nama, asal perguruan tinggi dan daerah. Rupanya mas-mas yang berasal dari Provinsi Maluku ini berasal dari Pulau Banda Naira (semoga saya tidak salah sebut nama pulau). Merupakan salah satu cabang dari sebuah PTN di pulau Ambon. Bisa jadi ia adalah sebuah kelas jauh dari si PTN ini.
Saya ikuti dan menjadi pendengar yang baik. Semua apa yang mas-mas itu ceritakan, saya dengarkan. Alih-alih saya lupa, hingga saat saya menulis artikel ini, nama si mas-mas itu!
Mendengarkan kisahnya sungguh miris, menurut saya. Ia berkuliah di sebuah kampus negeri, tapi bagi saya nampak jauh kisahnya dengan kampus negeri yang ada di Indonesia Barat. Atau malah nampak jauh juga dengan kisah adik-adik saya yang berkuliah di Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik.
Dosen Pengajar yang ada di kampus mas-mas dari Banda Naira itu, ada. Tapi, sebagai sebuah kampus yang memiliki induk, maka dosen pengajar utamanya adalah dari pulau Ambon. Maka jadilah dosen pengajar dari pulau Ambon akan datang setiap empat hari sekali.
Akses untuk ke Banda Naira, dari Ambon, adalah dengan kapal, dengan lama perjalanan tujuh jam. Maka sekalinya datang, dalam sehari full kuliah akan diisi oleh si dosen dari pulau Ambon itu. Demikian kisah mas-mas dari Banda Naira itu.
Kisah indah? Entah, silakan dimaknai sendiri. Sebagian besar dari kita mengunggulkan pendidikan gratis dan berlabel ‘negeri’. Tapi begitu melihat ukuran ‘negeri’ di Jawa dan ‘negeri’ di luar Jawa menjadikan timbangan kita jomplang.
Kisah lain datang dari guru les bahasa Inggris saya, sepulangnya dari sebuah perguruan tinggi negeri di pulau Kalimantan. Masih sama berlabel ‘negeri’, tapi kampus ini sangat minim. Listrik pun lebih sering dari jenset. Sedangkan listrik dari negara bisa dinikmati dengan “nyala bergilir”. Karena saking jarangnya listrik menyala.
Ah… Sebuah ‘dongeng indah’. Apakah cukup diatasi dengan sekali blusukan saja? [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s