Agus Zainal Arifin: Susah untuk Move On

Pro kontra terkait kurikulum pendidikan di Indonesia yang selalu berubah (baca: di-update) tentu ada hingga saat ini. Seperti juga demikian adanya dalam acara Penyusunan Kurikulum Berbasis KKNI yang terselenggara atas kerjasama LPTNU Jawa Timur dengan Fakultas Teknologi Informasi (FTIf) ITS Surabaya, pada hari Sabtu, 3 Oktober 2015, kemarin.


Pada helatan yang dihadiri oleh dosen dan pimpinan PTS se-Jawa Timur itu, dalam salah satu sesi acara yang diisi oleh Dr. Agus Zainal Arifin, S.Kom., M.Kom., Dekan FTIf ITS Surabaya, setidaknya dua orang yang kontra terhadap perubahan kurikulum memunculkan pendapatnya.
Dalam uraiannya, para penanya itu memaparkan bahwa sejauh ia memandang pendidikan di Pondok Pesantren hingga hari ini tidak terdapat tuntutan dan susunan kurikulum yang demikian mendetail macam kurikulum Perguruan Tinggi. Saking rincinya, bahkan menuliskan capaian pembelajaran. Namun demikian, masih menurut si penanya, tanpa kurikulum yang ribet, Pondok Pesantren tetap dapat meluluskan dan menghasilkan lulusan yang berhasil.

Menjawab pertanyaan itu, Pak Agus–demikian sapaan Dr. Agus Zainal Arifin–membalik dengan pertanyaan. Apa kriteria lulusan yang berhasil itu? Berprofesi apa sehingga para lulusan PTS itu diklaim si penanya sebagai lulusan yang berhasil? Sampai di sini para penanya yang mendapatkan pertanyaan balik macam itu tidak dapat menjawab. Ganti Pak Agus yang menjelaskan.
“Sebagian dari kita memang Susah untuk Move On (baca: memperbarui kurikulum),” tukas Pak Agus.
Lantas Pak Agus memberikan analogi, bagaimana seorang bayi yang ada di dalam rahim sebenarnya tidak mau keluar dari rahim. Karena sudah ada dalam zona nyaman. Semua-mua makanan tanpa perlu susah mencari, tinggal menyedot dari tubuh ibu. Lebih lanjut, Pak Agus menggambarkan bahwa tantangan pendidikan lebih kompleks lagi. Salah satu contohnya, dalam berbagai media massa, para pendalil adalah para selebriti dan penda’i yang belum tentu dalam keilmuan agamanya. Berarti yang perlu dipertanyakan, kemanakah insan sarjana dalam bidang-bidang tersebut?
Ah, bisa jadi benar kata Pak Agus. Kita-nya yang susah untuk move on. Sudah kadung enak di zona kita. Untuk berubah pun malah ogah-ogahan.
Saya jadi teringat sebuah kutipan ucapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam bukunya Pak Nuh: “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya. Sungguh mereka akan menghadapi masa yang berbeda dari masamu.”
Jika tujuan pendidikan, menurut kutipan tersebut, adalah mempersiapkan generasi mendatang dalam menghadapi masanya sendiri, maka sejatinya kurikulum harus selalu diperbarui. Karena ia bukanlah sebuah kitab suci yang tidak boleh dirubah. Ia ada dan harus berkembang untuk mempersiapkan generasi mendatang. Move on, Pak Agus! [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s