Jauh Ke Ambon, Mau Beli Batik Solo?

12022030_10206872346601415_923916279_o

Karena awam akan jenis kain daerah, saya kira baju batik yang depan itu sebagai kain khas Maluku. 😦 😀 😀 😀

Pasar Mardika Ambon, September 2015. Masih dalam rangkaian acara Expo Kewirausahaan Mahasiswa se-Indonesia yang diselenggarakan oleh DIrjen DIKTI, turut serta kontingen Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin Gresik.
Acara terakhir hari ini adalah jalan-jalan di seputaran kota Ambon, maksudnya Pasar Mardika.
Bepergian dari DIKLAT Agama Kota Ambon, kami naik angkot menuju penyeberangan Sepit atau Poka di Kota Jawa. Sesampainya di penyeberangan di dekat Pasar Mardika, segera kami naik ke darat. Hingga saya menulis ini, saya masih percaya bahwa menyeberangi Teluk Ambon adalah cara bertransportasi yang paling dekat, ketimbang bermacet ria mengelilingi pantai Teluk. Saya sendiri kurang begitu yakin mengenai keberadaan Jembatan Merah Putih saat ia bisa dilewati nanti. Ia berada di tengah Teluk, dan jauh dari rute yang saat ini kami tempuh, Kota Jawa-Pasar Mardika.
Oke, balik lagi kita bahas soal belanja kami di Pasar Mardika. Hari ini kami ingin membeli oleh-oleh yang “sangat Ambon”. Sebagian teman membeli Kaos bertuliskan Ambon Manise, Jonk Ambon, Nona Ambon, hingga Maluku Satu Darah. Kudu pintar-pintar mencari toko yang berjualan dengan harga cukup miring. Alhamdulillah saya tidak harus menawar, mengingat saya “kurang kejam” dalam menawar macam ibu-ibu di kampung saya menawar cabe seharga 1000 perak ditawar menjadi 500 rupiah. 😀
Setelah mengitari pasar, dapatlah kami sebuah toko dengan harga yang cukup miring. Dengan teman seperjalanan yang pandai menawar, ditambah kami membeli lumayan banyak, akhirnya harga cukup miring sekali. Entah kemiringannya berapa derajat. 😀
Sambil barang kami dibungkus oleh si penjual, mata saya tertuju pada satu baju batik. Saya yang awam akan berbagai jenis kain daerah, mengira bahwa batik berwarna merah itu adalah kain khas Maluku. Lantas saya tanya pada penjualnya, “Berapa harga Baju batik itu?”
“Murah itu mas. Asli Solo itu.”
Apa???!!! Asli Solo! Kyaaa… Ya masa kan saya jauh-jauh ke Ambon mau beli Batik Solo. Saya urungkan betul niat saya itu.
pengalaman serupa juga pernah saya tulis saat mendapati dodol Garut, tapi dijualnya di Lamongan. Kenapa nggak bikin saja Dodol Lamongan? Kan lebih khas. Ah, entahlah. [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s