Jeding Pareg Unduluwug

Kereta Api Logawa, 4 November 2015. Kereta tujuan akhir Purwokerto ini kutumpangi dari Stasiun Gubeng, Surabaya. Mulai berangkat pukul 9 pagi, namun belum juga meninggalkan Jawa Timur, saya sudah mati bosan. Ngantuk melanda, namun tak ada yang dikerjakan. Mata ini berkhianat saat kubuat membaca buku yang kubawa bersamaku, bawaannya ngantuk melulu. Kudengarkan obrolan dua orang ibu yang sebangku denganku.

Natasha

Hanya anak ini yang tidak tertawa gara2 Jeding Pareg Unduluwug 😀

“Sudah lama belum pernah turun hujan ya, Bu?” tutur ibu dengan si cucu.
“inggih, bu. Sudah lama sekali.” sahut ibu tanpa jilbab di sebelahku.
Entah setan dari mana, aku langsung menyahut, “Di tempat saya sudah hujan tiap hari, bu.”
Sontak kedua ibu yang sudah bercucu ini memandangku.
“Loh, nggih? Dimana itu mas?” tanya mereka, serempak.
“Di Gresik, bu.” tukasku.
“Masak, mas?” seorang ibu masih tidak percaya.
“Iya, bu. ten Jeding (di Kamar Mandi).” ucapku, memberikan antiklimaks.
Ibu yang tanpa jilbab tertawa cekikikan, sedangkan ibu yang tanpa cucu menimpali, “kalo itu nggak pakek tiap hari, sehari lebih dari tiga kali…”
Akhirnya obrolan pun mengalir. Mengingat masing-masing kami dari tiga daerah berbeda, maka kami saling bertukar istilah daerah asal.
Dalam dialek Cilacap, kata ibu dengan cucu, tidak dikenal kata “Jeding” untuk menyebut kamar mandi. Mereka menyebut kamar mandi, ya… Dengan sebutan kamar mandi. 😀
Sedangkan dialek Purwokerto mengenal kata “Jeding”, sama halnya seperti dialek Gresik-Suroboyoan. Demikian yang kutangkap dari ungkapan ibu tanpa jilbab, yang orang Purwokerto.
Diriku yang asal Gresik, malah jadi bahan guyonan, setelah kusebutkan satu istilah yang agak aneh bagi mereka, yakni kata “Pareg” yang berarti dekat. Maka istilah tersebut menjadi guyonan sepanjang kereta sampai di Stasiun Kroya, daerah di Cilacap. “Wis Pareg”, sudah dekat, goda ibu dari Cilacap, dengan berusaha menirukan dialek Gresik-Suroboyan.
Namun tunggu dulu, tak kalah kami semua tertawa terpingkal saat si ibu tanpa Jilbab mengatakan istilah “Unduluwug” untuk kali atau sungai kecil. Saya yang dari Gresik, dan ibu dari Cilacap malah menertawakan balik ada istilah macam itu.
Ah, lagi-lagi, sesama kita kadang masih kaget dan merasa lucu dengan dialek orang lain. Padahal sama-sama dari suku Jawa!
Saya rasakan tertawa kami hari itu bukan untuk melecehkan dialek lain. Tapi memang kadang kita merasa geli mendengar istilah yang tidak biasa kita gunakan sehari-hari. Salam Jeding Pareg Unduluwug. 😀 [Afif E.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s